Monday, January 29, 2007

Fears and Faiths

Beberapa lama sejak posting terakhir, aku merasa bahwa semakin dekat aku dengan rencanaku dan kekasihku untuk melangsungkan pernikahan kami, kami semakin dihadapkan dengan berbagai masalah. Selama ini aku berpikir bahwa masalah yang ada dalam hubungan kami, berasal bukan dari keluarga aku, tapi saat ini mulai muncul beberapa kendala dari keluargaku. Beberapa hari belakangan ini, aku sering merasa seperti ada tekanan yang menguras pikiranku. Mulai dari perubahan sikap dari kekasihku yang tiba-tiba, mulai dari munculnya perubahan-perubahan dari rencana pernikahan kami, kadang aku merasakan aku semakin dihadapkan dengan sebuah tembok yang tinggi untuk menggapai impian pernikahanku sendiri.

Suatu hari aku merasakan perubahan sikap yang tidak biasanya dari kekasihku. Biasanya setiap aku melihat perubahan sikap dari kekasihku menjadi bete ataupun murung, aku dapat menenangkan dirinya, but not this time. I definitely cannot let myself to open her mind. Aku sama sekali melihat dirinya bukan dirinya saat itu. Apa yang aku bicarakan atau sampaikan dengannya, seakan tidak berarti. Sore harinya kami ikut misa, saat itu aku melihat pertama kalinya kami pergi misa dengan hati penuh kekecewaan. Pertama kalinya kami ikut misa dengan hati penuh kegalauan. Ketika selesai misa, aku menghantar kekasihku pulang, aku sempat untuk tidak berlama-lama dirumahnya dengan harapan aku dapat menenangkan diriku dirumahkui, saat itu pula aku kekasihku berkata bahwa orang tuanya hendak berbicara denganku. Pembicaraan yang kami lakukan dengan keluarganya seputar kemantapan kami dalam menjalin hubungan kami; lalu kami membicarakan masalah tempat tinggal kami. Pada saat kami melakukan pembicaraan tersebut, aku merasakan kekasihku mulai hangat kepadaku.
Selesai pembicaraan keluarga itu, aku merasakan bahwa aku sudah mendapatkan apa yang aku harapkan dari keluarga kekasihku. Tapi saat itu pula aku melihat kekasihku kembali dengan perubahan sikapnya yang tadi. Ketika kami tiba di gereja untuk suatu pertemuan, saat itulah aku melihat kekasihku yang benar-benar tertutup atas diriku. Apapun caraku untuk menenangkan dirinya, selalu dibalas dengan diam. Yang aku sesalkan saat itu adalah aku sempat melepaskan amarahku didalam rumah Tuhan dihadapan kekasihku untuk menunjukkan ketidakberdayaanku saat itu untuk membuka hati kekasihku. Aku coba berdoa didepan altar Tuhan untuk menenangkan diriku sendiri, tapi itu tetap tidak berhasil. Ketika kekasihku menghampiriku untuk menenangkanku, aku coba untuk tenang. Akhirnya kami terlibat dalam suatu pembicaraan mengenai perubahan sikapnya. Lalu kami keluar dari gereja setelah berdoa bersama. Salah satu ketakutanku mulai terlihat, dimana aku pernah merasakan bahwa suatu saat akan datang ketika aku tidak dapat mengatasi kekawatiran dan ketakutan kekasihku.
Sekembalinya kami kerumah masing-masing, kekasihku menelponku. Dalam pembicaraan kami ditelpon, aku mulai melihat bahwa hubungan kami sudah mulai membaik kembali. Kami mulai membicarakan mengenai hubungan kami, mengenai janji kami, mengenai True commitment kami yang kami gunakan sebagai landasan utama hubungan kami agar kami selalu ingat akan janji awal kami dalam menjalani hubungan kami.
Kekasihku, segala ketakutan dan segala kekawatiran yang ada dalam hubungan kita, adalah suatu awal dari rencana indah yang menanti kita. Aku hanya berharap bahwa kita dapat saling mengingatkan akan janji awal kita tentang Ikatan Sejati yang kuharap, akan selalu menjadi kunci dalam menyatukan hubungan kita yang dapat setiap saat diterpa badai. So many times and so many ways I didn't know just where to go. You gave me a sign and opened my eyes. That's the reason why I know that you are different, you're still here I guess you figured me out right then. Now I believe that we can make it through. So my love, whatever you feel, whoever you are, I love you just the way you are...... if you realy wanna make our dreams come true, please have faith.......

Friday, January 05, 2007

KEGALAUANKU ……

Memasuki dua bulan berjalan usia hubungan kami, aku dan kekasihku mulai menemui konflik di antara kami….beberapa hari ini kami sering berselisih pendapat dan merasa berada pada posisi berseberangan.

Kalau orang bilang 1 tahun pertama masa pacaran adalah masa bulan madu dari masa pacaran itu sendiri, rasanya itu tidak terjadi pada kami. Hari-hari yang kami lewati memang baru 2 bulan berjalan dan sebentar lagi segera mendekati masa 3 bulan, tapi rasanya kami sudah berdampingan dalam waktu yang cukup lama. Jikalau ditanya berapa hari yang sudah kami lalui…mungkin bisa dihitung dari kumpulan Wishing Star yang setiap malam aku buat, yang aku gunakan untuk menandai hari-hari yang boleh aku lalui dengan kekasihku, walaupun tanpa tatap muka mungkin hanya tegur sapa lewat telepon saja.

Namun permasalahan yang kami hadapi…datang silih berganti, kami tidak mengeluh dengan adanya permasalahan-permasalahan ini, karena buat kami setiap permasalahan yang datang merupakan ujian atas hubungan kami yang akan membuat diri kami bertumbuh dan semakin dewasa dalam menjalani hubungan ini.

Hanya saja kejadian 2 hari terakhir ini yang sudah aku coba untuk lupakan ternyata masih menyisakan kegalauan di hatiku, aku telah berusaha menepis perasaan itu tetapi sulit bagiku untuk terbebas darinya dan tanpa kusadari hal ini mempengaruhi mood aku, sehingga beberapa kali aku dan kekasihku besinggungan kerena apa yang kusampaikan ditangkapnya secara berbeda demikian juga dengan dirinya. Aku merasa kami berdua jadi sangat sensitive, hal-hal kecil mungkin kedengarannya sepele bisa membuat kami kesal.

Bebagai hal yang berkaitan dengan rencana pernikahan kami, selain membuat diri kami sangat exciting juga memberikan beban, karena kami juga masih mesti mengadakan beberapa penyesuaian dengan pihak keluarga. Inilah sulitnya berdiri sebagai orang asia dengan adat ketimurannya, berbeda dengan keluarga western yang memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk menentukan sendiri rencana-rencana mereka.

Di satu sisi aku memang sangat western-minded tapi di sisi lain aku juga eastern-minded. Namun dalam hal moment sekali seumur hidupku rasanya ingin aku dan kekasihku bisa menentukan sendiri apa yang kami inginkan dan mewujudkan impian kami itu tanpa interupsi, namun bukan berarti aku tidak menghormati pendapat orang tua, adalah hal-hal dimana aku juga masih mau mengikuti kemauan orang tua kami.

Aku sempat membicarakan hal ini secara selewat dengan kekasihku, namun aku merasa pembicaraan kami seakan menggantung, Pembicaraan diakhir dengan sepotong kalimat “Nanti kita bicarakan.” Dan sikap cueknya membuat aku merasa segala sesuatu yang aku titipkan untuk dilakukannya menjadi hal-hal yang tidak penting. Aku bingung dengan sikapnya ini dan betanya-tanya “Apakah dia berubah pikiran?”

Pagi ini ketika kekasihku menghubungiku dan mengatakan bahwa dia merindukan diriku, kukatakan aku tidak merindukannya. Aku merasakan bahwa dia sempat tertegun dan berusaha untuk menggoda diriku dengan mengatakan bahwa aku berbohong dengan perasaanku sendiri. Aku tetap tidak mau menjelaskan perasaanku padanya. Aku menangkap kekecewaan pada nada suaranya saat dia menutup telepon, ingin rasanya aku bisa menghiburnya tapi entah kenapa seolah-olah hatiku beku. Perkataannya yang ringan dan mungkin hanya ditujukan untuk menggodaku…lebih banyak membuat aku terdiam. Kecewakah aku atas sikapnya sehingga aku jadi seperti ini? Harus kuakui jawabnya Ya! sama halnya dengan bohongkah aku dengan perasaanku yang sebenarnya? Jawabnya juga sama, aku tidak pernah tidak merindukannya. Semalam ketika aku terjaga dan menemukan adanya miss-called dan SMS darinya aku merasa sangat menyesal kehilangan waktu itu. Oh Tuhan….kenapa hatiku begitu galau? Dan sangat sulit bagiku untuk menyampaikan hal ini kepadanya karena aku takut…..membuatnya terluka.