Pagi ini, halaman beberapa WA group yang aku ikuti, diramaikan berita duka cita atas berpulangnya seorang pastor senior bernama Rm. Lambertus Martinus Van Den Heuvel Sugiri, SJ. Beliau dikenal dengan panggilan Rm. Sugiri dan bertugas di Paroki St. Theresia, Jakarta.
13 atau 14 tahun yang lalu kami (aku dan suami) pernah bertatap muka, berbicang secara langsung dengan beliau, kala itu pertemuan dilakukan untuk meminta ijin melakukan Sakramen Perkawinan di Gereja St. Theresia, karena jadwal Sakaramen Perkawinan di paroki kami, untuk tanggal pernikahan yang telah dipilih oleh keluarga telah penuh. Gereja Theresia menjadi pilihan kedua kami, karena saya mempunyai kenangan tumbuh berkembang dalam iman dalam gereja ini, selain itu lokasinya yang tidak terlampau jauh dari paroki asal kami dan juga karena gereja Katolik dimanapun berada merupakan satu kesatuan yang utuh sehingga kita akan menemui ritual ibadah yang sama.
Tentunya sebagai calon mempelai, kami mempunyai impian akan pernikahan kami di gereja, apalagi kalau punya hobby nonton film-film drama romatis, akan banyak inspirasi datang dari sana.
Pertemuan dan perbincangan dengan Rm. Sugiri ini menjadi begitu berkesan dan tidak terlupakan bagi kami berdua, walau pada akhirnya kami tidak melakukan Sakramen Perkawinan di gereja St. Theresia tapi infomasi dan pesan yang disampaikannya menjadi seauatu yang selalu kami ingat.
Rm. Sugiri berpesan, jadikan Sakaramen Perkawinan itu sebagai sebuah awal persatuan mempelai dengan Tuhan.
1. Tidak perlu sesuatu yang mahal terlihat fancy ataupun glamour untuk dekorasi gereja, cukup lakukan sesuai kemampuanmu, karena apapun dimata Tuhan adalah sama. Kalau kamu merasa memiliki uang lebih berikan dalam bentuk sumbangan pada gereja akan jauh lebih bermanfaat.
2. Tidak perlu iringan paduan suara 'ternama atau terkenal', cukup pilihlah puji-pujian yang sesuai dengan aturan dan ritual gereja.
3. Dalam ritual Pernikahan Katolik, penyerahan kedua mempelai dilakukan orang tua dipintu gereja. Imam akan datang menjemput mempelai di pintu gereja. Ritual ini mengajarkan nilai kesetaraan, Gereja menghargai pria dan wanita sebagai mahluk ciptaan yang setara dihadapan Tuhan. Karena saat pria dan wanita memutuskan menikah, maka mereka telah memilih jalan hidupnya untuk mencintai dan membangun hidup berkeluarga. Sehingga saat mempelai melangkah memasuki gereja bersama, Tuhan sudah menerima mereka sebagai satu keluarga. Jangan temakan romantisme film dimana mempelai perempuan diantar Ayahnya ke pada mempelai pria di depan altar, karena dimata Tuhan kita adalah sama, dan ritual mempelai diantar kepada mempelai pria bukanlah aturan gereja Katolik karena memberi kesan mempelai wanita 'dibeli' oleh mempelai pria.
Hari ini saat mendengar kabar atas berpulangnya Rm. Sugiri ke rumah Bapa di Surga.... kami menuliskan pesan ini dalam blog kami untuk mengenang dan mengingatkan pesan dan ajarannya yang sangat berarti bagi kami.
Selamat Jalan Rm. Sugiri, SJ..... engkau sudah menang dalam nama Kristus..... doakan kami yang masih berziarah di dunia ini.
#rmsugiri #riprmsugiri #pesanuntukcalonmempelai #aturangerejakatolik
Thursday, June 11, 2020
Subscribe to:
Posts (Atom)


