Monday, July 30, 2007

Hard Rain

I’ve heard so many times from my friends or people that I know, they said, the closer we get to the Wedding day, the more pressures and conflicts that we may confront. I was once wished that the conflict will never get to us. But the fact is, we get more and more conflicts then I expected. It starts from the small stuff that we’ve talked about and we have some different perspective about how to look at the things, from there then comes the conflicts. When someone announces their intentions to marry, the usual (and desired) response is joy, excitement, and immediately going into “planning” mode. Why, then, is there so much stress?

Each of us has some expectations about what our own wedding and the months leading up to it and the years after it will be. We also have varying degrees of flexibility when it comes to change. The process of falling in love, becoming engaged, getting married, and then defining yourself as a “wife” or a “husband” and also as a couple requires a significant amount of adjustment.

Most of us are not emotionally prepared for such a momentous occasion as a wedding. Moreover, since every courtship and every wedding is different, our experience will be unique to us. The goal is not to have a stress-free wedding experience, but a wedding that is both a meaningful experience of our lifetime, and one that we and those involved can handle. Given that a wedding involves a) being asked to make a huge change in one's life; b) making both a decision and lifetime commitment; c) adjusting to our own and someone else’s family; d) being the center of attention.

From the beginning of our wedding plan, we are not expecting everything to be conflict free. Couples need to learn to expect these issues and agree on success strategies to help them work together to manage these in their relationship. Every time that I had a conflict with my fiancée, I always keep one thought in my mind that this is a part of one huge learning process where we can learn about each self.

I got to admitted that in the past few days, I feels like we’re having some real conflicts.
Sometimes I feel like I don’t understand about my fiancée, sometimes I feel like I have so much differences that appears during the wedding plan.

The most disappointed things is that, when I give you something that can be wear together and you don’t like it at all. It’s not about the design or the mistakes that appears in that, but it’s more about the times where I never give you anything so special for you though it’s hard for me to accept the denial, still I have to accepted it. Should we always bear the conflicts that we had? Should we always be like this? Where are the warmth, the love and the sincere feelings that we used to have? I just wished that soon it’ll be over and we can be back to what we used to be………..

Friday, May 18, 2007

The Proposal

Tidak terasa hari ini sudah hampir genap 1 (satu) bulan dari peristiwa penting dalam perjalanan hidup aku dan kekasihku. Inilah kilas balik perjalanan kami.

Kurang lebih sepuluh hari sebelum tanggal 22 April 2007, kekasihku menyampaikan bahwa orangtuanya bermaksud datang bertemu dengan orangtuaku untuk meminta aku dari keluargaku sebagai calon menantu keluarga mereka. Saat itu kusampaikan pada kekasihku agar menyampaikan langsung pada orangtuaku. Setelahnya keluarga kami berdua sibuk membicarakan aturan-aturan yang berlaku untuk acara lamaran tersebut. Biasalah setiap keluarga memiliki tradisi leluruh yang patut dilestarikan. Walaupun dalam beberapa hal kadang aku merasa tradisi ini sangatlah kolot dan kurang up-to-date, namun kami juga masih dapat mentoleransi tradisi tersebut

“Aku dilamar!”, begitulah petikan kalimat yang terucap pada salah satu slot iklan yang sempat terkenal beberapa waktu yang lalu, dan kalimat inilah yang bisa aku ambil sebagai gambaran peristiwa yang boleh aku alami di hari itu. Sebuah acara lamaran keluarga yang sangat kental sebagai tradisi yang berkembang buat kita orang-orang yang Asia yang mempunyai hubungan kekerabatan sangat erat dengan orangtuanya. Sangat berbeda dengan acara lamaran orang-orang barat yang biasanya tidak melibatkan orangtua sama sekali, hanya antara pasangan kekasih yang selanjutnya dilanjutkan dengan lamaran calon mempelai pria kepada keluarga calon mempelai wanita.

Aku dan kekasihku lahir dalam generasi yang berbeda dengan orang tua kami, sehingga pemikiran dan cara pandang kamipun berbeda dengan orang tua kami. Namun seiriang dengan waktu, perjalanan hidup yang aku jalani, mulai dari keluarga, teman, lingkungan kerja, pergaulan dan pengatahuan yang aku serap sepanjang perjalanan itu membuat aku menjadikan aku memiliki pemikiran yang mix antara budaya barat dan timur. Ini merupakan sebuah langkah yang sedikit bertolak belakang dengan keluarga kami, namun aku merasa cukup beruntung karena orangtuaku cukup dapat menerima perbedaan pendapat diantara kami, sehingga perbedaan pandangan diantara kami seringkali dapat kami jembatani dan kami bisa menerima pemikiran satu sama lain secara damai. Terbiasa dengan kondisi ini aku sudah berada dalam zona nyaman.

Dan hal inilah yang ternyata menjadi satu permasalahan antara aku dengan kekasihku. Ketika aku mengenalnya, aku merasa dia cukup open-minded, tetapi semakin aku mengenalnya aku dapat memahami bahwa keluarganya memiliki tradisi dan cara hidup yang lebih kolot daripada keluargaku. Tak dapat dipungkiri hal ini tercermin pada diri kekasihku, dari bagaimana dia bersikap. Pemikiran aku tentang mengadaptasi budaya barat ke dalam budaya timur juga sudah cukup sering menjadi masalah buat aku dengannya, karena dia merasa aku terlalu banyak berkiblat pada budaya barat. Padahal kalau budaya itu tidak bisa mauk pada budaya timur kami, akupun tetap berpegang teguh pada budaya timur yang sudah aku kenal dari keluargaku semenjak masa kanak-kanakku.

Secara tersirat aku sebenarnya pernah mengungkapkan impianku untuk sebuah acara lamaran yang dipersiapkan oleh kekasihku hanya untuk kami berdua, sebelum dirinya meminta orangtuanya datang menemui keluargaku. Aku rasa hampir semua perempuan memiliki impian untuk memiliki peristiwa lamaran yang romantis untuk di kenang sepanjang hidupnya. Tetapi kekasihku sepertinya tidak menangkap apa yang kusampaikan padanya, karena hingga keluarganya datang menemui orangtuaku, dia tidak pernah memberikan ‘surprise’ itu untukku. Lucunya beberapa hari sesudah acara lamaran itu, kekasihku memandangi pemberian orangtuanya yang tidak kulepas lagi semenjak mamanya memasangkannya padaku, dan dia secara tersirat mengungkapkan keinginannya untuk memiliki benda pengikat antara aku dan dia yang kuberikan padanya, entah dia sadar atau tidak akan perkataannya itu, yang pasti hati kecilku menjerit, bahwa itu adalah impian yang sama yang pernah kuungkapkan padanya namun sepertinya hilang begitu saja ditelan bumi.

Jangan katakan aku kecewa, karena buat aku sulit menemukan kata yang tepat untuk menggambarkannya? Dalam beberapa hal aku merasa dia kurang ‘romantis’. Aku pernah membicarakan hal ini dengan dirinya dan dia merasa kecewa dengan perkataanku itu, karena buat dia ada beberapa hal yang sudah dia lakukan dan dia merasa hal itu romantis, sementara aku menilainya biasa saja. Walaupun mantan kekasihku (saat ini statusnya tunaganku) tidak dapat mewujudkan impian itu tidak terwujud bukan berarti hal ini mengurangi rasa kasihku padanya.

Monday, April 02, 2007

My Longing

Sudah beberapa saat sejak posting aku terakhir, aku merindukan untuk menulis di blog ini. Kesibukan-demi kesibukan yang kami berdua hadapi dalam merencanakan hari pernikahan kami, aku sempat lupa untuk menuangkan pikiranku kedalam blog ini.
Beberapa lama belakangan ini, kami sangat sensitif dengan beberapa hal baru, seperti warna tertentu, bentuk tertentu, dan hal-hal baru ini yang menjadi suatu bentuk ikatan baru dalam hubungan kami.
Ada satu hari dimana buatku adalah hari yang membahagiakan dalam hidupku, hari dimana keluargaku dan keluarga kekasihku bertemu dalam suasana Imlek. Beberapa hari sebelum menjelang pertemuan ini, kami berdua sempat gugup, apakah hasil pertemuan ini sesuai dengan harapan kami ataukah malah menjadi suatu sandungan dalam hubungan kami. Ternyata setelah keluarga kami bertemu, hasilnya memang sesuai dengan harapan kami, kami berdua mendapatkan restu dari pihak keluarga dalam menjalani hubungan kami. Satu hal yang paling membahagiakan dalam hidupku dan belum pernah kurasakan sebelumnya, keluargaku dan keluarga kekasihku saling bertemu dan beramah tamah. Hal yang masih kunantikan adalah saat dimana keluargaku bertemu dengan kekasihku untuk meminang kekasihku. Selama ini, setiap aku membina hubungan dengan seseorang, aku belum pernah sekalipun merasakan hal seperti ini.
Setelah pertemuan keluarga itu, aku dan kekasihku mulai disibukkan kembali dengan berbagai hal tentang rencana pernikahanku. Sempat kami berselisih kecil mengenai perbedaan pendapat kami, tapi kami dapat mengatasinya dengan komunikasi kami. Kami selalu saling mengingatkan betapa penting dan berharganya arti dari sebuah commitment, dan hal itu pulalah yang selalu menjadi kayu gelondongan kami agar kami dapat saling berpegangan dan survive dari segala rintangan yang kami hadapi. Aku semakin menyadari betapa takutnya aku kehilangan sebuah pemberian Tuhan yang sangat berharga ini, dan aku selalu membawa hal ini dalam setiap doaku, agar kami selalu diikatkan hati kami dalam kasih Tuhan.

Kekasihku, semakin kita dekat dengan hari dimana kita akan disatukan dalam persatuan suci, semakin aku menyadari bahwa betapa pentingnya ikatan yang selama ini kita pegang dan kita jaga, agar kita semakin dikuatkan hingga hari yang kita nantikan tiba. Kamipun sadar bahwa problem/masalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan dan selalu ada cara untuk mengatasinya serta selalu ada hikmah di balik masalah, maka kita tidak akan lari dari masalah tersebut, dan kita harus saling berpegangan tangan dalam setiap permasalahan yang kita hadapi.
Aku sangat bersyukur ketika Tuhan mempertemukan kita dengan caraNya yang unik dan indah, dan aku akan selalu berusaha untuk menjaga hubungan yang telah diberikan Tuhan.

I love you so much, my miracle, my life, my one-winged angel...

Sunday, February 25, 2007

Storm Problems

Sudah satu bulan lebih dari postingku yang terakhir dan sejak itu aku bergumul dengan perasaanku dan permasalahanku, biasanya aku berusaha membagi beban pikiranku pada kekasihku melalui postingku disini, tapi kali ini aku lebih memilih untuk diam dan tidak menuliskan satupun dari masalahku disini.

Hari ini tepat 4 bulan perjalanan perkenalan aku dengan kekasihku dalam koridor hubungan yang serius. Kami tidak punya rencana besar apapun untuk hari ini, yang kami inginkan hanya waktu untuk bersama, dimana kami bisa bersama tanpa harus memikirkan hal-hal lain diluar diri kami. Mungkin kedengaran egois, tapi kami membutuhkan waktu itu, setelah rangkaian Storm Problems yang boleh kami alami beberapa waktu yang lalu.

Dalam kurun waktu satu bulan terakhir ini, sudah banyak permasalahan yang datang menghampiri hubungan kami berdua, dan kami berdua berhasil mengatasi pemasalahan-permasalahan itu, walaupun dalam perjalanan menghadapi permasalahan yang ada, tidak bisa kami pungkiri bahwa aku dan kekasihku terluka. Terutama ketika kami akhirnya kami berdua berselisih paham satu sama lain. Aku secara pribadi menyadari bahwa aku memiliki andil cukup besar dalam memperumit perselisihan yang ada diantara kami. Entah kenapa aku menjadi orang yang sangat sulit untuk diajak bernegosiasi dan berbicara secara terbuka. Mood aku secara mudah berubah up and down, aku jadi cenderung lebih sensitif dan mudah terpicu untuk jadi bad mood.

Tak jarang kekasihku harus menghadapi perubahan sikapku yang sangat cepat ini, sebentar senang dan sebentar lagi BT. Anehnya perubahan sikap ini tidak memandang topik pembicaraan yang sedang kami bicarakan, baik itu pembicaaan ringan maupun berat selalu saja berakhir dengan output yang sama, yaitu kami terlibat dalam debat masalah yang mengesalkan.

Biasanya ketika perselisihan mulai timbul, nada bicara kami mulai meninggi, sehingga kami salah mengartikan perkataan yang hendak disampaikan pasangan kami. Maksudnya baik, tapi nada tinggi itu menyebabkan kami merasa bahwa lawan bicara kami sedang marah. Dan akhirnya biasanya aku jadi kesal, dan semakin tinggi nada bicara kekasihku, maka emosiku semakin mendaki puncaknya, hingga akhirnya aku memutuskan untuk diam seribu bahasa.

Saat aku mulai diam, kekasihku baru mulai menyadai perubahan sikapku. Dia pun terdiam dan secara perlahan-lahan dia mulai mengajak aku berkomunikasi, sayangnya sering kali ketika sikapnya mulai melembut, hatiku sudah mengeras. Aku merasa kecewa terhadapnya, aku menterjemahkan sikapnya itu sebagai marah dan tidak sejalan dengan aku. Jika sudah begini situasinya, kekasihku merasa aku sedang membangun tembok pemisah diantara kami berdua.
Semakin dia mempersalahkan diriku, semakin terkunci rapat mulut ini untuk bicara. Aku semakin mengalami kesulitan besar untuk menyampaikan perasaan marahku dan hal-hal yang menganggu pikiranku, sehingga kekasihku berusaha untuk menterjemahkan sendiri sikapku ini.

Dengan kesabarannya kekasihku terus mengajak aku berkomunikasi, walaupun aku terus diam, aku terus mendengarkan setiap patah kata yang diucapkannya. Semarah apapun aku pada dirinya, aku berusaha untuk tidak membantah perkataannya. Aku sendiri berperang dengan perasaanku, aku sangat ingin mengkomunikasikan pada kekasihku apa yang mengganggu pikiranku ini, tapi aku tidak bisa. Aku ingin mengakhiri perselisihan diantara kami, tapi lidah ini terasa kelu dan sulit untuk diajak bekerjasama. Untungnya perang batin itu akhirnya bisa aku menangkan dan aku mulai mencoba untuk berkomunikasi dengan kekasihku, walaupun dengan potongan-potongan kalimat yang jedanya cukup jauh antara satu kalimat dengan kalimat lainnya. Dan sekali lagi dengan telaten kekasihku merangkum potongan-potongan kalimat yang aku ucapkan itu sehingga dia mengerti apa yang aku ingin sampaikan.

Dalam banyak peristiwa kekasihku kembali mengingatkan aku bahwa, aku harus terus berusaha untuk mengkomunikasikan isi hati dan pikiranku kepadanya, sehingga dia tidak harus bingung dengan perubahan sikapku, dan dia juga kembali mengingatkan bahwa all my fears have to be fight with the faith.....dan kembali dia mengingatkan tentang True Commitment yang sudah kami bangun sebagai landasan dari hubungan kami selama ini.

Aku sangat mengagumi kebesaran jiwa kekasihku untuk tidak saling menyalahkan satu sama lain. Dia tidak menganggap bahwa dia benar dan aku salah, begitu juga sebaliknya. Buat dia masalah ini merupakan badai yang harus kami hadapi bersama, oleh karenanya ketika aku down dia merasa harus menarik aku agar tidak jatuh terperosok semakin dalam. Ada sebuah perumpamaan yang dia sampaikan padaku, yaitu kami berdua berada di tengah lautan dengan sebatang kayu gelondongan untuk kami berpegang, kemudian badai menghampiri kami dan aku terlepas dari kayu itu, dia mau menolong aku untuk kembali berpegang pada kayu gelodongan itu tapi untuk itu tidak cukup dengan usahanya saja, aku juga harus memiliki keinginan untuk kembali. Kayu gelodongan itu dia gambarkan sebagai true commitment yang melandasi hubungan kami, sementara badai merupakan fears atau storm problems yang mesti kami hadapi dan keinginan untuk kembali adalah faith atas hubungan yang kami miliki.

Dear my love no matter how hard the storm that come and try to distract our relationship, I have the same opinion with you and you are precisely right that when we're facing the storm, we always have fears that we have to fight with the faith based on our True Commitment.
I love you just the way you are and I’m very pleased of you, thanks for the faith that you have for me; especially you desire to rest all of your life with me and to love me with your ways.

Monday, January 29, 2007

Fears and Faiths

Beberapa lama sejak posting terakhir, aku merasa bahwa semakin dekat aku dengan rencanaku dan kekasihku untuk melangsungkan pernikahan kami, kami semakin dihadapkan dengan berbagai masalah. Selama ini aku berpikir bahwa masalah yang ada dalam hubungan kami, berasal bukan dari keluarga aku, tapi saat ini mulai muncul beberapa kendala dari keluargaku. Beberapa hari belakangan ini, aku sering merasa seperti ada tekanan yang menguras pikiranku. Mulai dari perubahan sikap dari kekasihku yang tiba-tiba, mulai dari munculnya perubahan-perubahan dari rencana pernikahan kami, kadang aku merasakan aku semakin dihadapkan dengan sebuah tembok yang tinggi untuk menggapai impian pernikahanku sendiri.

Suatu hari aku merasakan perubahan sikap yang tidak biasanya dari kekasihku. Biasanya setiap aku melihat perubahan sikap dari kekasihku menjadi bete ataupun murung, aku dapat menenangkan dirinya, but not this time. I definitely cannot let myself to open her mind. Aku sama sekali melihat dirinya bukan dirinya saat itu. Apa yang aku bicarakan atau sampaikan dengannya, seakan tidak berarti. Sore harinya kami ikut misa, saat itu aku melihat pertama kalinya kami pergi misa dengan hati penuh kekecewaan. Pertama kalinya kami ikut misa dengan hati penuh kegalauan. Ketika selesai misa, aku menghantar kekasihku pulang, aku sempat untuk tidak berlama-lama dirumahnya dengan harapan aku dapat menenangkan diriku dirumahkui, saat itu pula aku kekasihku berkata bahwa orang tuanya hendak berbicara denganku. Pembicaraan yang kami lakukan dengan keluarganya seputar kemantapan kami dalam menjalin hubungan kami; lalu kami membicarakan masalah tempat tinggal kami. Pada saat kami melakukan pembicaraan tersebut, aku merasakan kekasihku mulai hangat kepadaku.
Selesai pembicaraan keluarga itu, aku merasakan bahwa aku sudah mendapatkan apa yang aku harapkan dari keluarga kekasihku. Tapi saat itu pula aku melihat kekasihku kembali dengan perubahan sikapnya yang tadi. Ketika kami tiba di gereja untuk suatu pertemuan, saat itulah aku melihat kekasihku yang benar-benar tertutup atas diriku. Apapun caraku untuk menenangkan dirinya, selalu dibalas dengan diam. Yang aku sesalkan saat itu adalah aku sempat melepaskan amarahku didalam rumah Tuhan dihadapan kekasihku untuk menunjukkan ketidakberdayaanku saat itu untuk membuka hati kekasihku. Aku coba berdoa didepan altar Tuhan untuk menenangkan diriku sendiri, tapi itu tetap tidak berhasil. Ketika kekasihku menghampiriku untuk menenangkanku, aku coba untuk tenang. Akhirnya kami terlibat dalam suatu pembicaraan mengenai perubahan sikapnya. Lalu kami keluar dari gereja setelah berdoa bersama. Salah satu ketakutanku mulai terlihat, dimana aku pernah merasakan bahwa suatu saat akan datang ketika aku tidak dapat mengatasi kekawatiran dan ketakutan kekasihku.
Sekembalinya kami kerumah masing-masing, kekasihku menelponku. Dalam pembicaraan kami ditelpon, aku mulai melihat bahwa hubungan kami sudah mulai membaik kembali. Kami mulai membicarakan mengenai hubungan kami, mengenai janji kami, mengenai True commitment kami yang kami gunakan sebagai landasan utama hubungan kami agar kami selalu ingat akan janji awal kami dalam menjalani hubungan kami.
Kekasihku, segala ketakutan dan segala kekawatiran yang ada dalam hubungan kita, adalah suatu awal dari rencana indah yang menanti kita. Aku hanya berharap bahwa kita dapat saling mengingatkan akan janji awal kita tentang Ikatan Sejati yang kuharap, akan selalu menjadi kunci dalam menyatukan hubungan kita yang dapat setiap saat diterpa badai. So many times and so many ways I didn't know just where to go. You gave me a sign and opened my eyes. That's the reason why I know that you are different, you're still here I guess you figured me out right then. Now I believe that we can make it through. So my love, whatever you feel, whoever you are, I love you just the way you are...... if you realy wanna make our dreams come true, please have faith.......

Friday, January 05, 2007

KEGALAUANKU ……

Memasuki dua bulan berjalan usia hubungan kami, aku dan kekasihku mulai menemui konflik di antara kami….beberapa hari ini kami sering berselisih pendapat dan merasa berada pada posisi berseberangan.

Kalau orang bilang 1 tahun pertama masa pacaran adalah masa bulan madu dari masa pacaran itu sendiri, rasanya itu tidak terjadi pada kami. Hari-hari yang kami lewati memang baru 2 bulan berjalan dan sebentar lagi segera mendekati masa 3 bulan, tapi rasanya kami sudah berdampingan dalam waktu yang cukup lama. Jikalau ditanya berapa hari yang sudah kami lalui…mungkin bisa dihitung dari kumpulan Wishing Star yang setiap malam aku buat, yang aku gunakan untuk menandai hari-hari yang boleh aku lalui dengan kekasihku, walaupun tanpa tatap muka mungkin hanya tegur sapa lewat telepon saja.

Namun permasalahan yang kami hadapi…datang silih berganti, kami tidak mengeluh dengan adanya permasalahan-permasalahan ini, karena buat kami setiap permasalahan yang datang merupakan ujian atas hubungan kami yang akan membuat diri kami bertumbuh dan semakin dewasa dalam menjalani hubungan ini.

Hanya saja kejadian 2 hari terakhir ini yang sudah aku coba untuk lupakan ternyata masih menyisakan kegalauan di hatiku, aku telah berusaha menepis perasaan itu tetapi sulit bagiku untuk terbebas darinya dan tanpa kusadari hal ini mempengaruhi mood aku, sehingga beberapa kali aku dan kekasihku besinggungan kerena apa yang kusampaikan ditangkapnya secara berbeda demikian juga dengan dirinya. Aku merasa kami berdua jadi sangat sensitive, hal-hal kecil mungkin kedengarannya sepele bisa membuat kami kesal.

Bebagai hal yang berkaitan dengan rencana pernikahan kami, selain membuat diri kami sangat exciting juga memberikan beban, karena kami juga masih mesti mengadakan beberapa penyesuaian dengan pihak keluarga. Inilah sulitnya berdiri sebagai orang asia dengan adat ketimurannya, berbeda dengan keluarga western yang memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk menentukan sendiri rencana-rencana mereka.

Di satu sisi aku memang sangat western-minded tapi di sisi lain aku juga eastern-minded. Namun dalam hal moment sekali seumur hidupku rasanya ingin aku dan kekasihku bisa menentukan sendiri apa yang kami inginkan dan mewujudkan impian kami itu tanpa interupsi, namun bukan berarti aku tidak menghormati pendapat orang tua, adalah hal-hal dimana aku juga masih mau mengikuti kemauan orang tua kami.

Aku sempat membicarakan hal ini secara selewat dengan kekasihku, namun aku merasa pembicaraan kami seakan menggantung, Pembicaraan diakhir dengan sepotong kalimat “Nanti kita bicarakan.” Dan sikap cueknya membuat aku merasa segala sesuatu yang aku titipkan untuk dilakukannya menjadi hal-hal yang tidak penting. Aku bingung dengan sikapnya ini dan betanya-tanya “Apakah dia berubah pikiran?”

Pagi ini ketika kekasihku menghubungiku dan mengatakan bahwa dia merindukan diriku, kukatakan aku tidak merindukannya. Aku merasakan bahwa dia sempat tertegun dan berusaha untuk menggoda diriku dengan mengatakan bahwa aku berbohong dengan perasaanku sendiri. Aku tetap tidak mau menjelaskan perasaanku padanya. Aku menangkap kekecewaan pada nada suaranya saat dia menutup telepon, ingin rasanya aku bisa menghiburnya tapi entah kenapa seolah-olah hatiku beku. Perkataannya yang ringan dan mungkin hanya ditujukan untuk menggodaku…lebih banyak membuat aku terdiam. Kecewakah aku atas sikapnya sehingga aku jadi seperti ini? Harus kuakui jawabnya Ya! sama halnya dengan bohongkah aku dengan perasaanku yang sebenarnya? Jawabnya juga sama, aku tidak pernah tidak merindukannya. Semalam ketika aku terjaga dan menemukan adanya miss-called dan SMS darinya aku merasa sangat menyesal kehilangan waktu itu. Oh Tuhan….kenapa hatiku begitu galau? Dan sangat sulit bagiku untuk menyampaikan hal ini kepadanya karena aku takut…..membuatnya terluka.