Memasuki dua bulan berjalan usia hubungan kami, aku dan kekasihku mulai menemui konflik di antara kami….beberapa hari ini kami sering berselisih pendapat dan merasa berada pada posisi berseberangan.
Kalau orang bilang 1 tahun pertama masa pacaran adalah masa bulan madu dari masa pacaran itu sendiri, rasanya itu tidak terjadi pada kami. Hari-hari yang kami lewati memang baru 2 bulan berjalan dan sebentar lagi segera mendekati masa 3 bulan, tapi rasanya kami sudah berdampingan dalam waktu yang cukup lama. Jikalau ditanya berapa hari yang sudah kami lalui…mungkin bisa dihitung dari kumpulan Wishing Star yang setiap malam aku buat, yang aku gunakan untuk menandai hari-hari yang boleh aku lalui dengan kekasihku, walaupun tanpa tatap muka mungkin hanya tegur sapa lewat telepon saja.
Namun permasalahan yang kami hadapi…datang silih berganti, kami tidak mengeluh dengan adanya permasalahan-permasalahan ini, karena buat kami setiap permasalahan yang datang merupakan ujian atas hubungan kami yang akan membuat diri kami bertumbuh dan semakin dewasa dalam menjalani hubungan ini.
Hanya saja kejadian 2 hari terakhir ini yang sudah aku coba untuk lupakan ternyata masih menyisakan kegalauan di hatiku, aku telah berusaha menepis perasaan itu tetapi sulit bagiku untuk terbebas darinya dan tanpa kusadari hal ini mempengaruhi mood aku, sehingga beberapa kali aku dan kekasihku besinggungan kerena apa yang kusampaikan ditangkapnya secara berbeda demikian juga dengan dirinya. Aku merasa kami berdua jadi sangat sensitive, hal-hal kecil mungkin kedengarannya sepele bisa membuat kami kesal.
Bebagai hal yang berkaitan dengan rencana pernikahan kami, selain membuat diri kami sangat exciting juga memberikan beban, karena kami juga masih mesti mengadakan beberapa penyesuaian dengan pihak keluarga. Inilah sulitnya berdiri sebagai orang asia dengan adat ketimurannya, berbeda dengan keluarga western yang memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk menentukan sendiri rencana-rencana mereka.
Di satu sisi aku memang sangat western-minded tapi di sisi lain aku juga eastern-minded. Namun dalam hal moment sekali seumur hidupku rasanya ingin aku dan kekasihku bisa menentukan sendiri apa yang kami inginkan dan mewujudkan impian kami itu tanpa interupsi, namun bukan berarti aku tidak menghormati pendapat orang tua, adalah hal-hal dimana aku juga masih mau mengikuti kemauan orang tua kami.
Aku sempat membicarakan hal ini secara selewat dengan kekasihku, namun aku merasa pembicaraan kami seakan menggantung, Pembicaraan diakhir dengan sepotong kalimat “Nanti kita bicarakan.” Dan sikap cueknya membuat aku merasa segala sesuatu yang aku titipkan untuk dilakukannya menjadi hal-hal yang tidak penting. Aku bingung dengan sikapnya ini dan betanya-tanya “Apakah dia berubah pikiran?”
Pagi ini ketika kekasihku menghubungiku dan mengatakan bahwa dia merindukan diriku, kukatakan aku tidak merindukannya. Aku merasakan bahwa dia sempat tertegun dan berusaha untuk menggoda diriku dengan mengatakan bahwa aku berbohong dengan perasaanku sendiri. Aku tetap tidak mau menjelaskan perasaanku padanya. Aku menangkap kekecewaan pada nada suaranya saat dia menutup telepon, ingin rasanya aku bisa menghiburnya tapi entah kenapa seolah-olah hatiku beku. Perkataannya yang ringan dan mungkin hanya ditujukan untuk menggodaku…lebih banyak membuat aku terdiam. Kecewakah aku atas sikapnya sehingga aku jadi seperti ini? Harus kuakui jawabnya Ya! sama halnya dengan bohongkah aku dengan perasaanku yang sebenarnya? Jawabnya juga sama, aku tidak pernah tidak merindukannya. Semalam ketika aku terjaga dan menemukan adanya miss-called dan SMS darinya aku merasa sangat menyesal kehilangan waktu itu. Oh Tuhan….kenapa hatiku begitu galau? Dan sangat sulit bagiku untuk menyampaikan hal ini kepadanya karena aku takut…..membuatnya terluka.
Kalau orang bilang 1 tahun pertama masa pacaran adalah masa bulan madu dari masa pacaran itu sendiri, rasanya itu tidak terjadi pada kami. Hari-hari yang kami lewati memang baru 2 bulan berjalan dan sebentar lagi segera mendekati masa 3 bulan, tapi rasanya kami sudah berdampingan dalam waktu yang cukup lama. Jikalau ditanya berapa hari yang sudah kami lalui…mungkin bisa dihitung dari kumpulan Wishing Star yang setiap malam aku buat, yang aku gunakan untuk menandai hari-hari yang boleh aku lalui dengan kekasihku, walaupun tanpa tatap muka mungkin hanya tegur sapa lewat telepon saja.
Namun permasalahan yang kami hadapi…datang silih berganti, kami tidak mengeluh dengan adanya permasalahan-permasalahan ini, karena buat kami setiap permasalahan yang datang merupakan ujian atas hubungan kami yang akan membuat diri kami bertumbuh dan semakin dewasa dalam menjalani hubungan ini.
Hanya saja kejadian 2 hari terakhir ini yang sudah aku coba untuk lupakan ternyata masih menyisakan kegalauan di hatiku, aku telah berusaha menepis perasaan itu tetapi sulit bagiku untuk terbebas darinya dan tanpa kusadari hal ini mempengaruhi mood aku, sehingga beberapa kali aku dan kekasihku besinggungan kerena apa yang kusampaikan ditangkapnya secara berbeda demikian juga dengan dirinya. Aku merasa kami berdua jadi sangat sensitive, hal-hal kecil mungkin kedengarannya sepele bisa membuat kami kesal.
Bebagai hal yang berkaitan dengan rencana pernikahan kami, selain membuat diri kami sangat exciting juga memberikan beban, karena kami juga masih mesti mengadakan beberapa penyesuaian dengan pihak keluarga. Inilah sulitnya berdiri sebagai orang asia dengan adat ketimurannya, berbeda dengan keluarga western yang memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk menentukan sendiri rencana-rencana mereka.
Di satu sisi aku memang sangat western-minded tapi di sisi lain aku juga eastern-minded. Namun dalam hal moment sekali seumur hidupku rasanya ingin aku dan kekasihku bisa menentukan sendiri apa yang kami inginkan dan mewujudkan impian kami itu tanpa interupsi, namun bukan berarti aku tidak menghormati pendapat orang tua, adalah hal-hal dimana aku juga masih mau mengikuti kemauan orang tua kami.
Aku sempat membicarakan hal ini secara selewat dengan kekasihku, namun aku merasa pembicaraan kami seakan menggantung, Pembicaraan diakhir dengan sepotong kalimat “Nanti kita bicarakan.” Dan sikap cueknya membuat aku merasa segala sesuatu yang aku titipkan untuk dilakukannya menjadi hal-hal yang tidak penting. Aku bingung dengan sikapnya ini dan betanya-tanya “Apakah dia berubah pikiran?”
Pagi ini ketika kekasihku menghubungiku dan mengatakan bahwa dia merindukan diriku, kukatakan aku tidak merindukannya. Aku merasakan bahwa dia sempat tertegun dan berusaha untuk menggoda diriku dengan mengatakan bahwa aku berbohong dengan perasaanku sendiri. Aku tetap tidak mau menjelaskan perasaanku padanya. Aku menangkap kekecewaan pada nada suaranya saat dia menutup telepon, ingin rasanya aku bisa menghiburnya tapi entah kenapa seolah-olah hatiku beku. Perkataannya yang ringan dan mungkin hanya ditujukan untuk menggodaku…lebih banyak membuat aku terdiam. Kecewakah aku atas sikapnya sehingga aku jadi seperti ini? Harus kuakui jawabnya Ya! sama halnya dengan bohongkah aku dengan perasaanku yang sebenarnya? Jawabnya juga sama, aku tidak pernah tidak merindukannya. Semalam ketika aku terjaga dan menemukan adanya miss-called dan SMS darinya aku merasa sangat menyesal kehilangan waktu itu. Oh Tuhan….kenapa hatiku begitu galau? Dan sangat sulit bagiku untuk menyampaikan hal ini kepadanya karena aku takut…..membuatnya terluka.



0 comments:
Post a Comment