Sejujurnya aku mau katakan, akhir tahun ini adalah saat-saat yang penuh berkat dan anugrah yang berlimpah buat hidupku. Mulai pertemuanku dengan kekasihku, saat-saat yang kami bagi bersama, masalah-masalah yang datang dan pergi yang kami hadapi bersama, semua adalah saat-saat terindah dan yang belum pernah kualami dalam hidupku. Aku merasakan semua perjalanan hidupku bersama kekasihku adalah bagian kecil dari sebuah rencana indah yang besar yang menunggu kami.
Pertama kalinya aku menghabiskan hari Natal pada tahun ini bersama kekasihku dan keluarganya yang begitu menerima aku dengan hangat. Sebelumnya kami sudah merencanakan untuk menghabiskan saat-saat Natal dengan bersama. Sebenarnya aku mempunyai kejutan u ntuk kekasihku, tetapi setelah mendengar kabar dari temanku, akhirnya aku hanya bisa menerima dengan sedikit kekecewaan bahwa aku tidak bisa memberikan kejutan untuk kekasihku. Natal tahun ini merupakan hari Natal pertama yang bisa aku bagi bersama dengan kekasihku, juga merupakan genapnya 2 bulan perjalanan kami.
Pada hari Jumat, 22 Desember 2006, aku mengikuti acara Year-end Dinner yang diikuti oleh kantorku. Sebenarnya hari itu aku ingin lebih memilih menghabiskan malam bersama kekasihku, tapi dengan adanya acara ini dan kekasihkupun mengikuti rapat, jadi aku hanya bisa berharap sedikit. Selesai acara aku pulang dengan teman kantorku. Malam itu masih turun gerimis kecil, rasa kangenku masih menghinggapiku, lalu aku tetap menemui kekasihku dirumahnya dengan dibasahi oleh gerimis. Malam itu aku hanya bisa menemui dia didepan pagar rumahnya dan kekasihku menemuiku diatas balkon rumahnya. Kami mengobrol dengan menggunakan ponsel sambil saling bertatapan dari atas balkonnya. Saat itu aku sudah cukup puas dengan memandang wajah kekasihku dan mengobrol dengan ponsel walau harus diguyur hujan.
Keesokan harinya aku sudah merencanakan untuk menghabiskan hari kami dengan pergi ke rumah kami di Cibubur untuk melihat progres pembangunannya. Sebelumnya kami berdua pergi ke sebuah tempat untuk melihat-lihat gaun pengantin yang akan kami gunakan nanti saat kami menikah. Pada saat aku melihat kekasihku mencoba beberapa gaun, aku merasa, baru kali ini aku menemani dan menyaksikan seseorang yang sangat aku cintai mencoba gaun yang akan kami gunakan pada saat nanti kami menikah. Gaun itu tidak akan bertambah indah jika tidak dikenakan oleh orang yang cantik, orang yang aku sayangi. Padahal selama ini jika temanku ada yang meminta aku untuk menjadi pendamping aku tidak pernah merasakan apa-apa. Aku ingat akan perkataan kekasihku, ia menanyakan tentang kado Natal buatku. Aku bilang aku tidak mau minta apapun darinya, aku hanya ingin peneguhan kembali True Commitment kami pada hari Natal, agar kami selalu teringat akan segala janji, ikatan, dan segala perasaan kami saat ini agar bisa kami bawa selalu seterusnya dalam hidup kami.
Misa Natal kemarin tadinya aku berharap dapat berdampingan dengan kekasihku, tapi apa boleh buat karena kekasihku harus bertugas koor. Aku duduk bersama keluarga kekasihku dan hanya bisa menatap kekasihku dari kejauhan. Sepulangnya misa aku diundang makan malam bersama keluarganya dengan waktu yang bersamaan pula, kakakku mengundang kekasihku untuk dapat makan bersama. Jadi aku hanya bisa makan sedikit dirumahnya lalu aku lanjutkan dengan makan dirumah kakakku. Malam itui saat aku menghantar kekasihku pulang, kembali aku merasakan kangen yang seperti biasa menghinggapiku saat berpisah dengan kekasihku. Waktu seakan tidak mengijinkan kami untuk bersama dalam masa yang lama.
Kekasihku, aku ingin kita kembali meneguhkan janji kita, True commitment kita didepan Tuhan. Aku merasakan hubungan kita hingga saat ini adalah salah satu perwujudan dari True commitment yang sudah kita ucapkan. Dari perjalanan hubungan kita hingga segala permasalahan yang menerpa kita, dan kita dapat bertahan hingga sekarang. Aku ingin kita tetap selalu berpegang pada semua janji kita, semua impian kita dan cinta kita. Kita harus membuktikan kepada orang-orang yang memandang sinis dan rendah pada hubungan kita, bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah suatu anugrah dan berkat spesial yang Tuhan boleh kita miliki untuk kita jaga. Hingga suatu hari dimana kita disatukan dihadapan Tuhan.
Until the day we hold our hands and fly together.....
My One-Winged Angel......
Tuesday, December 26, 2006
Monday, December 25, 2006
Our 1st Xmas & 2nd Month
Beberapa hari menjelang perayaan natal tahun ini, aku sempat bertanya pada kekasihku, "Apakah dia punya rencana untuk kami berdua?" Hal ini kutanyakan padanya karena Natal kali ini merupakan Natal kami yang pertama yang juga bertepatan dengan dua bulan kebersamaan kami. Kekasihku menjawab bahwa dia tidak memiliki rencana apa-apa, malahan dia balik bertanya pada diriku. Kukatakan padanya bahwa aku tidak mempunyai rencana apapun, yang kuinginkan hanya bisa bersama dengannya. Setelah pembicaraan ini kami ulang berkali-kali terlontarlah satu kejutan yang sebenarnya dia persiapkan untukku namun tidak dapat terwujud. Aku dapat merasakan kekecewaannya, tetapi buat aku bukan kejutan atau hadiah apapun yang kuharapkan dari kekasihku ini, kehadiran dirinya dalam hidupku sudah merupakan sebuah Hadiah yang tidak ternilai....seperti halnya yang disebutkan dalam salah satu iklan kartu kredit bahwa perjalanan waktu dengan orang yang kita kasihi tidak dapat dihitung dengan uang (priceless)
Waktu yang boleh aku lalui bersama kekasihku sangatlah berharga...walapun dalam Perayaan Malam Natal maupun Hari Natal, aku dan kekasihku tidak memilik kesempatan untuk duduk berdampingan, karena aku harus betugas koor, sementara dia duduk di antara para umat lainnya, kami hanya dapat saling memandang satu sama lain dari kejauhan. Namun Natal kali ini membuat aku merasa semakin dekat dengan dirinya dan keluarganya juga keluargaku.
Kami tidak memiliki kado istimewa ataupun perayaan instimewa, kami hanya memiliki makan malam bersama dengan keluargaku dan keluarganya. Pada perayaan Natal pertama kami dan dua bulan kebersamanan kamii, aku dan kekasihku tidak memiliki kegiatan apa-apa selain menghabiskan waktu bersama membicarakan hubungan kami dan rencana pernikahan kami. Kami saling mengingatkan akan TRUE COMMITMENT yang kami miliki saat kami memulai hubungan ini, kekasihku menyebutnya sebagai peneguhan kembali atas TRUE COMMITMENT kami.
Kami berdua menyadari bahwa pernikahan yang kami persiapkan adalah perwujudan TRUE COMMITEMENT kami secara lebih nyata. Saat kami membahas prihal kehidupan pernikahan yang akan kami jalani nantinya, seringkali kami saling mengingatkan agar kami dapat menjaga kemesraan yang kami miliki saat kami pacaran sekarang ini didalam kehidupan pernikahan kami nantinya.
Kekasihku...engkau adalah anugerah terindah yang boleh Tuhan hadirkan dalam hidupku, seperti yang kaukatakan kepadaku bahwa dari awal pertemuan, hingga kita menjalin hubungan dan merangkai rencana untuk melangkah ke jenjang yang lebih mulia, semuannya boleh terjadi dalam hidup kita melalui rencanaNya. Semuannya indah sesuai dengan rencanNya.
Finally I found you the other angel with one wing, where we can fly by embracing one and another.
Waktu yang boleh aku lalui bersama kekasihku sangatlah berharga...walapun dalam Perayaan Malam Natal maupun Hari Natal, aku dan kekasihku tidak memilik kesempatan untuk duduk berdampingan, karena aku harus betugas koor, sementara dia duduk di antara para umat lainnya, kami hanya dapat saling memandang satu sama lain dari kejauhan. Namun Natal kali ini membuat aku merasa semakin dekat dengan dirinya dan keluarganya juga keluargaku.
Kami tidak memiliki kado istimewa ataupun perayaan instimewa, kami hanya memiliki makan malam bersama dengan keluargaku dan keluarganya. Pada perayaan Natal pertama kami dan dua bulan kebersamanan kamii, aku dan kekasihku tidak memiliki kegiatan apa-apa selain menghabiskan waktu bersama membicarakan hubungan kami dan rencana pernikahan kami. Kami saling mengingatkan akan TRUE COMMITMENT yang kami miliki saat kami memulai hubungan ini, kekasihku menyebutnya sebagai peneguhan kembali atas TRUE COMMITMENT kami.
Kami berdua menyadari bahwa pernikahan yang kami persiapkan adalah perwujudan TRUE COMMITEMENT kami secara lebih nyata. Saat kami membahas prihal kehidupan pernikahan yang akan kami jalani nantinya, seringkali kami saling mengingatkan agar kami dapat menjaga kemesraan yang kami miliki saat kami pacaran sekarang ini didalam kehidupan pernikahan kami nantinya.
Kekasihku...engkau adalah anugerah terindah yang boleh Tuhan hadirkan dalam hidupku, seperti yang kaukatakan kepadaku bahwa dari awal pertemuan, hingga kita menjalin hubungan dan merangkai rencana untuk melangkah ke jenjang yang lebih mulia, semuannya boleh terjadi dalam hidup kita melalui rencanaNya. Semuannya indah sesuai dengan rencanNya.
Finally I found you the other angel with one wing, where we can fly by embracing one and another.
Friday, December 15, 2006
A True Soul Mate
Aku pernah membicarakan dengan kekasihku mengenai foto kami berdua. Hingga saat ini kami jalan bersama, kami belum memiliki foto kami berdua. Hingga suatu saat yang lalu kami memiliki ide untuk melakukan foto bersama di satu tempat di kawasan puncak. Kami membicarakan masalah ini dengan beberapa adik-adik kami yang kebetulan berprofesi sebagai fotografer. Setelah sepakat menentukan hari dan tanggalnya, aku dan kekasihku merencanakan tentang apa yang harus dikenakan. Setelah beberapa proses kami jalani, kami segera menjalankan rencana tersebut.
Aku tidak akan menceritakan detail dari acara ini, tapi aku hanya akan menceritakan bagaimana kami menghabiskan waktu bersama.
Baru pertama kali dalam hidupku aku menghabiskan waktu seharian bersama kekasihku dalam suasana yang sangat hangat. Aku merasakan suatu nuansa yang sangat berbeda, begitu dekat dengan kekasihku, begitu mesra bersama kekasihku dan kami dapat mengekspresikan semua perasaan kami dalam nuansa kasih. Aku dapat memeluk dan mencurahkan segala cintaku kepada kekasihku. Aku hanya bisa berharap bahwa suasana ini dapat kami teruskan hingga nanti kami menikah dan dapat kami pertahankan hingga kami tua bersama. Dalam posting ini aku tidak akan menjelaskan bagaimana pemotretan berlangsung, tapi lebih kepada bagaimana perasaan aku dengan kekasihku. Saat kami melakukan pemotretan dengan setting air terjun, dimana aku menatap wajahnya dan dapat memeluknya begitu erat, aku merasakan cinta kami begitu dalam. Seakan saat itu waktu berjalan begitu lama, dan kami dapat mengeksplorasi perasaan kami bersama. Aku begitu mengasihinya dan mencintainya sedemikian besar. Aku pernah berdoa di Gua Maria, aku berdoa dengan penuh permohonan.....hal yang aku belum pernah lakukan dalam hubunganku sebelumnya, dimana aku dengan bersungguh-sungguh memberikan hatiku, hidupku dan segenap jiwa raga dan cintaku demi kekasihku, bidadariku.
Kekasihku, semakin engkau mencintaiku, semakin engkau tetap dengan perasaanku, semakin engkau mengukuhkan hubungan kita, semakin aku merasa bahwa engkaulah mujizat yang boleh Tuhan hadirkan dalam hidupku. Tidak habis-habisnya aku bersyukur dan berdoa atas semua berkat yang telah Tuhan hantarkan dalam hidupku atas hadirnya dirimu.
Kekasihku, aku hanya bisa berdoa dan berdoa serta memohon agar kita bisa tetap dapat menjaga dan mempererat hubungan cinta kita dari segala rintangan, baik yang berasal dari pihak luar, maupun yang berasal dari hubungan kita sendiri. Yang bisa membuat pertahanan cinta kita bertambah kuat hanyalah kekuatan cinta kita itu sendiri. Aku hanya berharap agar, segala perubahan sikap kita atas segala permasalahn yang kita hadapi, kita dapat saling mengingatkan atas segala janji dan commitment kita yang pernah kita ikrarkan bersama.
Kekasihku, yang aku akan katakan bahwa, aku pernah berharap akan seseorang yang dapat mengangkat aku saat aku sedang jatuh, seseorang yang dapat mendorong aku disaat aku sedang butuh semangat, seseorang yang dapat membuat aku tegar dalam berbagai situasi, seseorang yang dapat membuat hidupku lebih memiliki arti, seseorang yang mau saling berbagi hidup baik suka dan dukanya........
And I have found it in you, my true love, my true soul mate, my one-winged angel...
Aku tidak akan menceritakan detail dari acara ini, tapi aku hanya akan menceritakan bagaimana kami menghabiskan waktu bersama.
Baru pertama kali dalam hidupku aku menghabiskan waktu seharian bersama kekasihku dalam suasana yang sangat hangat. Aku merasakan suatu nuansa yang sangat berbeda, begitu dekat dengan kekasihku, begitu mesra bersama kekasihku dan kami dapat mengekspresikan semua perasaan kami dalam nuansa kasih. Aku dapat memeluk dan mencurahkan segala cintaku kepada kekasihku. Aku hanya bisa berharap bahwa suasana ini dapat kami teruskan hingga nanti kami menikah dan dapat kami pertahankan hingga kami tua bersama. Dalam posting ini aku tidak akan menjelaskan bagaimana pemotretan berlangsung, tapi lebih kepada bagaimana perasaan aku dengan kekasihku. Saat kami melakukan pemotretan dengan setting air terjun, dimana aku menatap wajahnya dan dapat memeluknya begitu erat, aku merasakan cinta kami begitu dalam. Seakan saat itu waktu berjalan begitu lama, dan kami dapat mengeksplorasi perasaan kami bersama. Aku begitu mengasihinya dan mencintainya sedemikian besar. Aku pernah berdoa di Gua Maria, aku berdoa dengan penuh permohonan.....hal yang aku belum pernah lakukan dalam hubunganku sebelumnya, dimana aku dengan bersungguh-sungguh memberikan hatiku, hidupku dan segenap jiwa raga dan cintaku demi kekasihku, bidadariku.
Kekasihku, semakin engkau mencintaiku, semakin engkau tetap dengan perasaanku, semakin engkau mengukuhkan hubungan kita, semakin aku merasa bahwa engkaulah mujizat yang boleh Tuhan hadirkan dalam hidupku. Tidak habis-habisnya aku bersyukur dan berdoa atas semua berkat yang telah Tuhan hantarkan dalam hidupku atas hadirnya dirimu.
Kekasihku, aku hanya bisa berdoa dan berdoa serta memohon agar kita bisa tetap dapat menjaga dan mempererat hubungan cinta kita dari segala rintangan, baik yang berasal dari pihak luar, maupun yang berasal dari hubungan kita sendiri. Yang bisa membuat pertahanan cinta kita bertambah kuat hanyalah kekuatan cinta kita itu sendiri. Aku hanya berharap agar, segala perubahan sikap kita atas segala permasalahn yang kita hadapi, kita dapat saling mengingatkan atas segala janji dan commitment kita yang pernah kita ikrarkan bersama.
Kekasihku, yang aku akan katakan bahwa, aku pernah berharap akan seseorang yang dapat mengangkat aku saat aku sedang jatuh, seseorang yang dapat mendorong aku disaat aku sedang butuh semangat, seseorang yang dapat membuat aku tegar dalam berbagai situasi, seseorang yang dapat membuat hidupku lebih memiliki arti, seseorang yang mau saling berbagi hidup baik suka dan dukanya........
And I have found it in you, my true love, my true soul mate, my one-winged angel...
Thursday, December 14, 2006
Harapan & Ketakutan
Ketika waktu untuk bertemu diantara aku dan kekasihku terasa tak pernah cukup, tidak jarang aku melontarkan kata "Marry me!" kepada kekasihku yang biasanya disambutnya dengan senyuman. Mungkin kata-kataku ini kedengaran sangat agresif, karena kekasihku belum meminang aku tapi aku mengajukan diri untuk minta dinikahi.
Walaupun sebenarnya rencana pernikahan sudah sempat kami dengungkan satu sama lain, tapi semuanya masih sebatas keinginan untuk menjalani kehidupan kami bersama dalam ikatan pernikahan. Masih banyak yang mesti kami jembatani dan yang terpenting adalah keluarga. Tanpa restu dari keluarga kami tidak akan maju selangkahpun hubungan kami akan berjalan di tempat.
Untuk kami yang berasal dari daratan asia, pernikahan antara dua individu merupakan pernikahan pula antar dua keluarga, jadi kalau kita menyukai seorang pria/wanita maka kita harus bisa menerima seluruh anggota keluarganya berserta tata cara atau adat istiadat yang dianut oleh keluarga kedua belah pihak. Begitu pula dengan yang terjadi dalam hubunganku dengan kekasihku.
Hari ini entah kenapa aku memberanikan diri untuk mengatakan kepada kekasihku prihal rencana pernikahan kami. Dimana sebelumnya kekasihku memutuskan untuk membicarakan rencana pernikahan ini lebih lanjut apabila sudah ada pertemuan antara keluarga dia dan keluarga aku. Namun aku merasa bahwa perencanaan pernikahan seharusnya tetap dapat berjalan selama kami menunggu waktu pertemuan antar kedua keluarga. Sehingga semua persiapan dapat dilakukan tanpa terburu-buru. Rasanya sayang melewatkan waktu begitu saja tanpa melakukan apa-apa. Tapi aku merasa hingga pembicaraan kami berakhir kami belum menemukan kata sepakat.
Malam ini aku tak sengaja menonton sebuah sinetron natal, tidak penting apa isi ceritanya tetapi yang terpenting adalah garis merah dari cerita itu, perihal penerimaan, kepasrahan dan kepercayaan. Dan bahwa setiap tarikan nafas yang boleh kita jalani dalam hidup kita ini sangatlah berarti, jadi kita mesti bisa memanfaatkan waktu yang ada itu secara bijak. Tak urung aku menangis menyaksikan sinetron itu, mengingat beberapa tahun yang lalu aku pernah mengalami perasaan dimana hidupku tidak akan lama lagi, entah kenapa perasaan itu hinggap didiriku...aku punya ketakutan besar bahwa aku belum sempat membahagiakan orang-orang yang aku kasihi. Aku cuma bisa berkata pada diriku sendiri bahwa waktuku tidaklah banyak. Seolah mama juga merasakan hal itu, sering dia mengingatkan diriku atas kebiasaan hidupku yang kurang baik, terlambat makan, mandi malam dan tidur dini hari. Sempat mama berkata bahwa aku kurang sayang diriku sendiri, katanya "percuma mencari pendidikan dan karir setinggi langit kalau sebelum semuanya bisa aku nikmati dan syukuri, aku sudah harus berpulang ke Rumah Bapa".
Hari ini ketika aku pulang terlambat, mama berkali-kali menghubungi diriku lewat HP karena khawatir....dia khawatir aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik. Aku tau kekhawatiran yang hinggap di hati mama, terlebih dengan berita duka yang boleh dia dengar yang dihadapi oleh keluarga teman kecilku di kota tempat aku dibesarkan. Anak mereka adalah perempuan dan dia adalah teman mainku semasa SD dan SMP. Semenjak aku meninggalkan kota tempat aku dibesarkan, kami jarang berhubungan satu sama lain, ditambah lagi kemudian dia juga melanjutkan sekolahnya ke kota lain. Beberapa tahun yang lalu dia menikah dan saat ini telah di karuniai 2 orang anak, yang pertama belum genap 2 tahun dan yang kedua baru berusia 7 bulan ketika dia dinyatakan mengidap lukemia dan sudah tidak dapat tertolong lagi hingga akhirnya meninggal dunia pertengahan minggu yang lalu.
Aku tau mama takut kehilangan diriku....sebesar ketakutan aku tidak sempat membahagiakan orang-orang yang aku kasihi. Ditambah lagi kehadiran kekasihku dalam hidupku akhir-akhir ini, aku merasa sangat sangat takut kehilangan.....Kehilangan dirinya bukan karena aku meragukan cinta dan commitmentnya terhadap diriku tapi aku takut kalau diriku tidak punya cukup waktu untuk kubagi dengannya...entah kenapa perasaan itu hinggap lagi dalam diriku dan aku tidak bisa menyampaikan hal ini kepada kekasihku. Buat aku mengenal diri kekasihku memberikan harapan besar bagi diriku untuk dapat merajut masa depan dengannya, membagi hidup kami, saling menguatkan dan mendukung satu sama lain.
Kalau Chairil Anwar pernah menulis " Aku mau hidup 1000 tahun lagi!"
Ingin kuteriakkan kalimat yang sama bahwa aku mau hidup "1000 tahun lagi" sampai Tuhan memisahkan aku dengan dirinya.
Walaupun sebenarnya rencana pernikahan sudah sempat kami dengungkan satu sama lain, tapi semuanya masih sebatas keinginan untuk menjalani kehidupan kami bersama dalam ikatan pernikahan. Masih banyak yang mesti kami jembatani dan yang terpenting adalah keluarga. Tanpa restu dari keluarga kami tidak akan maju selangkahpun hubungan kami akan berjalan di tempat.
Untuk kami yang berasal dari daratan asia, pernikahan antara dua individu merupakan pernikahan pula antar dua keluarga, jadi kalau kita menyukai seorang pria/wanita maka kita harus bisa menerima seluruh anggota keluarganya berserta tata cara atau adat istiadat yang dianut oleh keluarga kedua belah pihak. Begitu pula dengan yang terjadi dalam hubunganku dengan kekasihku.
Hari ini entah kenapa aku memberanikan diri untuk mengatakan kepada kekasihku prihal rencana pernikahan kami. Dimana sebelumnya kekasihku memutuskan untuk membicarakan rencana pernikahan ini lebih lanjut apabila sudah ada pertemuan antara keluarga dia dan keluarga aku. Namun aku merasa bahwa perencanaan pernikahan seharusnya tetap dapat berjalan selama kami menunggu waktu pertemuan antar kedua keluarga. Sehingga semua persiapan dapat dilakukan tanpa terburu-buru. Rasanya sayang melewatkan waktu begitu saja tanpa melakukan apa-apa. Tapi aku merasa hingga pembicaraan kami berakhir kami belum menemukan kata sepakat.
Malam ini aku tak sengaja menonton sebuah sinetron natal, tidak penting apa isi ceritanya tetapi yang terpenting adalah garis merah dari cerita itu, perihal penerimaan, kepasrahan dan kepercayaan. Dan bahwa setiap tarikan nafas yang boleh kita jalani dalam hidup kita ini sangatlah berarti, jadi kita mesti bisa memanfaatkan waktu yang ada itu secara bijak. Tak urung aku menangis menyaksikan sinetron itu, mengingat beberapa tahun yang lalu aku pernah mengalami perasaan dimana hidupku tidak akan lama lagi, entah kenapa perasaan itu hinggap didiriku...aku punya ketakutan besar bahwa aku belum sempat membahagiakan orang-orang yang aku kasihi. Aku cuma bisa berkata pada diriku sendiri bahwa waktuku tidaklah banyak. Seolah mama juga merasakan hal itu, sering dia mengingatkan diriku atas kebiasaan hidupku yang kurang baik, terlambat makan, mandi malam dan tidur dini hari. Sempat mama berkata bahwa aku kurang sayang diriku sendiri, katanya "percuma mencari pendidikan dan karir setinggi langit kalau sebelum semuanya bisa aku nikmati dan syukuri, aku sudah harus berpulang ke Rumah Bapa".
Hari ini ketika aku pulang terlambat, mama berkali-kali menghubungi diriku lewat HP karena khawatir....dia khawatir aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik. Aku tau kekhawatiran yang hinggap di hati mama, terlebih dengan berita duka yang boleh dia dengar yang dihadapi oleh keluarga teman kecilku di kota tempat aku dibesarkan. Anak mereka adalah perempuan dan dia adalah teman mainku semasa SD dan SMP. Semenjak aku meninggalkan kota tempat aku dibesarkan, kami jarang berhubungan satu sama lain, ditambah lagi kemudian dia juga melanjutkan sekolahnya ke kota lain. Beberapa tahun yang lalu dia menikah dan saat ini telah di karuniai 2 orang anak, yang pertama belum genap 2 tahun dan yang kedua baru berusia 7 bulan ketika dia dinyatakan mengidap lukemia dan sudah tidak dapat tertolong lagi hingga akhirnya meninggal dunia pertengahan minggu yang lalu.
Aku tau mama takut kehilangan diriku....sebesar ketakutan aku tidak sempat membahagiakan orang-orang yang aku kasihi. Ditambah lagi kehadiran kekasihku dalam hidupku akhir-akhir ini, aku merasa sangat sangat takut kehilangan.....Kehilangan dirinya bukan karena aku meragukan cinta dan commitmentnya terhadap diriku tapi aku takut kalau diriku tidak punya cukup waktu untuk kubagi dengannya...entah kenapa perasaan itu hinggap lagi dalam diriku dan aku tidak bisa menyampaikan hal ini kepada kekasihku. Buat aku mengenal diri kekasihku memberikan harapan besar bagi diriku untuk dapat merajut masa depan dengannya, membagi hidup kami, saling menguatkan dan mendukung satu sama lain.
Kalau Chairil Anwar pernah menulis " Aku mau hidup 1000 tahun lagi!"
Ingin kuteriakkan kalimat yang sama bahwa aku mau hidup "1000 tahun lagi" sampai Tuhan memisahkan aku dengan dirinya.
Thursday, December 07, 2006
A True Happy Relations
Semalam aku ikut menemani kekasihku ke salah satu Mal di Jakarta untuk mengadakan meeting dengan salah satu komunitas muda-mudi yang dia ikuti. Acara meeting itu mulai pada jam 19.00, sedangkan dia harus mengikuti latihan koor di gereja kami pukul 20.30. Aku sempat berpikir apakah dia bisa membagi waktunya agar bisa mengikuti aktivitasnya itu dalam waktu yang tepat. Pada saat meeting itu dimulai, aku memisahkan diri agar tidak mengganggu acaranya dan agar dia bisa lebih terfokus dengan meeting itu. Aku segera pergi ke salah satu cafe yang terkenal sambil menunggu kabar dari kekasihku. Ketika jam menunjukkan pukul 20.30 lewat, aku segera meninggalkan cafe tersebut untuk menemui kekasihku, apakah dia sudah selesai atau belum. Saat aku melihat ketempat dimana kekasihku meeting, aku melihat kekasihku masih sibuk melakukan diskusi dengan teamnya. Setelah selesai, aku segera menemui kekasihku lalu kami menuju parkiran untuk pergi ke gereja. Dimobilnya, aku sempat memberikan sedikit opiniku mengenai meetingnya, aku sempat menyesalkan bahwa seharusnya aku dan dia menyempatkan untuk makan bersama malam itu, tapi karena waktu yang tidak memungkinkan, kami tidak makan malam itu. Sesampainya digereja, kekasihku langsung masuk kedalam, sedangkan aku langsung menuju rumahku. Kemudian aku menanyakan kabar kekasihku lewat sms, dia menanyakan bahwa dia sudah sampai dirumah dan pada saat dia sampai digereja, acara sudah selesai.
Malam itu kerinduanku terhadap kekasihku masih tertahan, karena waktu yang seharusnya bisa aku habiskan bersama dia, hanya berakhir dengan menunggu. Malam itu aku menelpon dia, dan kamipun terlibat beberapa pembicaraan. Kami berdiskusi mengenai acara kami dengan adik-adik kami besok, apa yang harus dibawa, apa yang harus direncanakan, aku tidak sabar menunggu hari esok. Aku sempat berdiskusi dengannya mengenai pasangan dari teman kantor kakak kekasihku. Dia bercerita bahwa pasangan tersebut hendak bercerai, dan yang menurut aku lebih parahnya, mereka berdua adalah pasangan Katholik yang disahkan untuk menjadi pasangan Tuhan dihadapan altar gereja Katholik. Aku tidak habis pikir, begitu mudahnya pasangan-pasangan yang mungkin masih terhitung belum lama menikah lalu setelah menghabiskan waktu bersama, mereka mengalami suatu masalah dan berakhir dengan perceraian. Menurut aku, setiap permasalahan yang terjadi baik itu masalah sepele ataupun masalah yang paling berat sekalipun, pasti ada solusi untuk mencari pemecahannya. Entah itu datang dari pasangan itu sendiri, bagaimana mereka berkomunikasi dan saling jujur dan terbuka untuk mengemukakan masalahnya, ataupun solusi itu bisa datang dari keluarga pasangan tersebut, dengan catatan, keluarga tersebut netral dan bertujuan untuk mengembalikan keharmonisan keluarga itu.
Aku pernah sedikitnya membahas mengenai hubunganku dengan kekasihku di posting ini. Keterbukaan dan kejujuran adalah suatu hal yang sangat crucial dalam membina suatu hubungan. Karena jika suatu masalah yang dimiliki satu pasangan dan dia tidak dapat membicarakannya dengan pasangannya, atau dia selalu menunda-nunda untk membicarakannya, tidak heran hal itu akan menjadi suatu bom waktu dari hubungan itu sendiri. Aku dan kekasihku selalu saling mengingatkan tentang pentingnya suatu keterbukaan, kejujuran dan saling menerima. Suatu hubungan yang dari awalnya sudah dilandasi dengan fondasi yang kuat dan komitmen yang kuat pula, kami percaya bahwa setiap permasalahan yang terjadi ataupun yang akan terjadi, dapat diselesaikan dengan penuh kedewasaan dan kerendahan hati tanpa perlu campur tangan pihak lain.
Aku memiliki suatu prinsip:
"Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang BUKAN tidak pernah memiliki masalah, tapi melainkan keluarga yang dapat BANGKIT dari setiap permasalahan yang menimpa mereka dan menemukan solusinya bersama-sama."
Aku berharap hubunganku dengan kekasihku, dengan semua komitmen dan segala prinsip-prinsip dasar dalam membina suatu hubungan yang selalu kami jaga, dapat selalu kami jalani dan kami jaga didalam hubungan ini. Aku juga berdoa, jika kami sampai pada satu saat dimana kami mengucapkan janji setia dihadapan altar Tuhan, kami dapat menjalani dan memegang teguh ikrar tersebut dengan harapan kami dapat saling mengisi dan saling mendukung satu sama lain untuk menggerakkan bahtera rumah tangga kami dan menghadapi badai yang menghadang dengan selalu bersama.
"Obstacles are necessary for success because victory comes only after many struggles and countless defeats. Yet each struggle, each defeat sharpen your skills and strength, your courage, your endurance, your ability, and your confidence, and thus each obstacle is a comrade-in-arms forcing you to become stronger.....or quit. Each rebuff is an opportunity to move forward; turn away from them, avoid them, and you will throw away your future."
Aku berusaha untuk selalu menumbuhkan cinta yang kami pupuk saat ini dengan segala keterbukaan, kejujuran, kesetiaan, penerimaan dan segala hal yang dapat menjaga kami tetap saling berpegangan tangan dalam menghadapi segala ujian. Aku selalu berdoa agar cinta yang kita miliki dapat mengalahkan rasa benci, dan kehangatan yang kita rengkuh saat ini dapat mengalahkan sikap saling menyalahkan dan rasa takut.
I thank You Lord for giving my angel to me, to always encourage me in any difficult and troubled situations, to always reminds me about our relations and our future, to always hang-on to what we've got between us. Grow Your love in our heart so we can always remember to the Heavenly Glory of Your Love that lead us to a joyfull relationship that we have and hope. Hold our hands and take us to where we should go to Your House of Love. We know that You always have a beautiful and best plan for us ahead.
And we pray to all couples who had vowed at Your altar, and today they have unsolved-problems, take their hands and lead them to whatever best for them according to Your plans. Amen
Malam itu kerinduanku terhadap kekasihku masih tertahan, karena waktu yang seharusnya bisa aku habiskan bersama dia, hanya berakhir dengan menunggu. Malam itu aku menelpon dia, dan kamipun terlibat beberapa pembicaraan. Kami berdiskusi mengenai acara kami dengan adik-adik kami besok, apa yang harus dibawa, apa yang harus direncanakan, aku tidak sabar menunggu hari esok. Aku sempat berdiskusi dengannya mengenai pasangan dari teman kantor kakak kekasihku. Dia bercerita bahwa pasangan tersebut hendak bercerai, dan yang menurut aku lebih parahnya, mereka berdua adalah pasangan Katholik yang disahkan untuk menjadi pasangan Tuhan dihadapan altar gereja Katholik. Aku tidak habis pikir, begitu mudahnya pasangan-pasangan yang mungkin masih terhitung belum lama menikah lalu setelah menghabiskan waktu bersama, mereka mengalami suatu masalah dan berakhir dengan perceraian. Menurut aku, setiap permasalahan yang terjadi baik itu masalah sepele ataupun masalah yang paling berat sekalipun, pasti ada solusi untuk mencari pemecahannya. Entah itu datang dari pasangan itu sendiri, bagaimana mereka berkomunikasi dan saling jujur dan terbuka untuk mengemukakan masalahnya, ataupun solusi itu bisa datang dari keluarga pasangan tersebut, dengan catatan, keluarga tersebut netral dan bertujuan untuk mengembalikan keharmonisan keluarga itu.
Aku pernah sedikitnya membahas mengenai hubunganku dengan kekasihku di posting ini. Keterbukaan dan kejujuran adalah suatu hal yang sangat crucial dalam membina suatu hubungan. Karena jika suatu masalah yang dimiliki satu pasangan dan dia tidak dapat membicarakannya dengan pasangannya, atau dia selalu menunda-nunda untk membicarakannya, tidak heran hal itu akan menjadi suatu bom waktu dari hubungan itu sendiri. Aku dan kekasihku selalu saling mengingatkan tentang pentingnya suatu keterbukaan, kejujuran dan saling menerima. Suatu hubungan yang dari awalnya sudah dilandasi dengan fondasi yang kuat dan komitmen yang kuat pula, kami percaya bahwa setiap permasalahan yang terjadi ataupun yang akan terjadi, dapat diselesaikan dengan penuh kedewasaan dan kerendahan hati tanpa perlu campur tangan pihak lain.
Aku memiliki suatu prinsip:
"Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang BUKAN tidak pernah memiliki masalah, tapi melainkan keluarga yang dapat BANGKIT dari setiap permasalahan yang menimpa mereka dan menemukan solusinya bersama-sama."
Aku berharap hubunganku dengan kekasihku, dengan semua komitmen dan segala prinsip-prinsip dasar dalam membina suatu hubungan yang selalu kami jaga, dapat selalu kami jalani dan kami jaga didalam hubungan ini. Aku juga berdoa, jika kami sampai pada satu saat dimana kami mengucapkan janji setia dihadapan altar Tuhan, kami dapat menjalani dan memegang teguh ikrar tersebut dengan harapan kami dapat saling mengisi dan saling mendukung satu sama lain untuk menggerakkan bahtera rumah tangga kami dan menghadapi badai yang menghadang dengan selalu bersama.
"Obstacles are necessary for success because victory comes only after many struggles and countless defeats. Yet each struggle, each defeat sharpen your skills and strength, your courage, your endurance, your ability, and your confidence, and thus each obstacle is a comrade-in-arms forcing you to become stronger.....or quit. Each rebuff is an opportunity to move forward; turn away from them, avoid them, and you will throw away your future."
Aku berusaha untuk selalu menumbuhkan cinta yang kami pupuk saat ini dengan segala keterbukaan, kejujuran, kesetiaan, penerimaan dan segala hal yang dapat menjaga kami tetap saling berpegangan tangan dalam menghadapi segala ujian. Aku selalu berdoa agar cinta yang kita miliki dapat mengalahkan rasa benci, dan kehangatan yang kita rengkuh saat ini dapat mengalahkan sikap saling menyalahkan dan rasa takut.
I thank You Lord for giving my angel to me, to always encourage me in any difficult and troubled situations, to always reminds me about our relations and our future, to always hang-on to what we've got between us. Grow Your love in our heart so we can always remember to the Heavenly Glory of Your Love that lead us to a joyfull relationship that we have and hope. Hold our hands and take us to where we should go to Your House of Love. We know that You always have a beautiful and best plan for us ahead.
And we pray to all couples who had vowed at Your altar, and today they have unsolved-problems, take their hands and lead them to whatever best for them according to Your plans. Amen
Tuesday, December 05, 2006
A Blessing
Setelah aku mencurahkan isi hatiku melalui postingku pagi ini, aku merasa sedikit lega, walaupun karena posting itu aku mesti terlambat berangkat ke kantor dengan konsekuensi terlambat pula masuk kerja, tapi apa boleh buat, aku merasa kegalauan hati ini harus aku selesaikan...sebelum semuanya menjadi tambah runyam. Pagi ini aku sangat tergoda untuk menghubungi kekasihku, tapi aku merasa belum siap untuk berbicara dengannya, aku takut nada bicaraku masih belum berubah seperti ketika semalam dia dan aku mengakhiri pembicaraan kami. Namun ternyata kegundahan hati kekasihku sama besarnya dengan kegundahan hatiku, ditambah lagi dengan tidak adanya SMS pagi hariku...dia merasa terabaikan, dan dia semakin yakin dengan perasaannya bahwa ada yang berubah pada diriku.
Aku menerima teleponnya tatkala aku baru saja beranjak meninggalkan rumah, dan aku menyadari bahwa aku masih belum bersikap baik terhadapnya. Dia sangat kesal dengan sikapku dan menyerang aku dengan kata-katanya bahwa aku tidak menjalankan komitment yang sudah kami ikrarkan bersama, salah satunya adalah prihal keterbukaan. Aku tidak mengelak...walaupun aku merasa terpojok dengan kata-katanya, kukatakan padanya untuk membaca posting-ku pagi hari ini. Dia sempat menuntut aku untuk terbuka secara langsung, seterbuka aku dapat menuliskannya dalam posting...akhirnya aku katakan perasaanku, dan ketika aku terdiam kembali, dia memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dan mengatakan akan membaca postingku pagi hari ini.
Pagi hari menjelang siang, kekasihku mengabarkan bahwa dia sudah membaca posting aku dan dia katakan bahwa dia juga baru saja meng-upload posting dia dan aku tidak memberikan reaksi apa-apa, karena aku juga belum membaca postingnya. Satu jam sesudahnya rasa kangen untuk sekedar mendengar suaranya menghampiri diriku, kuberanikan diri untuk menghubungi ponselnya, lama tidak ada jawaban, aku sudah hendak mematikan teleponku manakala dia tiba-tiba terdengar suaranya diujung sana...seketika itu juga hatiku merasa tenang dan aku mulai menanyakan kabarnya...pembicaraan-pembicaraan ringan yang sangat biasa kami lakukan. Keakraban mulai menyelimuti kami lagi....dan kekasihku berkata lain kali jangan ulangi hal yang sama, kalau ada masalah segera disampaikan karena itu akan meringankan beban kita bersama. Akhirnya kamipun berdamai.
Sore hari ini aku sempat chit-chat lewat jaringan internal kantor dengan salah seorang teman sejawatku di kantor cabang lain, pembicaraan seputar banyaknya godaan menjelang hari pernikahan. Tak heran kalau kami bertemu dengan orang-orang yang sudah menikah dan mengetahui adanya rencana pernikahan yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat diantara sesama kami, maka mereka selalu mengingatkan akan banyaknya godaan tersebut, semakin dekat ke hari bahagia, semakin besar pula 'godaan' yang datang. Teman sejawatku ini yang kebetulan seorang pria mengatakan bahwa dia bertobat, aku sempat heran dengan perkataannya ini...lalu dia menjelaskan bahwa dia sudah yakin dengan wanita pilihannya tapi seringkali tergoda untuk tebar pesona...aku tertawa dibuatnya, aku katakan agar dia fokus dengan wanta pilihannya.
Entah bagian mana dari diriku yang membuat teman sejawatku ini menyukai diriku, dia katakan bahwa dia senang bisa mengenal diriku, seseorang yang dinilainya as a wonderful person. Dia mengatakan bahwa kekasihku must be a very lucky person to have me...pernyataannya ini menyadarkan aku akan berbagai peristiwa yang boleh aku alami dengan kekasihku dan kesabarannya untuk menjaga perasaanku dan menghantar diri kami ke arah penyelesaian masalah. Dan seketika itu juga aku mengatakan hal ini kepada teman sejawatku, "If you said that he is very luck, then I said that He is a blessing for me. A wonderful person that I ever known who can stand for me !"
Malam ini aku membaca postingnya, dan aku tau apa yang dia rasakan padaku...semakin aku membacanya semakin ingin aku mengatakan padanya bahwa aku juga sangat menyayanginya. Terima kasih Tuhan, karena Engkau boleh hadirkan dirinya dalam hidupku untuk melengkapi diriku yang tidak sempurna ini.
God, He is A Blessing that You gave for me, thanks for this wonderful blessing.
Aku menerima teleponnya tatkala aku baru saja beranjak meninggalkan rumah, dan aku menyadari bahwa aku masih belum bersikap baik terhadapnya. Dia sangat kesal dengan sikapku dan menyerang aku dengan kata-katanya bahwa aku tidak menjalankan komitment yang sudah kami ikrarkan bersama, salah satunya adalah prihal keterbukaan. Aku tidak mengelak...walaupun aku merasa terpojok dengan kata-katanya, kukatakan padanya untuk membaca posting-ku pagi hari ini. Dia sempat menuntut aku untuk terbuka secara langsung, seterbuka aku dapat menuliskannya dalam posting...akhirnya aku katakan perasaanku, dan ketika aku terdiam kembali, dia memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dan mengatakan akan membaca postingku pagi hari ini.
Pagi hari menjelang siang, kekasihku mengabarkan bahwa dia sudah membaca posting aku dan dia katakan bahwa dia juga baru saja meng-upload posting dia dan aku tidak memberikan reaksi apa-apa, karena aku juga belum membaca postingnya. Satu jam sesudahnya rasa kangen untuk sekedar mendengar suaranya menghampiri diriku, kuberanikan diri untuk menghubungi ponselnya, lama tidak ada jawaban, aku sudah hendak mematikan teleponku manakala dia tiba-tiba terdengar suaranya diujung sana...seketika itu juga hatiku merasa tenang dan aku mulai menanyakan kabarnya...pembicaraan-pembicaraan ringan yang sangat biasa kami lakukan. Keakraban mulai menyelimuti kami lagi....dan kekasihku berkata lain kali jangan ulangi hal yang sama, kalau ada masalah segera disampaikan karena itu akan meringankan beban kita bersama. Akhirnya kamipun berdamai.
Sore hari ini aku sempat chit-chat lewat jaringan internal kantor dengan salah seorang teman sejawatku di kantor cabang lain, pembicaraan seputar banyaknya godaan menjelang hari pernikahan. Tak heran kalau kami bertemu dengan orang-orang yang sudah menikah dan mengetahui adanya rencana pernikahan yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat diantara sesama kami, maka mereka selalu mengingatkan akan banyaknya godaan tersebut, semakin dekat ke hari bahagia, semakin besar pula 'godaan' yang datang. Teman sejawatku ini yang kebetulan seorang pria mengatakan bahwa dia bertobat, aku sempat heran dengan perkataannya ini...lalu dia menjelaskan bahwa dia sudah yakin dengan wanita pilihannya tapi seringkali tergoda untuk tebar pesona...aku tertawa dibuatnya, aku katakan agar dia fokus dengan wanta pilihannya.
Entah bagian mana dari diriku yang membuat teman sejawatku ini menyukai diriku, dia katakan bahwa dia senang bisa mengenal diriku, seseorang yang dinilainya as a wonderful person. Dia mengatakan bahwa kekasihku must be a very lucky person to have me...pernyataannya ini menyadarkan aku akan berbagai peristiwa yang boleh aku alami dengan kekasihku dan kesabarannya untuk menjaga perasaanku dan menghantar diri kami ke arah penyelesaian masalah. Dan seketika itu juga aku mengatakan hal ini kepada teman sejawatku, "If you said that he is very luck, then I said that He is a blessing for me. A wonderful person that I ever known who can stand for me !"
Malam ini aku membaca postingnya, dan aku tau apa yang dia rasakan padaku...semakin aku membacanya semakin ingin aku mengatakan padanya bahwa aku juga sangat menyayanginya. Terima kasih Tuhan, karena Engkau boleh hadirkan dirinya dalam hidupku untuk melengkapi diriku yang tidak sempurna ini.
God, He is A Blessing that You gave for me, thanks for this wonderful blessing.
Hopes and Prayers
Awal dari hubunganku dengan kekasihku, kami berdua sepakat untuk membuat sebuah Commitment antara kami berdua, dimana kami harus saling berbagi, jujur, terbuka dan setia.
Selama ini aku sudah merasakan telah dapat menerapkan commitment yang telah kami sepakati dalam hubungan kami. Beberapa kali kami pernah tersandung berbagai permasalahan yang sempat membuat kami tertutup, tapi pada akhirnya kami berhasil untuk menutup segala sandungan yang kami hadapi dengan segala keterbukaan kami........hingga tadi malam.
Kemarin pagi hingga sore hari kami masih telpon-telponan dan smsan, betapa kami saling merindukan satu sama lain. Suatu moment yang sangat membahagiakanku. Malam itu kekasihku hendak pergi latihan koor, sedangkan aku harus membicarakan sesuatu hal dengan salah satu adikku. Saat itu aku berpikir, aku rela untuk sekedar melihat wajah kekasihku, walaupun cuma dalam hitungan menitpun. Sekedar untuk melepaskan rasa rinduku. Aku sempat memperhatikan dari kejauhan saat kekasihku masih latihan koor, aku sangat senang...... aku sangat menyayangi dia. Saat itu adikku mengajakku untuk ke satu tempat makan di daerah Casablanca. Kalau saat itu aku mempunyai janji dengan kekasihku untuk menghabiskan waktu bersama, mungkin aku tidak akan ikut dengan adik-adikku untuk makan. Tetapi aku sadar, aku tidak akan bisa bertemu lama dengannya, makanya aku langsung menerima ajakan adik-adikku. Setelah latihan koor selesai, aku menyempatkan diri berbicara dengannya. Aku sadar hal yang aku bicarakan dengannya sebenarnya tidak terlalu harus dibicarakan saat itu, tapi aku hanya ingin dekat dengannya, menghirup wangi tubuhnya dan melepaskan sedikit kangenku. Setelah itu kekasihku harus pulang, dan aku masuk kedalam gereja untuk berdoa di Gua Maria. Disana aku berdoa dan berjanji untuk memberikan segala daya dan usahaku untuk kekasihku, untuk kelanggengan hubunganku tanpa batas waktu, untuk segala permasalahan yang kami hadapi.
Setelah aku dan adik-adikku pulang, aku langsung menelpon kekasihku. Saat pertama, aku tidak merasakan apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaranya. Ketika kami sampai pada pembicaraan mengenai hubungan kami, aku langsung bisa merasakan suatu perubahan yang terjadi pada dirinya, walaupun saat itu dia tidak mengakuinya, tapi aku merasakannya. Hingga kami menutup telpon kami, aku masih kesal dengan kejadian saat itu.
Pagi harinya, aku berharap dia mengirimkan sms...seperti yang biasanya dia lakukan, menanyakan kabarku, menanyakan sarapanku, tapi saat itu aku tidak melihat satu smspun. Lalu aku telp kekasihku pagi ini mengenai perubahan sikap dia, dan dia mengakuinya. Jujur, aku sempat kesal kenapa hal itu harus dibiarkan berlarut-larut dan dibiarkan menggantung. Aku mengingatkan kembali bahwa pada saat kami mengikatkan diri pada commitment kami, kami sepakat untuk tidak membiarkan suatu masalah berlarut-larut, dan harus diselesaikan saat itu juga. Lalu dia mulai membicarakan masalah yang dia hadapi. Aku sempat kecewa dengan posting kekasihku ketika kubaca pagi ini.
Kekasihku, aku tidak menyesali dan tidak akan pernah sekalipun terlintas dibenakku untuk menyesali hubungan yang kita jalani selama ini. Aku selalu menerima segala cobaan yang ada dengan hati terbuka, selama kau selalu berada disampingku untuk membantu aku dalam menghadapi semuanya. Aku selalu berpegang teguh pada True Commitment yang sudah kita janjikan bersama. Kamu ingat kan? Aku sudah beberapa kali mengatakan bahwa, semua permasalahan dan segala sandungan yang kita hadapi saat ini, yaitu sebagai pendewasaan kita sebagai pasangan. Bagaimana kita diuji untuk saling terbuka dalam komunikasi, bagaimana usaha kita berdua untuk menghadapi segala badai yang menggoyangkan perahu kita, bagaimana kita tetap berpegang teguh atas segala ikatan kesetiaan yang pernah kita doakan bersama, dan bagaimana kita ditantang untuk dapat survive dan bangkit dari segala cobaan.
Saat ini aku hanya ingin kita mengucapkan kembali True Commitment kita, untuk mengingatkan kita betapa berharganya suatu hubungan yang disatukan dalam satu ikatan bersama. Untuk mengingatkan betapa pentingnya suatu keterbukaan dan komunikasi dalam suatu hubungan yang dilandaskan dalam satu ikatan bersama. Saat ini kita berdua berada dalam satu perahu ditengah badai yang melanda. Aku yakin selama kita tetap berjalan dan menghadapinya bersama, tidak akan ada yang dapat membalikan perahu kita. Itu yang selalu aku bawa dalam tiap doaku.
Kekasihku, aku juga minta maaf kalau aku menyinggungmu semalam, kalau aku membuat perasaanmu galau.
For you are the one God sent from above. The angel I needed For whom I do love.
Selama ini aku sudah merasakan telah dapat menerapkan commitment yang telah kami sepakati dalam hubungan kami. Beberapa kali kami pernah tersandung berbagai permasalahan yang sempat membuat kami tertutup, tapi pada akhirnya kami berhasil untuk menutup segala sandungan yang kami hadapi dengan segala keterbukaan kami........hingga tadi malam.
Kemarin pagi hingga sore hari kami masih telpon-telponan dan smsan, betapa kami saling merindukan satu sama lain. Suatu moment yang sangat membahagiakanku. Malam itu kekasihku hendak pergi latihan koor, sedangkan aku harus membicarakan sesuatu hal dengan salah satu adikku. Saat itu aku berpikir, aku rela untuk sekedar melihat wajah kekasihku, walaupun cuma dalam hitungan menitpun. Sekedar untuk melepaskan rasa rinduku. Aku sempat memperhatikan dari kejauhan saat kekasihku masih latihan koor, aku sangat senang...... aku sangat menyayangi dia. Saat itu adikku mengajakku untuk ke satu tempat makan di daerah Casablanca. Kalau saat itu aku mempunyai janji dengan kekasihku untuk menghabiskan waktu bersama, mungkin aku tidak akan ikut dengan adik-adikku untuk makan. Tetapi aku sadar, aku tidak akan bisa bertemu lama dengannya, makanya aku langsung menerima ajakan adik-adikku. Setelah latihan koor selesai, aku menyempatkan diri berbicara dengannya. Aku sadar hal yang aku bicarakan dengannya sebenarnya tidak terlalu harus dibicarakan saat itu, tapi aku hanya ingin dekat dengannya, menghirup wangi tubuhnya dan melepaskan sedikit kangenku. Setelah itu kekasihku harus pulang, dan aku masuk kedalam gereja untuk berdoa di Gua Maria. Disana aku berdoa dan berjanji untuk memberikan segala daya dan usahaku untuk kekasihku, untuk kelanggengan hubunganku tanpa batas waktu, untuk segala permasalahan yang kami hadapi.
Setelah aku dan adik-adikku pulang, aku langsung menelpon kekasihku. Saat pertama, aku tidak merasakan apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaranya. Ketika kami sampai pada pembicaraan mengenai hubungan kami, aku langsung bisa merasakan suatu perubahan yang terjadi pada dirinya, walaupun saat itu dia tidak mengakuinya, tapi aku merasakannya. Hingga kami menutup telpon kami, aku masih kesal dengan kejadian saat itu.
Pagi harinya, aku berharap dia mengirimkan sms...seperti yang biasanya dia lakukan, menanyakan kabarku, menanyakan sarapanku, tapi saat itu aku tidak melihat satu smspun. Lalu aku telp kekasihku pagi ini mengenai perubahan sikap dia, dan dia mengakuinya. Jujur, aku sempat kesal kenapa hal itu harus dibiarkan berlarut-larut dan dibiarkan menggantung. Aku mengingatkan kembali bahwa pada saat kami mengikatkan diri pada commitment kami, kami sepakat untuk tidak membiarkan suatu masalah berlarut-larut, dan harus diselesaikan saat itu juga. Lalu dia mulai membicarakan masalah yang dia hadapi. Aku sempat kecewa dengan posting kekasihku ketika kubaca pagi ini.
Kekasihku, aku tidak menyesali dan tidak akan pernah sekalipun terlintas dibenakku untuk menyesali hubungan yang kita jalani selama ini. Aku selalu menerima segala cobaan yang ada dengan hati terbuka, selama kau selalu berada disampingku untuk membantu aku dalam menghadapi semuanya. Aku selalu berpegang teguh pada True Commitment yang sudah kita janjikan bersama. Kamu ingat kan? Aku sudah beberapa kali mengatakan bahwa, semua permasalahan dan segala sandungan yang kita hadapi saat ini, yaitu sebagai pendewasaan kita sebagai pasangan. Bagaimana kita diuji untuk saling terbuka dalam komunikasi, bagaimana usaha kita berdua untuk menghadapi segala badai yang menggoyangkan perahu kita, bagaimana kita tetap berpegang teguh atas segala ikatan kesetiaan yang pernah kita doakan bersama, dan bagaimana kita ditantang untuk dapat survive dan bangkit dari segala cobaan.
Saat ini aku hanya ingin kita mengucapkan kembali True Commitment kita, untuk mengingatkan kita betapa berharganya suatu hubungan yang disatukan dalam satu ikatan bersama. Untuk mengingatkan betapa pentingnya suatu keterbukaan dan komunikasi dalam suatu hubungan yang dilandaskan dalam satu ikatan bersama. Saat ini kita berdua berada dalam satu perahu ditengah badai yang melanda. Aku yakin selama kita tetap berjalan dan menghadapinya bersama, tidak akan ada yang dapat membalikan perahu kita. Itu yang selalu aku bawa dalam tiap doaku.
Kekasihku, aku juga minta maaf kalau aku menyinggungmu semalam, kalau aku membuat perasaanmu galau.
For you are the one God sent from above. The angel I needed For whom I do love.
Marah atau Kesal?
Semalam boleh dibilang aku tidak terlalu bisa tidur, pikiranku melayang entah memikirkan apa...rasanya terlalu banyak yang aku pikirkan. Menjelang jam 1 pagi aku menerima SMS terakhir dari kekasihku yang mengatakan bahwa dia merasa aku berbeda. Dalam percakapan malam itu aku memang lebih banyak diam...aku tahu kalau aku berbeda, tapi aku tidak ingin membicarakanya. Sebetulnya aku juga tau kalau kekasihku pasti merasa ada yang berbeda dengan diriku, tapi aku juga bersikap tertutup dan tidak mau membagi dengan dirinya.
Aku tahu dia sangat memperhatikan diriku...lebih dari sekedar memperhatikan tetapi cintanya sangat mendalam dan tulus, tapi entah kenapa malam kemarin aku sama sekali tidak ingin bicara. Apapun perkataan yang keluar dari mulutku rasanya seperti sebilah pedang. Semalam salah satu perkataanku membuat kekasihku terluka dan dia merasa bahwa aku menyesal telah menjalin hubungan dengan dirinya. Ketika dia kemukakan hal itu kepada aku, aku semakin diam, aku tidak bermaksud melukai hatinya, aku justru merasa tidak layak menjalin True Commitement ini dengannya, dia terlalu baik, sementara aku terlalu 'bemasalah'. Meskipun aku tau bahwa ketika kami berdua berkomitment dalam menjalin hubungan ini, dia sudah berani mengambil resiko untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan aku, tapi perasaan tidak layak ini tidak dapat aku singkirkan.
Sebenarnya ada masalah apa semalam? Aku juga jadi betanya2 dengan kondisi ini. Apa yah? Semalam kekasihku pergi dengan adik-adiknya untuk makan di salah satu tempat makan yang saat burgernya sangat terkenal saat ini...dia sampaikan hal itu kepadaku...marah karena itu? rasanya bukan...karena buat kami keterbukaan sangat penting. Dia dan aku telah memberikan kebebasan pada diri kami masing-masing untuk memiliki waktu bersama teman-teman main kami sendiri-sendiri. Aku rasa bukan hal yang buruk membangun relasi dengan orang lain, ada kalanya kita butuh waktu untuk bersosialiasi dengan teman-teman kita tanpa pasangan kita. Yang terpenting pasangan kita tahu...kemana dan dengan siapa pasangan kita pergi.
Jadi sebenarnya marah karena apa? Marah? Mungkin tidak bisa dikatakan demikian tapi lebih bahwa aku merasa kesal. Kekesalanku atas kondisi hubungan kami saat ini. Hubungan kami sebenarnya sudah diketahui umum tapi kami tidak bisa mengekspresikan diri kami dan rasa sayang kami apa adanya di depan umum, kami juga bukan orang gila yang tidak mengerti tata krama, sehingga tidak tahu bagaimana kami harus menempatkan diri. Kekesalanku semakin memuncak, ketika malam itu kekasihku berkata bahwa diusia kami yang saat ini sudah menepaki kepala 3, kami harus berpacaran seperti anak kemarin sore, yang setiap gerak gerik kami sangat diperhatikan. Aku tersentak dengan perkataan dia, aku pikir dia menyesali hubungan aku...lalu keluarlah kata-kata dari mulutku yang ternyata berbalik malah melukai dia. Dia justru berpikir sebaliknya bahwa aku yang menyesal telah menjalin hubungan dengan dirinya. Aku jadi semakin diam dan tidak bisa berkata apa-apa. Malam itu akhirnya kami mengakhiri pembicaraan kami dengan sejuta kekesalan yang ada di hati kami masing-masing.
Kekasihku, tidak ada yang dapat kukatakan kepadamu selain maafkanlah sikapku.
Aku tahu dia sangat memperhatikan diriku...lebih dari sekedar memperhatikan tetapi cintanya sangat mendalam dan tulus, tapi entah kenapa malam kemarin aku sama sekali tidak ingin bicara. Apapun perkataan yang keluar dari mulutku rasanya seperti sebilah pedang. Semalam salah satu perkataanku membuat kekasihku terluka dan dia merasa bahwa aku menyesal telah menjalin hubungan dengan dirinya. Ketika dia kemukakan hal itu kepada aku, aku semakin diam, aku tidak bermaksud melukai hatinya, aku justru merasa tidak layak menjalin True Commitement ini dengannya, dia terlalu baik, sementara aku terlalu 'bemasalah'. Meskipun aku tau bahwa ketika kami berdua berkomitment dalam menjalin hubungan ini, dia sudah berani mengambil resiko untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan aku, tapi perasaan tidak layak ini tidak dapat aku singkirkan.
Sebenarnya ada masalah apa semalam? Aku juga jadi betanya2 dengan kondisi ini. Apa yah? Semalam kekasihku pergi dengan adik-adiknya untuk makan di salah satu tempat makan yang saat burgernya sangat terkenal saat ini...dia sampaikan hal itu kepadaku...marah karena itu? rasanya bukan...karena buat kami keterbukaan sangat penting. Dia dan aku telah memberikan kebebasan pada diri kami masing-masing untuk memiliki waktu bersama teman-teman main kami sendiri-sendiri. Aku rasa bukan hal yang buruk membangun relasi dengan orang lain, ada kalanya kita butuh waktu untuk bersosialiasi dengan teman-teman kita tanpa pasangan kita. Yang terpenting pasangan kita tahu...kemana dan dengan siapa pasangan kita pergi.
Jadi sebenarnya marah karena apa? Marah? Mungkin tidak bisa dikatakan demikian tapi lebih bahwa aku merasa kesal. Kekesalanku atas kondisi hubungan kami saat ini. Hubungan kami sebenarnya sudah diketahui umum tapi kami tidak bisa mengekspresikan diri kami dan rasa sayang kami apa adanya di depan umum, kami juga bukan orang gila yang tidak mengerti tata krama, sehingga tidak tahu bagaimana kami harus menempatkan diri. Kekesalanku semakin memuncak, ketika malam itu kekasihku berkata bahwa diusia kami yang saat ini sudah menepaki kepala 3, kami harus berpacaran seperti anak kemarin sore, yang setiap gerak gerik kami sangat diperhatikan. Aku tersentak dengan perkataan dia, aku pikir dia menyesali hubungan aku...lalu keluarlah kata-kata dari mulutku yang ternyata berbalik malah melukai dia. Dia justru berpikir sebaliknya bahwa aku yang menyesal telah menjalin hubungan dengan dirinya. Aku jadi semakin diam dan tidak bisa berkata apa-apa. Malam itu akhirnya kami mengakhiri pembicaraan kami dengan sejuta kekesalan yang ada di hati kami masing-masing.
Kekasihku, tidak ada yang dapat kukatakan kepadamu selain maafkanlah sikapku.
Subscribe to:
Posts (Atom)


