Thursday, August 08, 2019

BARU or SUDAH

Saat kami memutuskan menikah,  kami sempat membaca tulisan seseorang tentang kata baru dan sudah.

Kelihatan sederhana penggunaan kata ini, tetapi bisa memberikan dampak berbeda secara psikologis buat kita dan pasangan.
Pernah dengar kata Newlywed atau dalam Bahasa Indonesianya Pengantin Baru? Kata ini biasa disematkan pada pasangan yang belum lama melangsungkan pernikahan, namun bagi pasangan yang pernikahannya memiliki angka tahun biasa hanya disebut sebagai pasutri.

Aku teringat artikel itu mengatakan lebih baik mengatakan bahwa pernikahan itu baru sekian tahun dari pada sudah sekian tahun. Coba kita masukan angka 2 digit. Gimana kesan yang diraskan kalau usia pernikahan itu 10 tahun?  
Misal ada yg bertanya "Kalian sudah menikah berapa lama?" 
Lalu dengan opsi pertama bisa dijawab "kami baru menikah 10 tahun ."  
Sedangkan pada opsi kedua jawabannya menjadi "Kami sudah menikah 10 tahun."

Ini kan sebetulnya pemakaian kata saja, BARU dan SUDAH, akan tetapi kesan yang membekas secara psikologis menjadi berbeda. 

Karena kata BARU mengindentifikasikan sesuatu yang masih perlu kita kenali, pahami, pelajari dan lainnya sehingga proses pembelajarannya menjadi lebih menarik karena rasa ingin tau lebih besar. 

Sedangkan kata SUDAH memberikan indikasi waktu yang cukup untuk mengambil kesimpulan sudah kenal, sudah paham, sudah belajar dan sudah2 yang lainnya, sehingga memberi kesan 'kebosanan' / 'kejenuhan' atau sudah katam, sehingga tidak perlu lagi yang namanya proses pembelajaran.

Padahal dalam hidup perubahan itu adalah sesuatu yang pasti. Kita dan pasangan akan selalu menghadapi perubahan, dan perubahan itu lah yang membuat proses pembelajaran kita didalam rumah tangga tidak akan pernah ada akhirnya. Selalu diperlukan komitmen untuk terus belajar dan berusaha bersama. 

Rintangan, cobaan dan tantangan adalah bagian dari proses yang harus kita lalui....  ingatlah selalu bahwa dia pasangan yang kita pilih, dan dihadapan Tuhan pula kita berjanji akan sehati, sejiwa, seia, sekata dalam melalui berbagai badai dalam rumah tangga sampai maut memisahkan. 
Kalau cekcok2 dengan pasangan sih mestinya sesuatu yang biasa dalam rumah tangga, itu tandanya kita masih perlu belajar dan mendekatkan diri pada pasangan dan Tuhan.... jangan ditinggalkan ya.

Nah kalau aku dan pasangan ditanya berapa usia pernikahan kalian? Kami memilih menjawab BARU menjelang 12 tahun. Kalau kamu bagaimana?

#baruorsudah #komitment #permenunganku #reunganku 

Tuesday, July 09, 2019

The VOW

Menikmati Me Time dengan menonton ulang "The Vow", film tahun 2012 yang terinspirasi dari kisah nyata seorang istri yang kehilangan ingatannya namun dapat melanjutkan hidup keluarganya secara bahagia walaupun ingatannya tidak pernah kembali.


Tokoh utama dalan film ini, diceritakan sebagai seorang yang kehilangan ingatannya, sehingga tidak dapat mengingat 5 tahun terakhir masa hidupnya sebelum ia mengalami amnesia karena kecelakaan.
Saat ingatan belum kembali, kenyataan pahit masa lalu  akhirnya terungkap, bahwa Ayahnya sempat tidak setia, dan Ibunya tetap memutuskan bertahan mendampinginya.
Ia mencoba mencari jawaban, mengapa ibunya bertahan. Jawaban sang ibu menjadi inti cerita film ini. Saat ditanya mengapa ia bertahan? Ibunya menjawab bahwa ia tidak bersedia kehilangan semua yang dia punya, rumah yang adalah keluarganya yang menjadi sumber kebahagiaan. Ia mencintai keluarga dan suaminya, dan dia memutuskan melanjutkan hidupnya bersama dengan suami dan anak2nya dengan memaafkan.


The Vow berarti janji yang kita ucapkan pada perkawinan dan biasanya diucapakn didepan pemuka agama. Dalam perkawinan Kristiani, mengucapkan janji perkawinan adalah mengikatkan diri pada commitment seumur hidup, karena perkawinan Kristiani merupakan perkawinan yang one way out dan akan berakhir saat pasangan kita berpulang pada Tuhan.


Lalu bagaimana apabila didalam perkawinan terjadi perselisihan?
Kata seorang psikolog, Perkawinan adalah tempat untuk cekok, jadi silahkan berselisih paham dan mencari solusinya bersama, tetapi bukan dengan perceraian.

Teringat akan pesan dari para pasutri yang memberikan Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) yang sekarang menjadi program Membangun Rumah Tangga (MRT) bahwa kenyataan dalam hidup perkawinan akan berbeda dari impian.
Kita harus ingat bahwa setiap individu memang berbeda, sehingga tolak ukur kita dan pasangan pun pasti berbeda.

Agar perkawinan  dapat berjalan dengan langgeng, jadilah sahabat yang dapat diajak bekerjasama bagi pasangan kita. Belajar berdamai dengan harapan2 kita ketika perkawinan tidak seindah impian kita.  Dan yang terpenting adalah memilik hati seluas samudra untuk memaafkan....memaafkan dan memaafkan.

#thevow #janjiperkawinan #forgivness #memaafkan #aplacecallhome #keluargaadalahrumah #kpp #mrt #perkawinankristiani #onewayout #commitment

Tuesday, June 11, 2019

SWEET Escape

Bogor dan Bali, Double B yang punya tempat khusus di hati kami berdua....karena keduanya adalah tempat pertama yang kami kunjungi dengan status yang berbeda, tapi uniknya tempat2 ini kami kunjungi dalam timeline yg hampir sama nyerempet2 Lebaran.

Bogor adalah tempat pertama yang kami kunjungi waktu masih berstatus teman dan Bali adalah tempat pertama yang kami kunjungi setelah bersatus pasangan.

Hobby membaca membawa aku menemukan sebuah tempat bernuansa Bali di tanah pasundan, namanya Pura Agung Jagatkarta Parahayangan , sebuah Pura di tanah sunda, tepatnya di Bogor dan kami tertarik untuk datang mengunjunginya.

Cita2 untuk pergi ketempat ini sudah ada sejak setahun yang lalu, hanya saja saat kami membaca tulisan banyak orang, kami menemukan informasi bahwa Pura ini sedang ditutup dalam tahap renovasi, sehingga kami mengurungkan niatan untuk pergi kesana.

Kesempatan tiba2 datang, saat menjelang libur lebaran, anak2 diajak kakak ipar berlibur bersama keluarganya plus kakek n neneknya, anak2 setuju untuk ikut jadilah tinggal kami berdua di rumah.

Kami tidak punya rencana untuk berlibur karena kebetulan suami juga belum benar2 recover dari kecelakaan beberapa waktu yang lalu.

Saat lebaran hari pertama sesaat setelah anak2 dijemput kakak ipar, tiba2 suami bilang "Kita jalan yuk ke Bogor." Aku tanya "Mau kemana? Wiskul?" Kebetulan kami berdua memang punya hobby wiskul. Suami bilang "Kita ke Pura yang pernah kamu share yuk." Aku bilang "Terus kesana naik apa?" Suamiku jawab "Kita naik commuter line n angkot aja disana. Kan aku gak bisa stir mobil, kasian kamu stir mobil sendiri. Bawa perlengkapan di ransel aja in case kita kemalaman n mesti cari penginapan di Bogor." Aku jawab "Oh ok, memang kamu dah packing?" Suamiku bilang "Udah nih barusan masuk ransel." Lalu aku bilang "Jadi bawa perlengkapan di ransel ya, kita backpacker nih ceritanya?" Ya sudah aku nurut aja beres2 cepat masukin keperluan pribadi kedalam ransel n than ready to go.

Dari rumah kami naik mikrolet ke stasiun tanah abang, naik commuter line jurusan Bogor.
 @CommuterLine JKT - BGR

Setelah turun di stasiun Bogor kami lanjut naik angkot tujuan BTM, dari BTM kami naik angkot tujuan Ciapus, sampai di persimpangan jalan akses menuju Pura, kami turun dan lanjut naik ojek... jalan kaki juga bisa nih cuma perjalanannya nanjak terus dan menurut tukang ojek kira2 jaraknya 5KM sampai di Pura.  Walau 5 KM bukan sesuatu yang asing bagi kami karema olahraga jalan pagi or lari pagi bahkan fun run yang kami ikuti biasanya berjarak 5KM tapi melihat medan mendaki dan bawa ransel sih kyknya belum sampai atas sudah begah duluan.

Setibanya di Pura kami ditanya oleh penjaga Pura untuk keperluan ibadah atau wisata? Disana kita diwajibkan pakai selendang. Tidak ada tarif  retribusi, kita dipersilahkan memberikan sumbangan serelanya. Sayangnya karena itu adalah waktu libur maka Pura sedang ramai2nya dikujungi untuk berdoa, sehingga untuk pengunjung umum yang tidak ada kepentingan untuk beribadah tidak diperbolehkan naik dan melihat Pura bagian atas. Jadi kami hanya boleh melihat area bawah dan sekeliling atau berisirahat di pendopo.

Didepan tangga menuju Pura utama

Pemandangan disekitar Pura 

Sambil menikmati suasana sunyi dan sejuknya udara pegunungan di sekitar Pura yang terletak di kaki Gunung Salak ini, kami memperhatikan orang2 yang datang ke Pura untuk beribadat.

Tangga menuju Pura utama
Gunung Salak sebagai background

Hindu Bali memang berbeda dengan Hindu lainnya di dunia, terlihat begitu indah berpadu dengan budaya lokal Indonesia yang melekat dalam tradisinya. Perempuan yang datang ke Pura untuk beribadat kebaya khas Bali, sedangkan yang pria menggunakan udeng dan kain, membawa persembahan dan sajen untuk beribadat dan itu mereka ajarkan pula pada anak2nya sejak masih kecil.

Sekembalinya ke Kota Bogor tanpa terasa dari satu titik ke titik lainnya untuk mencari makan di hari pertama Lebaran membuat kami memutari Kebun Raya.
Tapi Kuliner kota Bogor memang juara, sepanjang Jl. Suryakencana itu banyak banget pilihan makanan yang bisa kita nikmati baik yang Halal maupun Non Halal. Kalau pengen bisa mencicipi banyak variasi makanan, sebaiknya sharing makanan dengan teman seperjalanan kita, sehingga bisa makan bermacam2 kuliner disana.

Walaupun liburan murah dengan cara backpacker gini tapi sangat berkesan....Sweet Escape memang gak perlu mahal asal tau caranya.

#liburlebaran2019 #puraagungjagatkartaparahyangan #sweetescape #backpacker #liburanmurah #bogorserasabali