Sunday, July 05, 2020

Aku, Kamu dan DIA


Kemarin sore ikutan bicang santai yang dibawakan oleh Romo Andang dan Komunitas Choice Distrik Jakarta. Tag line-nya Kapan Kawin? Seru sharingnya.

Yang single or yang punya Pacar, sering enggak sih dapat pertanyaan ini? Tidak semua orang mengalaminya....tapi ada juga yang mengalaminya, sebenernya kenapa sih mesti nanya2? Kepo.....

Well, apapun alaskan orang bertanya.... Ya biarkanlah mereka yang 'mati penasaran'... Gak perlu ditanggapi, karena apa? Karena mereka tidak tahu apa yang kita jalani dan pergumulan apa yang kita hadapi.

Being single or being married.....
Apakah semua orang harus menikah? Gak juga sih, kenapa gak juga? karena memang sudah dari sananya ada 99% orang menikah dan 1% orang yang menjadi single... yang single ini adalah para biarawan atau mereka yang memutuskan untuk menjadi awam selibat (sumber informasi dr seminar praktisi psikolog keluarga).

Kalau kamu memutuskan untuk menikah, maka kamu harus siap dengan konsekuensi bahwa dia berbeda dengan aku.  Ya jelas beda dong... Kan yang satu cowok n yang lain cewek.... Eh bener...itu bener banget, lah ketertarikan dengan lawan jenis ini kan yang bikin kamu tertarik. Lalu membangun relasi dan memutuskan melangkah ke jenjang pernikahan, mengikatkan komitment sehidup semati. Tapi bukan cuma itu bedanya, akan banyak perbedaan lain yang kamu temui dalam pernikahan.

Kalau kemarin istilahnya Romo Andang, masa pacaraan adalah masa promo... Maksudnya apa? Mostly masa pacaraan yang kita lihat dari  pasangan kita, semuanya yang bagus2nya aja. Kalau pun ada jeleknya, ya sedikit aja dan dengan mudahnya dinisbikan.

Kalau kata pasutri di Program Discovery yang aku ikuti... kenyataan tidak seindah harapan.... Dia berbeda dari impianku. Nah ini terutama buat cewek2 yang suka baper, suka nonton drakor or baca novel romance....tolong jangan halu.. cowok romantis model itu mungkin hampir bisa dibilang gak ada. 😬😬😬

Jadi saat berumah tangga, biasanya pasangan akan tampil lebih apa adanya, segala kebaikan dan keburukan akan terpampang sejelas2nya. Gak bisa ngelak, lah tinggal aja sama2 (24jam kalau lg dirumah seharian). Hal2 yang baik akan mudah diterima, yang sulit ini kalau jelek2nya atau yang rasanya bersebrangan.

Pernah dengar rumah tangga adalah tempat buat cekcok? Loh kok tempat buat cekcok padahal kalau mau merit kita yang Katolik diwajibkan ikut Kursus Membangun Rumah Tangga (MRT).... masa artinya membangun tempat cekcok???? Hahaha bukan gitu juga maksudnya 😬😬😬

Latar belakang keluarga yang berbeda biasanya menghasilkan cara pandang dan penanganan terhadap suatu hal secara berbeda. Inilah sumber2 yang menimbulkaan friksi dalam pernikahan. Dan masih banyak hal lainnya yang bisa jadi sumber cekcok dalam pernikahan (rumah tangga).

Salah satu alasan, mengapa saat kita mengenal seseorang, sebelum melangkah lebih jauh ke pernikahan, sangat disarankan untuk memilih pasangan seiman. Agar memiliki landasan Iman yang sama sehingga dapat menguatkan dalam pernikahan. Karena dalam pernikahan adalah aku, kamu dan DIA (Tuhan).

Thursday, June 11, 2020

Pesan Rm. Sugiri, SJ. untuk Calon Mempelai.

Pagi ini, halaman beberapa WA group yang aku ikuti, diramaikan berita duka cita atas berpulangnya seorang pastor senior bernama Rm. Lambertus Martinus Van Den Heuvel Sugiri, SJ. Beliau dikenal dengan panggilan Rm. Sugiri dan bertugas di Paroki St. Theresia, Jakarta.

13 atau 14 tahun yang lalu kami (aku dan suami) pernah bertatap muka, berbicang secara langsung dengan beliau, kala itu pertemuan dilakukan untuk meminta ijin melakukan Sakramen Perkawinan di Gereja St. Theresia, karena jadwal Sakaramen Perkawinan di paroki kami, untuk tanggal pernikahan yang telah dipilih oleh keluarga telah penuh.  Gereja Theresia menjadi pilihan kedua kami, karena saya mempunyai kenangan tumbuh berkembang dalam iman dalam gereja ini, selain itu lokasinya yang tidak terlampau jauh dari paroki asal kami dan juga karena gereja Katolik dimanapun berada merupakan satu kesatuan yang utuh sehingga kita akan menemui ritual ibadah yang sama.

Tentunya sebagai calon mempelai, kami mempunyai impian akan pernikahan kami di gereja, apalagi kalau punya hobby nonton film-film drama romatis, akan banyak inspirasi datang dari sana.

Pertemuan dan perbincangan dengan Rm. Sugiri ini menjadi begitu berkesan dan tidak terlupakan bagi kami berdua, walau pada akhirnya kami tidak melakukan Sakramen Perkawinan di gereja St. Theresia tapi infomasi dan pesan yang disampaikannya menjadi seauatu yang selalu kami ingat.

Rm. Sugiri berpesan, jadikan Sakaramen Perkawinan itu sebagai sebuah awal persatuan mempelai dengan Tuhan.
1.  Tidak perlu sesuatu yang mahal terlihat fancy ataupun glamour untuk dekorasi gereja, cukup lakukan sesuai kemampuanmu, karena apapun dimata Tuhan adalah sama.  Kalau kamu merasa memiliki uang lebih berikan dalam bentuk sumbangan pada gereja akan jauh lebih bermanfaat.
2.  Tidak perlu iringan paduan suara 'ternama atau terkenal', cukup pilihlah puji-pujian yang sesuai dengan aturan dan ritual gereja.
3.  Dalam ritual Pernikahan Katolik, penyerahan kedua mempelai dilakukan orang tua dipintu gereja.  Imam akan datang menjemput mempelai di pintu gereja. Ritual ini mengajarkan nilai kesetaraan, Gereja menghargai pria dan wanita sebagai mahluk ciptaan yang setara dihadapan Tuhan.  Karena saat pria dan wanita  memutuskan menikah, maka mereka  telah memilih jalan hidupnya untuk mencintai dan membangun hidup berkeluarga.  Sehingga saat mempelai melangkah memasuki gereja bersama, Tuhan sudah menerima mereka sebagai satu keluarga. Jangan temakan romantisme film dimana mempelai perempuan diantar Ayahnya ke pada mempelai pria di depan altar, karena dimata Tuhan kita adalah sama, dan ritual mempelai diantar kepada mempelai pria bukanlah aturan gereja Katolik karena memberi kesan  mempelai wanita 'dibeli' oleh mempelai pria.

Hari ini saat mendengar kabar atas berpulangnya Rm. Sugiri ke rumah Bapa di Surga.... kami menuliskan pesan ini dalam blog kami untuk mengenang dan mengingatkan pesan dan ajarannya yang sangat berarti bagi kami.

Selamat Jalan Rm. Sugiri, SJ..... engkau sudah menang dalam nama Kristus..... doakan kami yang masih berziarah di dunia ini.

#rmsugiri #riprmsugiri #pesanuntukcalonmempelai #aturangerejakatolik

Thursday, August 08, 2019

BARU or SUDAH

Saat kami memutuskan menikah,  kami sempat membaca tulisan seseorang tentang kata baru dan sudah.

Kelihatan sederhana penggunaan kata ini, tetapi bisa memberikan dampak berbeda secara psikologis buat kita dan pasangan.
Pernah dengar kata Newlywed atau dalam Bahasa Indonesianya Pengantin Baru? Kata ini biasa disematkan pada pasangan yang belum lama melangsungkan pernikahan, namun bagi pasangan yang pernikahannya memiliki angka tahun biasa hanya disebut sebagai pasutri.

Aku teringat artikel itu mengatakan lebih baik mengatakan bahwa pernikahan itu baru sekian tahun dari pada sudah sekian tahun. Coba kita masukan angka 2 digit. Gimana kesan yang diraskan kalau usia pernikahan itu 10 tahun?  
Misal ada yg bertanya "Kalian sudah menikah berapa lama?" 
Lalu dengan opsi pertama bisa dijawab "kami baru menikah 10 tahun ."  
Sedangkan pada opsi kedua jawabannya menjadi "Kami sudah menikah 10 tahun."

Ini kan sebetulnya pemakaian kata saja, BARU dan SUDAH, akan tetapi kesan yang membekas secara psikologis menjadi berbeda. 

Karena kata BARU mengindentifikasikan sesuatu yang masih perlu kita kenali, pahami, pelajari dan lainnya sehingga proses pembelajarannya menjadi lebih menarik karena rasa ingin tau lebih besar. 

Sedangkan kata SUDAH memberikan indikasi waktu yang cukup untuk mengambil kesimpulan sudah kenal, sudah paham, sudah belajar dan sudah2 yang lainnya, sehingga memberi kesan 'kebosanan' / 'kejenuhan' atau sudah katam, sehingga tidak perlu lagi yang namanya proses pembelajaran.

Padahal dalam hidup perubahan itu adalah sesuatu yang pasti. Kita dan pasangan akan selalu menghadapi perubahan, dan perubahan itu lah yang membuat proses pembelajaran kita didalam rumah tangga tidak akan pernah ada akhirnya. Selalu diperlukan komitmen untuk terus belajar dan berusaha bersama. 

Rintangan, cobaan dan tantangan adalah bagian dari proses yang harus kita lalui....  ingatlah selalu bahwa dia pasangan yang kita pilih, dan dihadapan Tuhan pula kita berjanji akan sehati, sejiwa, seia, sekata dalam melalui berbagai badai dalam rumah tangga sampai maut memisahkan. 
Kalau cekcok2 dengan pasangan sih mestinya sesuatu yang biasa dalam rumah tangga, itu tandanya kita masih perlu belajar dan mendekatkan diri pada pasangan dan Tuhan.... jangan ditinggalkan ya.

Nah kalau aku dan pasangan ditanya berapa usia pernikahan kalian? Kami memilih menjawab BARU menjelang 12 tahun. Kalau kamu bagaimana?

#baruorsudah #komitment #permenunganku #reunganku 

Tuesday, July 09, 2019

The VOW

Menikmati Me Time dengan menonton ulang "The Vow", film tahun 2012 yang terinspirasi dari kisah nyata seorang istri yang kehilangan ingatannya namun dapat melanjutkan hidup keluarganya secara bahagia walaupun ingatannya tidak pernah kembali.


Tokoh utama dalan film ini, diceritakan sebagai seorang yang kehilangan ingatannya, sehingga tidak dapat mengingat 5 tahun terakhir masa hidupnya sebelum ia mengalami amnesia karena kecelakaan.
Saat ingatan belum kembali, kenyataan pahit masa lalu  akhirnya terungkap, bahwa Ayahnya sempat tidak setia, dan Ibunya tetap memutuskan bertahan mendampinginya.
Ia mencoba mencari jawaban, mengapa ibunya bertahan. Jawaban sang ibu menjadi inti cerita film ini. Saat ditanya mengapa ia bertahan? Ibunya menjawab bahwa ia tidak bersedia kehilangan semua yang dia punya, rumah yang adalah keluarganya yang menjadi sumber kebahagiaan. Ia mencintai keluarga dan suaminya, dan dia memutuskan melanjutkan hidupnya bersama dengan suami dan anak2nya dengan memaafkan.


The Vow berarti janji yang kita ucapkan pada perkawinan dan biasanya diucapakn didepan pemuka agama. Dalam perkawinan Kristiani, mengucapkan janji perkawinan adalah mengikatkan diri pada commitment seumur hidup, karena perkawinan Kristiani merupakan perkawinan yang one way out dan akan berakhir saat pasangan kita berpulang pada Tuhan.


Lalu bagaimana apabila didalam perkawinan terjadi perselisihan?
Kata seorang psikolog, Perkawinan adalah tempat untuk cekok, jadi silahkan berselisih paham dan mencari solusinya bersama, tetapi bukan dengan perceraian.

Teringat akan pesan dari para pasutri yang memberikan Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) yang sekarang menjadi program Membangun Rumah Tangga (MRT) bahwa kenyataan dalam hidup perkawinan akan berbeda dari impian.
Kita harus ingat bahwa setiap individu memang berbeda, sehingga tolak ukur kita dan pasangan pun pasti berbeda.

Agar perkawinan  dapat berjalan dengan langgeng, jadilah sahabat yang dapat diajak bekerjasama bagi pasangan kita. Belajar berdamai dengan harapan2 kita ketika perkawinan tidak seindah impian kita.  Dan yang terpenting adalah memilik hati seluas samudra untuk memaafkan....memaafkan dan memaafkan.

#thevow #janjiperkawinan #forgivness #memaafkan #aplacecallhome #keluargaadalahrumah #kpp #mrt #perkawinankristiani #onewayout #commitment

Tuesday, June 11, 2019

SWEET Escape

Bogor dan Bali, Double B yang punya tempat khusus di hati kami berdua....karena keduanya adalah tempat pertama yang kami kunjungi dengan status yang berbeda, tapi uniknya tempat2 ini kami kunjungi dalam timeline yg hampir sama nyerempet2 Lebaran.

Bogor adalah tempat pertama yang kami kunjungi waktu masih berstatus teman dan Bali adalah tempat pertama yang kami kunjungi setelah bersatus pasangan.

Hobby membaca membawa aku menemukan sebuah tempat bernuansa Bali di tanah pasundan, namanya Pura Agung Jagatkarta Parahayangan , sebuah Pura di tanah sunda, tepatnya di Bogor dan kami tertarik untuk datang mengunjunginya.

Cita2 untuk pergi ketempat ini sudah ada sejak setahun yang lalu, hanya saja saat kami membaca tulisan banyak orang, kami menemukan informasi bahwa Pura ini sedang ditutup dalam tahap renovasi, sehingga kami mengurungkan niatan untuk pergi kesana.

Kesempatan tiba2 datang, saat menjelang libur lebaran, anak2 diajak kakak ipar berlibur bersama keluarganya plus kakek n neneknya, anak2 setuju untuk ikut jadilah tinggal kami berdua di rumah.

Kami tidak punya rencana untuk berlibur karena kebetulan suami juga belum benar2 recover dari kecelakaan beberapa waktu yang lalu.

Saat lebaran hari pertama sesaat setelah anak2 dijemput kakak ipar, tiba2 suami bilang "Kita jalan yuk ke Bogor." Aku tanya "Mau kemana? Wiskul?" Kebetulan kami berdua memang punya hobby wiskul. Suami bilang "Kita ke Pura yang pernah kamu share yuk." Aku bilang "Terus kesana naik apa?" Suamiku jawab "Kita naik commuter line n angkot aja disana. Kan aku gak bisa stir mobil, kasian kamu stir mobil sendiri. Bawa perlengkapan di ransel aja in case kita kemalaman n mesti cari penginapan di Bogor." Aku jawab "Oh ok, memang kamu dah packing?" Suamiku bilang "Udah nih barusan masuk ransel." Lalu aku bilang "Jadi bawa perlengkapan di ransel ya, kita backpacker nih ceritanya?" Ya sudah aku nurut aja beres2 cepat masukin keperluan pribadi kedalam ransel n than ready to go.

Dari rumah kami naik mikrolet ke stasiun tanah abang, naik commuter line jurusan Bogor.
 @CommuterLine JKT - BGR

Setelah turun di stasiun Bogor kami lanjut naik angkot tujuan BTM, dari BTM kami naik angkot tujuan Ciapus, sampai di persimpangan jalan akses menuju Pura, kami turun dan lanjut naik ojek... jalan kaki juga bisa nih cuma perjalanannya nanjak terus dan menurut tukang ojek kira2 jaraknya 5KM sampai di Pura.  Walau 5 KM bukan sesuatu yang asing bagi kami karema olahraga jalan pagi or lari pagi bahkan fun run yang kami ikuti biasanya berjarak 5KM tapi melihat medan mendaki dan bawa ransel sih kyknya belum sampai atas sudah begah duluan.

Setibanya di Pura kami ditanya oleh penjaga Pura untuk keperluan ibadah atau wisata? Disana kita diwajibkan pakai selendang. Tidak ada tarif  retribusi, kita dipersilahkan memberikan sumbangan serelanya. Sayangnya karena itu adalah waktu libur maka Pura sedang ramai2nya dikujungi untuk berdoa, sehingga untuk pengunjung umum yang tidak ada kepentingan untuk beribadah tidak diperbolehkan naik dan melihat Pura bagian atas. Jadi kami hanya boleh melihat area bawah dan sekeliling atau berisirahat di pendopo.

Didepan tangga menuju Pura utama

Pemandangan disekitar Pura 

Sambil menikmati suasana sunyi dan sejuknya udara pegunungan di sekitar Pura yang terletak di kaki Gunung Salak ini, kami memperhatikan orang2 yang datang ke Pura untuk beribadat.

Tangga menuju Pura utama
Gunung Salak sebagai background

Hindu Bali memang berbeda dengan Hindu lainnya di dunia, terlihat begitu indah berpadu dengan budaya lokal Indonesia yang melekat dalam tradisinya. Perempuan yang datang ke Pura untuk beribadat kebaya khas Bali, sedangkan yang pria menggunakan udeng dan kain, membawa persembahan dan sajen untuk beribadat dan itu mereka ajarkan pula pada anak2nya sejak masih kecil.

Sekembalinya ke Kota Bogor tanpa terasa dari satu titik ke titik lainnya untuk mencari makan di hari pertama Lebaran membuat kami memutari Kebun Raya.
Tapi Kuliner kota Bogor memang juara, sepanjang Jl. Suryakencana itu banyak banget pilihan makanan yang bisa kita nikmati baik yang Halal maupun Non Halal. Kalau pengen bisa mencicipi banyak variasi makanan, sebaiknya sharing makanan dengan teman seperjalanan kita, sehingga bisa makan bermacam2 kuliner disana.

Walaupun liburan murah dengan cara backpacker gini tapi sangat berkesan....Sweet Escape memang gak perlu mahal asal tau caranya.

#liburlebaran2019 #puraagungjagatkartaparahyangan #sweetescape #backpacker #liburanmurah #bogorserasabali

Monday, July 30, 2007

Hard Rain

I’ve heard so many times from my friends or people that I know, they said, the closer we get to the Wedding day, the more pressures and conflicts that we may confront. I was once wished that the conflict will never get to us. But the fact is, we get more and more conflicts then I expected. It starts from the small stuff that we’ve talked about and we have some different perspective about how to look at the things, from there then comes the conflicts. When someone announces their intentions to marry, the usual (and desired) response is joy, excitement, and immediately going into “planning” mode. Why, then, is there so much stress?

Each of us has some expectations about what our own wedding and the months leading up to it and the years after it will be. We also have varying degrees of flexibility when it comes to change. The process of falling in love, becoming engaged, getting married, and then defining yourself as a “wife” or a “husband” and also as a couple requires a significant amount of adjustment.

Most of us are not emotionally prepared for such a momentous occasion as a wedding. Moreover, since every courtship and every wedding is different, our experience will be unique to us. The goal is not to have a stress-free wedding experience, but a wedding that is both a meaningful experience of our lifetime, and one that we and those involved can handle. Given that a wedding involves a) being asked to make a huge change in one's life; b) making both a decision and lifetime commitment; c) adjusting to our own and someone else’s family; d) being the center of attention.

From the beginning of our wedding plan, we are not expecting everything to be conflict free. Couples need to learn to expect these issues and agree on success strategies to help them work together to manage these in their relationship. Every time that I had a conflict with my fiancée, I always keep one thought in my mind that this is a part of one huge learning process where we can learn about each self.

I got to admitted that in the past few days, I feels like we’re having some real conflicts.
Sometimes I feel like I don’t understand about my fiancée, sometimes I feel like I have so much differences that appears during the wedding plan.

The most disappointed things is that, when I give you something that can be wear together and you don’t like it at all. It’s not about the design or the mistakes that appears in that, but it’s more about the times where I never give you anything so special for you though it’s hard for me to accept the denial, still I have to accepted it. Should we always bear the conflicts that we had? Should we always be like this? Where are the warmth, the love and the sincere feelings that we used to have? I just wished that soon it’ll be over and we can be back to what we used to be………..

Friday, May 18, 2007

The Proposal

Tidak terasa hari ini sudah hampir genap 1 (satu) bulan dari peristiwa penting dalam perjalanan hidup aku dan kekasihku. Inilah kilas balik perjalanan kami.

Kurang lebih sepuluh hari sebelum tanggal 22 April 2007, kekasihku menyampaikan bahwa orangtuanya bermaksud datang bertemu dengan orangtuaku untuk meminta aku dari keluargaku sebagai calon menantu keluarga mereka. Saat itu kusampaikan pada kekasihku agar menyampaikan langsung pada orangtuaku. Setelahnya keluarga kami berdua sibuk membicarakan aturan-aturan yang berlaku untuk acara lamaran tersebut. Biasalah setiap keluarga memiliki tradisi leluruh yang patut dilestarikan. Walaupun dalam beberapa hal kadang aku merasa tradisi ini sangatlah kolot dan kurang up-to-date, namun kami juga masih dapat mentoleransi tradisi tersebut

“Aku dilamar!”, begitulah petikan kalimat yang terucap pada salah satu slot iklan yang sempat terkenal beberapa waktu yang lalu, dan kalimat inilah yang bisa aku ambil sebagai gambaran peristiwa yang boleh aku alami di hari itu. Sebuah acara lamaran keluarga yang sangat kental sebagai tradisi yang berkembang buat kita orang-orang yang Asia yang mempunyai hubungan kekerabatan sangat erat dengan orangtuanya. Sangat berbeda dengan acara lamaran orang-orang barat yang biasanya tidak melibatkan orangtua sama sekali, hanya antara pasangan kekasih yang selanjutnya dilanjutkan dengan lamaran calon mempelai pria kepada keluarga calon mempelai wanita.

Aku dan kekasihku lahir dalam generasi yang berbeda dengan orang tua kami, sehingga pemikiran dan cara pandang kamipun berbeda dengan orang tua kami. Namun seiriang dengan waktu, perjalanan hidup yang aku jalani, mulai dari keluarga, teman, lingkungan kerja, pergaulan dan pengatahuan yang aku serap sepanjang perjalanan itu membuat aku menjadikan aku memiliki pemikiran yang mix antara budaya barat dan timur. Ini merupakan sebuah langkah yang sedikit bertolak belakang dengan keluarga kami, namun aku merasa cukup beruntung karena orangtuaku cukup dapat menerima perbedaan pendapat diantara kami, sehingga perbedaan pandangan diantara kami seringkali dapat kami jembatani dan kami bisa menerima pemikiran satu sama lain secara damai. Terbiasa dengan kondisi ini aku sudah berada dalam zona nyaman.

Dan hal inilah yang ternyata menjadi satu permasalahan antara aku dengan kekasihku. Ketika aku mengenalnya, aku merasa dia cukup open-minded, tetapi semakin aku mengenalnya aku dapat memahami bahwa keluarganya memiliki tradisi dan cara hidup yang lebih kolot daripada keluargaku. Tak dapat dipungkiri hal ini tercermin pada diri kekasihku, dari bagaimana dia bersikap. Pemikiran aku tentang mengadaptasi budaya barat ke dalam budaya timur juga sudah cukup sering menjadi masalah buat aku dengannya, karena dia merasa aku terlalu banyak berkiblat pada budaya barat. Padahal kalau budaya itu tidak bisa mauk pada budaya timur kami, akupun tetap berpegang teguh pada budaya timur yang sudah aku kenal dari keluargaku semenjak masa kanak-kanakku.

Secara tersirat aku sebenarnya pernah mengungkapkan impianku untuk sebuah acara lamaran yang dipersiapkan oleh kekasihku hanya untuk kami berdua, sebelum dirinya meminta orangtuanya datang menemui keluargaku. Aku rasa hampir semua perempuan memiliki impian untuk memiliki peristiwa lamaran yang romantis untuk di kenang sepanjang hidupnya. Tetapi kekasihku sepertinya tidak menangkap apa yang kusampaikan padanya, karena hingga keluarganya datang menemui orangtuaku, dia tidak pernah memberikan ‘surprise’ itu untukku. Lucunya beberapa hari sesudah acara lamaran itu, kekasihku memandangi pemberian orangtuanya yang tidak kulepas lagi semenjak mamanya memasangkannya padaku, dan dia secara tersirat mengungkapkan keinginannya untuk memiliki benda pengikat antara aku dan dia yang kuberikan padanya, entah dia sadar atau tidak akan perkataannya itu, yang pasti hati kecilku menjerit, bahwa itu adalah impian yang sama yang pernah kuungkapkan padanya namun sepertinya hilang begitu saja ditelan bumi.

Jangan katakan aku kecewa, karena buat aku sulit menemukan kata yang tepat untuk menggambarkannya? Dalam beberapa hal aku merasa dia kurang ‘romantis’. Aku pernah membicarakan hal ini dengan dirinya dan dia merasa kecewa dengan perkataanku itu, karena buat dia ada beberapa hal yang sudah dia lakukan dan dia merasa hal itu romantis, sementara aku menilainya biasa saja. Walaupun mantan kekasihku (saat ini statusnya tunaganku) tidak dapat mewujudkan impian itu tidak terwujud bukan berarti hal ini mengurangi rasa kasihku padanya.