Monday, November 27, 2006

The Falling

Sabtu, 25 November 2006.

Pagi ini sekitar jam 7.30 aku dikejutkan oleh telp kekasihku yg mengatakan akan datang berkunjung kerumahku. Aku tidak ada persiapan apa2, blm mandi, masih mengenakan baju tidur. Pada saat kekasihku tiba, ia mengejutkan aku lagi dengan membawakan sarapan buatku. Kejutan yang tentu saja sangat menyenangkanku. Pertemuan kami pagi itu tidak lama karena kekasihku harus melanjutkan perjalanan ketempat kerjanya, setidaknya aku sudah melepaskan sedikit rinduku, walaupun diantara kami berdua tidak pernah mengenal istilah cukup dalam melepaskan rindu.

Hari ini juga aku mengikuti acara misa peringatan setahun oma kekasihku. Terus terang aku gugup menghadapi hari ini, karena banyak dari keluarga kekasihku yg juga datang dalam peringatan ini. Aku menganggap di acara ini adalah merupakan suatu moment yg tepat untuk mengenal keluarga kekasihku. Harapanku, dengan mengenal mereka dan dekat dengan mereka, maka dengan sendirinya aku menganggap bahwa mereka turut mendoakan hubunganku dengan bidadariku.

Sedikit kesedihanku muncul pada saat tau bahwa orangtuaku tidak dapat ikut dalam acara ini, tapi kekasihku memberikan masukan agar tidak terlalu memaksakan orangtuaku dalam acara ini. Setidaknya keluarga kakakku sudah hadir mewakili orangtuaku.

Selama acara berlangsung, aku tidak dapat melepaskan pikiranku tentang hubungan kekasihku dan keluarganya dengan sang oma yang begitu dekat. Saat aku membantu untuk membuatkan dokumentasi memoir dari sang oma, aku melihat begitu banyak kenangan-kenangan yg indah bagi mereka yang dihabiskan dengan sang oma. Sebuah hubungan kekeluargaan yang begitu erat dan kental diantara mereka. Sebuah hubungan yang tidak dapat dipisahkan oleh jarak, waktu, tempat atau apapun juga.

Saat acara mulai berakhir, seperti biasa, aku begitu terasa berat untuk berpisah dengan kekasihku. Aku sangat mencintai kekasihku, perasaan yang belum pernah menghinggapi diriku selama ini, jatuh cinta.....

Sebenarnya aku ingin ikut menghabisi malam itu bersama kekasihku dirumahnya, tapi aku ingin memberikan waktu untuk kekasihku berbagi cerita dan rindu dengan keluarganya.

Bidadariku,
biarkan waktu yang akan membuktikan semua perasaan, cinta dan kasih yang kita miliki saat ini.
Biarkan doa kita tetap mengalir kepada Bapa, agar tetap erat mengikatkan tali kasih yang kita miliki saat ini.
Biarkan Tuhan yang mengatur akhir yang terbaik untuk kita, biarkan Ia yang menentukan segala yang terbaik untuk kita.
Tugas kita adalah untuk tetap menjaga kasih dan cinta yang kita miliki saat ini agar selalu tetap berpegang teguh dengan commitment kita yang sudah pernah kita ucapkan didepan Bunda Maria dan Allah Bapa.

I love you so much, with all my heart and my soul.....

My one-winged angel.....

Saturday, November 25, 2006

One Month

Hari ini hubunganku dengan kekasihku genap berusia satu bulan. Usia satu bulan biasanya merupakan usia penting untuk baby yang baru saja dilahirkan, sebuah awal dan harapan hal-hal baik akan menyertai anak tersebut dikemudian hari. Demikian juga dengan hubungan aku dengan kekasihku.....kami memiliki harapan besar bahwa hubungan kami akan berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi, sebuah persatuan kasih dalam ikatan suci pernikahan di altar gereja, yang merupakan awal dan landasan keluarga beriman, segitiga Kasih antara Tuhan, Suami dan Istri.

Hubungan kami jikalau dihitung dengan jumlah bulan ataupun hari yang boleh kami lewati bersama, rasanya memang terbilang masih sangat muda. Orang mungkin bisa menilai belum juga seumur jagung, pastilah saat ini masih sedang menikmati bagian-bagian indah dari hubungan tersebut. Belum menemukan permasalahan yang berarti dan belum ada bahan-bahan pertengkaran. Kami tidak terlalu mau mempedulikan kata-kata atupun pandangan orang lain atas hubungan kami, kami tahu bahwa usia hubungan kami baru satu bulan, tapi kami sudah melewati banyak hal yang kami bagi bersama dan rasanya hubungan ini sudah kami jalanin dalam rentan waktu yang cukup lama. Aku merasa begitu mengenal dirinya, demikian pula dengan apa yang dia rasakan padaku. Sehingga kami berdua berani untuk memberikan komitment penuh pada hubungan yang kami jalani ini. Ada kemantapan di hati kami berdua yang tidak dapat kami jabarkan atau tuangkan dalam kata-kata, cukup kami berdua yang merasakan di dalam hati kami masing-masing.

Kami tidak memiliki rencana untuk memperingati satu bulan ini, tapi mungkin Tuhan memiliki rencana lain, karena jauh sebelum aku menetapkan hati untuk menjalani hubungan dengan kekasihku ini, kami sekeluarga telah sepakat untuk memperingati satu tahun meninggalnya oma kami terkasih pada tanggal 25 November 2006. Dan hari ini begitu bertepatan antara peringatan satu tahun oma dengan perjalanan kasih kami yang sudah kami jalani selama satu bulan. Yang membuat aku sangat terkesan adalah kekasihku mau terlibat secara mendalam dalam persiapan acara peringatan satu tahun meninggalnya oma ini. Aku jadi memiliki banyak waktu untuk berbagi dengannya. Dia katakan bagilah bebanmu kepadaku, aku akan membantu meringankan bebanmu. Dan hal itu bukan hanya perkataan semata, tapi disertainya dengan tindakan. Beberapa hari sebelum hari H, aku menyampaikan segala hal yang belum selesai kami persiapkan dan mulai dari situ dia memikirkan cara terbaik untuk membantu aku.

Tahun pertamanya sendiri seharusnya jatuh pada hari Senin, 20 November 2006. Pada hari itu kami masih melakukan tradisi keluarga kami memanjatkan doa-doa kepada Ema dengan tata cara keluarga yang sudah kami warisi secara turun termurun.

Hari senin 20/11/2006 itu aku datang ke kantor dengan membawa laptop kakakku agar pada waktu istirahat makan siang aku dapat memperbaiki teks Misa yang harus kami persiapkan untuk Misa hari sabtunya. Dan siang itu aku sudah berhasil memperbaiki sebagian besar dari teks Misa itu.

Ada berbagai perasaan yang sangat mengganggu aku pada hari itu, bukan karena pekerjaanku yang masih sangat banyak, tapi karena aku terkenang dengan memori yang aku miliki bersama dengan Ema. Hari itu akhirnya aku kirimkan SMS pada kekasihku, kukatakan padanya bahwa aku ingin bertemu dengannya. Sekembalinya dari kantor aku mampir di kantornya, kami hanya terlibat dalam pembicaraan ringan saja. Hingga akhirnya aku membuka file teks Misa, peringatan 100 Hari Ema.

Aku katakan pada kekasihku ini prihal Inspiring Story yang pernah dibacanya di Blog pribadiku, aku bilang mungkin tidak cukup berarti bagi orang lain, tapi sangat berarti buat aku. Aku kemudian mengatakan bahwa pada teks misa peringatan 100 Hari Ema itu sangat jelas kami menuliskan sesuatu yang membuat cerita itu jadi lebih bermakna. Aku kemudian membacakan tulisan yang pernah aku dan sepupuku susun disana, tanpa sadar mataku mulai berkaca-kaca dan suaraku mulai parau… kekasihku menangkap perubahan sikapku dan dia kemudian memutar kursi tempat aku duduk dan menemukan diriku sedang menangis. Direngkuhnya tubuhku dan dibiarkannya aku menangis di pundaknya dalam pelukannya. Aku merasa aman dengannya sebagian bebanku terangkat setelah aku menangis dalam pelukannya.

Jikalau dalam doa-doa yang aku panjatkan kepada Tuhan, sebelum aku bertemu dengannya aku seringkali melantunkan litani doa dari Prayer for Lifetime Partner. Pada dirinyalah kutemukan 'seseorang' yang kudoakan untuk menjadi 'sahabat dan penolong' dalam hidupku.

Thursday, November 23, 2006

A Promise

Jesus said: Do not be anxious about your life...
Your Father in heaven knows what you need.
Do not worry about tomorrow: tomorrow will take care of itself.
(Mt 6:25-34)


Aku tidak tau harus memulai darimana untuk menulis blog yg sudah didedikasikan oleh kekasihku, karena aku belum pernah melakukan pengalaman seperti ini. Tapi, aku berfikir bahwa aku harus bisa untuk menuangkan segala isi hatiku kedalam sebuah tulisan dalam blog ini, untuk kekasihku.

Dalam perjalanan hidupku, aku belum pernah sekalipun merasakan perasaan yg saat ini aku rasakan. Bersama kekasihku, aku mengalami hidup yg jauh berbeda. Suatu perasaan dimana aku bisa menuangkan segala kegalauan hatiku, segala pikiranku dan berbagi dengan kekasihku ... sebuah hubungan yg penuh dengan keterbukaan, ketulusan, kejujuran ... suatu ikatan yg sangat erat antara aku dan kekasihku.

Sejak aku mengawali hubunganku dengan kekasihku, aku sudah pernah mengatakan padanya bahwa, kalau kita ingin memulai suatu hubungan yg serius, kita harus dilandasi dengan suatu
commitment antara kita berdua, dan kita harus saling berjanji untuk berpegang teguh satu sama lain untuk mempertahankan commitment ini hingga kami tiba di altar Tuhan. Sebuah hubungan yg belum pernah terjamah dalam pikiranku. Setelah kami mulai dengan commitment kami, aku sama sekali tidak pernah berfikir bahwa, suatu hubungan seperti apapun, pasti ada badai yg akan menghadang, sebuah ujian yg akan membuktikan kelak, seberapa besar kekuatan cinta yg ada pada hubungan kami. Tapi aku yakin, bagaimanapun besarnya badai yg akan menerpa kami, selama kami tetap berpegang teguh dengan apa yg kami yakini selama ini tentang True Commitment, kami akan bisa mengatasi segala masalah yg datang. Aku pernah mengatakan kepada kekasihku, agar kami dapat mengatasi masalah yg kami hadapi, apapun yg terjadi, kami harus selalu menghadapinya bersama dan terbuka satu sama lain. Aku yakin akan kekuatan cinta kami, dan aku yakin dibalik segala kesulitan dan badai yg menghadang kami, selama kami tetap berada di jalan Tuhan, akan ada pelangi indah yg menanti kami.

Setiap manusia menjalani hidup ini hanya sekali, maka, aku akan melakukan hal yg terbaik dalam hidupku dengan segenap jiwa dan ragaku, karena aku tidak akan melewati hidup ini lagi.

God did not promise a day without pain,
laughter without sorrow,
or sun without rain.
But, God did promise strength for the day,
comfort for the tears, and a light for the way
and for all who believe in His Kingdom above.
He answer their faith everlasting love.


Dearest Love,
Always have faith in us,
Always have hope in us,
Always grow your heart in my heart,
until the day we spread our wings and fly together ...
my one-winged angel ...

Tuesday, November 21, 2006

Pacaran & Pernikahan

Welcome Lovers - Discovery
"Selamatkan pernikahan sebelum pernikahan itu dimulai"

Aku tidak ingat dengan pasti, namun kalau aku tidak salah ingat, waktu itu tanggal 12 November 2006, saat koko angkatku menghubungi aku lewat SMS dan memberikan saran agar aku dan kekasihku mengikuti sebuah program pengenalan pasangan yang bertajuk Discovery. Aku mencoba untuk memperoleh keterangan lebih lanjut mengenai program ini, tetapi dia tidak mau memberikan penjelasan lebih detail, dia hanya bilang seperti ini "Ikut saja...pokoknya bagus, makanya aku saranin sama kamu!"

Perkataan koko angkatku ini seolah-olah menghipnotis aku dan anehnya kekasihku tampak sangat tertarik dari awal ketika aku menyampaikan isi SMS tersebut dan pembicaraan aku dengan koko angkatku. Akhirnya kami berdua sepakat untuk mengikuti program tersebut dan meminta bantuan koko angkatku untuk mendaftarkannya. Hingga detik-detik terakhir saat aku menghubungi koko angkatku menanyakan prihal pendaftaran tersebut, dia baru teringat dan berjanji untuk segera menghubungi pihak panitia. Ternyata pihak panitia mau aku sendiri yang menghubungi mereka, maka kuhubungi mereka dan kami berdua diperbolehkan turut dalam program tersebut.

Aku sempat khawatir saat di minggu yang sama kekasihku jatuh sakit. Aku sempat mengatakan kepadanya untuk menunda keikutsertaan kami dalam program tersebut, namun dia menolak, dikatakannya bahwa dia pasti sembuh pada waktunya. Dan memang demikian tekadnya sangat besar untuk tidak kehilangan kesempatan ini.

Pagi itu...tanggal 19 November 2006, aku bertemu dengan kekasihku di sebuah taman dekat kompleks perumahan kami, kubawakan bubur special yang sengaja aku buat untuk dia dan keluargaku. Aku bisa melihat wajahnya sangat senang dengan makan pagi yang aku sediakan untuknya, lalu kamipun berangkat bersama. Di halaman parkir gereja barulah dia menyantap sarapan pagi tersebut, pada saat aku melihatnya makan timbul keinginanku untuk memanjakannya, kuambil mangkok bubur itu dari tangannya dan mulai kusuapi dia, sambil sekali-kali akupun turut menikmati bubur itu. Pada saat itulah aku melihat spanduk program acara yang akan kami ikuti, tulisannya seperti ini : Welcome Lovers - Discovery " Selamatkan pernikahan sebelum pernikahan itu dimulai." Aku sempat kaget loh sepertinya program ini dikhususkan bagi yang sudah mau married, karena walaupun pembicaraan diantara kami sudah mencapai ke jenjang itu, namun belum ada kepastian, sehingga rasanya pernikahan itu belum dalam waktu dekat akan kami mulai. Tapi aku pikir pasti program ini akan berguna, apalagi jika membaca tema yang mau disampaikannya, kalaupun pernikahan kami masih dalam kerangka rencana tapi pasti isi program ini nantinya akan berguna bagi kami.

Program ini diawali dengan perkenalan, bagimana masing-masing peserta memanggil pasangannya dan apa yang di kagumi dari diri pasangannya tersebut. Lalu barulah session demi session bergulir dari memahami apa artinya cinta, siapa diriku/pasanganku, latar belakang keluargaku/keluarga pasanganku, harapanku/harapan pasanganku dalam pernikahan, komunikasi dan seksualitas. Hampir semua hal yang menjadi materi pembahasan dalam program ini pernah aku bahas dengan kekasihku. Hanya beberapa point yang tidak sempat terpikir dan muncul dalam pertanyaan-pertanyaan dalam beberapa session menjadi temuan baru bagi kami yang membuat kami berdua lebih memahami satu sama lain.

Melalui program ini kami menemukan bahwa diri kami memiliki banyak kecocokan, apabila terdapat perbedaan, pada umumnya hanyalah perbedaan persepsi atau perbedaan sudut pandang namun pemikiran dan hasil akhirnya tetap sama.

Program ini juga mencoba untuk membuka hati dan pikiran kita bahwa, masa pacaran ≠ pernikahan. Kalau semasa pacaran kita mungkin hanya menangkap kulit luarnya saja namun dalam pernikahan dari kulit luar hingga jeroannya kita akan mengalaminya, baik hal yang mungkin menyenangkan maupun tidak. Adalah penting bagi kita untuk menanamkan pemahaman bahwa pasangan hidup kita yang sangat kita kasihi adalah seseorang dengan pribadi yang unik. Sehingga sangatlah penting untuk memahami keunikan dari masing-masing pribadi yang terbentuk dari latar belakang kehidupannya, menerima dan bertolerasi atas 'keunikan' tersebut. Dan untuk itu semua dibutuhkan keterbukaan satu sama lain.

Aku dan kekasihku berkeinginan untuk memiliki pernikahan yang sama mesranya seperti saat kami pacaran. Menjaga cinta kami selamanya.

Sunday, November 19, 2006

Kekecewaanku

Semalam kami mengikuti kejuaraan Youth antar gereja yang kemudian diakhiri dengan Misa kudus. Pengumuman pemenang dari rangkaian perlombaan yang ada diumumkan di dalam misa pada rangkaian pengumuman. Luapan kegembiraan setiap peserta yang berhasil memenangkan setiap perlombaan terdengar sangat keras memecah keheningan ruang gereja, hingga sepertinya kita sudah tidak berada dalam rangkaian liturgis lagi dan setiap orang sepertinya sudah lupa dimana mereka berada dan dalam kegiatan seperti apa yang saat itu sedang dilakukan.

Mungkin cukup wajar apabila semua orang lupa akan segalanya, karena terlalu bergembira dan berbahagia, namun pikiran itu tidak dapat mempengaruhi diriku yang melihat tingkah pola pasanganku dengan teman-temannya yang juga terbawa suasana. Aku tidak menegurnya saat itu namun hati kecilku merasa sebal dan kecewa, atas tingkah pola yang dilakukannya.

Sepulang dari acara itu, akupun berkata bahwa ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadanya. Dia terdiam saat mendengar perkataanku dan aku juga butuh waktu untuk menenangkan diri dan mulai menyampaikan kekecewaanku atas tingkah pola dia yang tidak aku sukai. Dia diam, dan kemudian mencoba menyampaikan argumennya, aku tidak banyak berbicara. Kami kemudian terdiam dan aku katakan padanya, sesuai dengan kesepakatan diantara kita bahwa kita harus saling terbuka “Speak your Mind!” dan hal itulah yang yang aku lakukan.

Kamipun kemudian berpisah, dia masih menghabiskan malam itu dengan teman-temannya, sementara aku pulang ke rumah. Aku merasa lega karena aku sudah menyampaikan kekecewaanku kepadanya, walaupun aku merasa tidak cukup yakin kalau dia memperhatikan kekecewaanku, ditambah lagi dia masih berkumpul dengan teman-temannya malam itu, rasanya sangat tidak mungkin dia sempat memikirkan perkataanku.

Saat aku memiliki pikiran itu, tiba-tiba dia mengirimkan SMS kepadaku yang intinya adalah dia minta maaf karena dia lost control dan menyebabkan aku mengalami kekecewaan. Dia berharap bahwa itu tidak mempengaruhi perasaan aku, dia merasa kecewa terhadap dirinya sendiri dan dia berterima kasih atas kejujuranku dan mau membaginya dengan dirinya. Aku tidak menjawab SMS-nya karena perasaan kesalku belum sepenuhnya hilang, kubiarkan smsnya sampai dia mengirimkan SMS lagi karena menanyakan SMS nya dan mengapa belum aku jawab. Aku katakan nanti aku akan menjawabnya.

Sepulang dari berkumpul dengan teman-temannya dia menghubungi aku lewat telepon, suasana hatiku sudah tenang, aku sudah tidak kesal ataupun sebal lagi. Kamipun mulai berkomunikasi, walaupun kami tidak saling melihat namun kami berusaha untuk meluruskan masalah yang ada sebelum kami beristirahat, dan kamipun berhasil mengatasi masalah tersebut. Aku dan dia memahami betapa berartinya keterbukaan di dalam membangun sebuah relasi.

Saturday, November 18, 2006

Ulang Tahun Kekasihku

Jumat, 10 November 2006 adalah hari ulang tahun kekasihku, sekaligus hari yang sangat berharga untuk kami, sebab ini adalah moment penting pertama yang boleh kami rayakan bersama.

Aku sangat memahami bagaimana dia menantikan hari besarnya ini, sebab beberapa hari yang lalu dia mengungkapkannya kepadaku bahwa hari Jumat rasanya masih lama sekali hanya untuk mencicipi masakan yang aku buat sendiri.

Dia sudah membuat aku terharu semenjak seminggu yang lalu saat dia katakan bahwa dia tidak mengharapkan kado apapun dari aku, yang dia inginkan adalah dapat makan masakan aku bukan hasil karya orang lain. Jadi kado yang dia minta adalah masakan aku yang harus dibuatkan untuk dia di hari istimewanya. Hal ini sebenarnya membuat aku bingung mengingat memasak merupakan salah satu hobiku tapi aku juga bukan seorang koki yang handal, karena masakanku pada umumnya berasal dari resep turun temurun yang aku peroleh sebagai warisan dari nenek dan ibuku. Aku memang bisa membuat beberapa menu istimewa yang baik nenek maupun Ibuku tidak bisa membuatnya, tapi tetap saja hal ini membuat aku bingung saat menentukan menu apa yang paling tepat untuk disajikan.

Adik-adik kami di gereja, memberikan perhatian besar akan hari besar kekasihku ini, maklumlah kekasihku ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan mereka, aku melihat dirinya memiliki KASIH yang besar terhadap adik-adik kami ini dari bentuk-bentuk perhatian dan waktu yang dibaginya dengan adik-adik ini.

Adik-adik kami ini kemudian menghubungi aku dan menawarkan untuk membuat moment itu menjadi sebuah kenangan yang tidak terlupakan. Mereka melontarkan ide untuk membuatkan kami candle light dinner di alam terbuka di lantai 3 sebuah gedung di komplek rumah tinggal kami. Aku menyambut ide mereka itu secara antusias, karena kebetulan aku sendiri sedang mencari cara agar kami berdua dapat merasakan masakanku dalam suasana yang berbeda.

Adik-adik kami mulai menyampaikan konsep yang mereka buat, kemudian aku memberikan sedikit arahan perubahan-perubahan ataupun tambahan sesuai dengan keinginanku. Hingga H minus 3 semua persiapan sudah cukup matang tinggal mereka mempersiapkan semuanya pada hari Kamis dan hari Jumat aku harus bermain sandiwara seolah-olah aku tidak dapat berbagi moment ini dengannya. Aku tau dia pasti kecewa, tapi itulah konsep yang aku dan adik-adik kami persiapkan, adik-adik akan mengajak dia ke meeting point untuk candle light dinner itu and surprise…. surprise I'm waiting for him there.

Hari itu akupun mempersiapkan menu makan malam yang akan disajikan, tapi perasaaan hatiku galau, akupun mengirimkan SMS kepada salah satu adik-adik kami, kukatakan bahwa aku merasa tidak tenang. Adikku bilang jangan terbawa emosi.

Detik-detik persiapan akhir aku sudah bersiap di tempat itu, sempat terlontar dari mulutku bahwa aku khawatir dia tidak datang, detik-detik terakhir itu membuat suasana hatiku semakin tidak menentu, apalagi ditambah dengan adanya kendala-kendala kecil yang kita hadapi.

Akhirnya dia datang, dan kamipun mulai menjalankan ‘aksi’ yang sebelumnya sudah kami persiapkan. Ketika dia datang, aku malahan yang merasa memperoleh surprise darinya, karena aku sudah bersiap untuk kemungkinan yang terburuk namun dia datang dengan kejutan istimewa.

Candle light dinner pun segera dimulai, hingga kejutan-kejutan lainnya datang satu persatu menghampirinya. Pada saat kutanyakan, “Do you like it?” Dia menjawab, “ I don’t like it, but I love it.” Aku sangat terharu dibuatnya….pada saat kami berbagi moment itu, dia mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah tau bahwa aku mempersiapkan sesuatu untuknya, namun setting acara, menu dan segala sesuatunya tetap menjadi surprise untuk dirinya. Katanya ini merupakan ulang tahun terindah yang pernah dia miliki selama ini. Aku sangat senang dengan ungkapan kebahagiaannya, karena aku bisa menjadi bagian didalam kebahagiannya.

Mengapa Blog ini dibuat?

Blog ini dibuat terinspirasi dari Fiksi buah pena Marga T. dengan judul BUKAN IMPIAN SEMUSIM, yang berkisah tentang KASIH yang sangat besar yang dimiliki oleh sepasang suami istri yang dipersatukan di dalam nama TUHAN. Ketika kata-kata tidak dapat meluncur dari mulut untuk menyampaikan 'permasalahan' yang ada, maka tulisan dalam Diary milik mereka bedua menjadi jembatan komunikasi diantara mereka.

Blog ini didedikasikan untuk KASIH yang boleh Tuhan hadirkan diantara aku dan kekasihku. Kami berdua percaya bahwa KASIH yang kami miliki BUKAN IMPIAN SEMUSIM, melainkan IMPIAN kami yang nyata, sehingga kami yakin untuk mengikatkan diri kami dalam TRUE COMMITMENT di dalam persatuan dengan TUHAN.