Tidak terasa hari ini sudah hampir genap 1 (satu) bulan dari peristiwa penting dalam perjalanan hidup aku dan kekasihku. Inilah kilas balik perjalanan kami.
Kurang lebih sepuluh hari sebelum tanggal 22 April 2007, kekasihku menyampaikan bahwa orangtuanya bermaksud datang bertemu dengan orangtuaku untuk meminta aku dari keluargaku sebagai calon menantu keluarga mereka. Saat itu kusampaikan pada kekasihku agar menyampaikan langsung pada orangtuaku. Setelahnya keluarga kami berdua sibuk membicarakan aturan-aturan yang berlaku untuk acara lamaran tersebut. Biasalah setiap keluarga memiliki tradisi leluruh yang patut dilestarikan. Walaupun dalam beberapa hal kadang aku merasa tradisi ini sangatlah kolot dan kurang up-to-date, namun kami juga masih dapat mentoleransi tradisi tersebut
“Aku dilamar!”, begitulah petikan kalimat yang terucap pada salah satu slot iklan yang sempat terkenal beberapa waktu yang lalu, dan kalimat inilah yang bisa aku ambil sebagai gambaran peristiwa yang boleh aku alami di hari itu. Sebuah acara lamaran keluarga yang sangat kental sebagai tradisi yang berkembang buat kita orang-orang yang Asia yang mempunyai hubungan kekerabatan sangat erat dengan orangtuanya. Sangat berbeda dengan acara lamaran orang-orang barat yang biasanya tidak melibatkan orangtua sama sekali, hanya antara pasangan kekasih yang selanjutnya dilanjutkan dengan lamaran calon mempelai pria kepada keluarga calon mempelai wanita.
Aku dan kekasihku lahir dalam generasi yang berbeda dengan orang tua kami, sehingga pemikiran dan cara pandang kamipun berbeda dengan orang tua kami. Namun seiriang dengan waktu, perjalanan hidup yang aku jalani, mulai dari keluarga, teman, lingkungan kerja, pergaulan dan pengatahuan yang aku serap sepanjang perjalanan itu membuat aku menjadikan aku memiliki pemikiran yang mix antara budaya barat dan timur. Ini merupakan sebuah langkah yang sedikit bertolak belakang dengan keluarga kami, namun aku merasa cukup beruntung karena orangtuaku cukup dapat menerima perbedaan pendapat diantara kami, sehingga perbedaan pandangan diantara kami seringkali dapat kami jembatani dan kami bisa menerima pemikiran satu sama lain secara damai. Terbiasa dengan kondisi ini aku sudah berada dalam zona nyaman.
Dan hal inilah yang ternyata menjadi satu permasalahan antara aku dengan kekasihku. Ketika aku mengenalnya, aku merasa dia cukup open-minded, tetapi semakin aku mengenalnya aku dapat memahami bahwa keluarganya memiliki tradisi dan cara hidup yang lebih kolot daripada keluargaku. Tak dapat dipungkiri hal ini tercermin pada diri kekasihku, dari bagaimana dia bersikap. Pemikiran aku tentang mengadaptasi budaya barat ke dalam budaya timur juga sudah cukup sering menjadi masalah buat aku dengannya, karena dia merasa aku terlalu banyak berkiblat pada budaya barat. Padahal kalau budaya itu tidak bisa mauk pada budaya timur kami, akupun tetap berpegang teguh pada budaya timur yang sudah aku kenal dari keluargaku semenjak masa kanak-kanakku.
Secara tersirat aku sebenarnya pernah mengungkapkan impianku untuk sebuah acara lamaran yang dipersiapkan oleh kekasihku hanya untuk kami berdua, sebelum dirinya meminta orangtuanya datang menemui keluargaku. Aku rasa hampir semua perempuan memiliki impian untuk memiliki peristiwa lamaran yang romantis untuk di kenang sepanjang hidupnya. Tetapi kekasihku sepertinya tidak menangkap apa yang kusampaikan padanya, karena hingga keluarganya datang menemui orangtuaku, dia tidak pernah memberikan ‘surprise’ itu untukku. Lucunya beberapa hari sesudah acara lamaran itu, kekasihku memandangi pemberian orangtuanya yang tidak kulepas lagi semenjak mamanya memasangkannya padaku, dan dia secara tersirat mengungkapkan keinginannya untuk memiliki benda pengikat antara aku dan dia yang kuberikan padanya, entah dia sadar atau tidak akan perkataannya itu, yang pasti hati kecilku menjerit, bahwa itu adalah impian yang sama yang pernah kuungkapkan padanya namun sepertinya hilang begitu saja ditelan bumi.
Jangan katakan aku kecewa, karena buat aku sulit menemukan kata yang tepat untuk menggambarkannya? Dalam beberapa hal aku merasa dia kurang ‘romantis’. Aku pernah membicarakan hal ini dengan dirinya dan dia merasa kecewa dengan perkataanku itu, karena buat dia ada beberapa hal yang sudah dia lakukan dan dia merasa hal itu romantis, sementara aku menilainya biasa saja. Walaupun mantan kekasihku (saat ini statusnya tunaganku) tidak dapat mewujudkan impian itu tidak terwujud bukan berarti hal ini mengurangi rasa kasihku padanya.
Friday, May 18, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment