Suatu hari aku merasakan perubahan sikap yang tidak biasanya dari kekasihku. Biasanya setiap aku melihat perubahan sikap dari kekasihku menjadi bete ataupun murung, aku dapat menenangkan dirinya, but not this time. I definitely cannot let myself to open her mind. Aku sama sekali melihat dirinya bukan dirinya saat itu. Apa yang aku bicarakan atau sampaikan dengannya, seakan tidak berarti. Sore harinya kami ikut misa, saat itu aku melihat pertama kalinya kami pergi misa dengan hati penuh kekecewaan. Pertama kalinya kami ikut misa dengan hati penuh kegalauan. Ketika selesai misa, aku menghantar kekasihku pulang, aku sempat untuk tidak berlama-lama dirumahnya dengan harapan aku dapat menenangkan diriku dirumahkui, saat itu pula aku kekasihku berkata bahwa orang tuanya hendak berbicara denganku. Pembicaraan yang kami lakukan dengan keluarganya seputar kemantapan kami dalam menjalin hubungan kami; lalu kami membicarakan masalah tempat tinggal kami. Pada saat kami melakukan pembicaraan tersebut, aku merasakan kekasihku mulai hangat kepadaku.
Selesai pembicaraan keluarga itu, aku merasakan bahwa aku sudah mendapatkan apa yang aku harapkan dari keluarga kekasihku. Tapi saat itu pula aku melihat kekasihku kembali dengan perubahan sikapnya yang tadi. Ketika kami tiba di gereja untuk suatu pertemuan, saat itulah aku melihat kekasihku yang benar-benar tertutup atas diriku. Apapun caraku untuk menenangkan dirinya, selalu dibalas dengan diam. Yang aku sesalkan saat itu adalah aku sempat melepaskan amarahku didalam rumah Tuhan dihadapan kekasihku untuk menunjukkan ketidakberdayaanku saat itu untuk membuka hati kekasihku. Aku coba berdoa didepan altar Tuhan untuk menenangkan diriku sendiri, tapi itu tetap tidak berhasil. Ketika kekasihku menghampiriku untuk menenangkanku, aku coba untuk tenang. Akhirnya kami terlibat dalam suatu pembicaraan mengenai perubahan sikapnya. Lalu kami keluar dari gereja setelah berdoa bersama. Salah satu ketakutanku mulai terlihat, dimana aku pernah merasakan bahwa suatu saat akan datang ketika aku tidak dapat mengatasi kekawatiran dan ketakutan kekasihku.
Sekembalinya kami kerumah masing-masing, kekasihku menelponku. Dalam pembicaraan kami ditelpon, aku mulai melihat bahwa hubungan kami sudah mulai membaik kembali. Kami mulai membicarakan mengenai hubungan kami, mengenai janji kami, mengenai True commitment kami yang kami gunakan sebagai landasan utama hubungan kami agar kami selalu ingat akan janji awal kami dalam menjalani hubungan kami.
Kekasihku, segala ketakutan dan segala kekawatiran yang ada dalam hubungan kita, adalah suatu awal dari rencana indah yang menanti kita. Aku hanya berharap bahwa kita dapat saling mengingatkan akan janji awal kita tentang Ikatan Sejati yang kuharap, akan selalu menjadi kunci dalam menyatukan hubungan kita yang dapat setiap saat diterpa badai. So many times and so many ways I didn't know just where to go. You gave me a sign and opened my eyes. That's the reason why I know that you are different, you're still here I guess you figured me out right then. Now I believe that we can make it through. So my love, whatever you feel, whoever you are, I love you just the way you are...... if you realy wanna make our dreams come true, please have faith.......



0 comments:
Post a Comment