Sunday, February 25, 2007

Storm Problems

Sudah satu bulan lebih dari postingku yang terakhir dan sejak itu aku bergumul dengan perasaanku dan permasalahanku, biasanya aku berusaha membagi beban pikiranku pada kekasihku melalui postingku disini, tapi kali ini aku lebih memilih untuk diam dan tidak menuliskan satupun dari masalahku disini.

Hari ini tepat 4 bulan perjalanan perkenalan aku dengan kekasihku dalam koridor hubungan yang serius. Kami tidak punya rencana besar apapun untuk hari ini, yang kami inginkan hanya waktu untuk bersama, dimana kami bisa bersama tanpa harus memikirkan hal-hal lain diluar diri kami. Mungkin kedengaran egois, tapi kami membutuhkan waktu itu, setelah rangkaian Storm Problems yang boleh kami alami beberapa waktu yang lalu.

Dalam kurun waktu satu bulan terakhir ini, sudah banyak permasalahan yang datang menghampiri hubungan kami berdua, dan kami berdua berhasil mengatasi pemasalahan-permasalahan itu, walaupun dalam perjalanan menghadapi permasalahan yang ada, tidak bisa kami pungkiri bahwa aku dan kekasihku terluka. Terutama ketika kami akhirnya kami berdua berselisih paham satu sama lain. Aku secara pribadi menyadari bahwa aku memiliki andil cukup besar dalam memperumit perselisihan yang ada diantara kami. Entah kenapa aku menjadi orang yang sangat sulit untuk diajak bernegosiasi dan berbicara secara terbuka. Mood aku secara mudah berubah up and down, aku jadi cenderung lebih sensitif dan mudah terpicu untuk jadi bad mood.

Tak jarang kekasihku harus menghadapi perubahan sikapku yang sangat cepat ini, sebentar senang dan sebentar lagi BT. Anehnya perubahan sikap ini tidak memandang topik pembicaraan yang sedang kami bicarakan, baik itu pembicaaan ringan maupun berat selalu saja berakhir dengan output yang sama, yaitu kami terlibat dalam debat masalah yang mengesalkan.

Biasanya ketika perselisihan mulai timbul, nada bicara kami mulai meninggi, sehingga kami salah mengartikan perkataan yang hendak disampaikan pasangan kami. Maksudnya baik, tapi nada tinggi itu menyebabkan kami merasa bahwa lawan bicara kami sedang marah. Dan akhirnya biasanya aku jadi kesal, dan semakin tinggi nada bicara kekasihku, maka emosiku semakin mendaki puncaknya, hingga akhirnya aku memutuskan untuk diam seribu bahasa.

Saat aku mulai diam, kekasihku baru mulai menyadai perubahan sikapku. Dia pun terdiam dan secara perlahan-lahan dia mulai mengajak aku berkomunikasi, sayangnya sering kali ketika sikapnya mulai melembut, hatiku sudah mengeras. Aku merasa kecewa terhadapnya, aku menterjemahkan sikapnya itu sebagai marah dan tidak sejalan dengan aku. Jika sudah begini situasinya, kekasihku merasa aku sedang membangun tembok pemisah diantara kami berdua.
Semakin dia mempersalahkan diriku, semakin terkunci rapat mulut ini untuk bicara. Aku semakin mengalami kesulitan besar untuk menyampaikan perasaan marahku dan hal-hal yang menganggu pikiranku, sehingga kekasihku berusaha untuk menterjemahkan sendiri sikapku ini.

Dengan kesabarannya kekasihku terus mengajak aku berkomunikasi, walaupun aku terus diam, aku terus mendengarkan setiap patah kata yang diucapkannya. Semarah apapun aku pada dirinya, aku berusaha untuk tidak membantah perkataannya. Aku sendiri berperang dengan perasaanku, aku sangat ingin mengkomunikasikan pada kekasihku apa yang mengganggu pikiranku ini, tapi aku tidak bisa. Aku ingin mengakhiri perselisihan diantara kami, tapi lidah ini terasa kelu dan sulit untuk diajak bekerjasama. Untungnya perang batin itu akhirnya bisa aku menangkan dan aku mulai mencoba untuk berkomunikasi dengan kekasihku, walaupun dengan potongan-potongan kalimat yang jedanya cukup jauh antara satu kalimat dengan kalimat lainnya. Dan sekali lagi dengan telaten kekasihku merangkum potongan-potongan kalimat yang aku ucapkan itu sehingga dia mengerti apa yang aku ingin sampaikan.

Dalam banyak peristiwa kekasihku kembali mengingatkan aku bahwa, aku harus terus berusaha untuk mengkomunikasikan isi hati dan pikiranku kepadanya, sehingga dia tidak harus bingung dengan perubahan sikapku, dan dia juga kembali mengingatkan bahwa all my fears have to be fight with the faith.....dan kembali dia mengingatkan tentang True Commitment yang sudah kami bangun sebagai landasan dari hubungan kami selama ini.

Aku sangat mengagumi kebesaran jiwa kekasihku untuk tidak saling menyalahkan satu sama lain. Dia tidak menganggap bahwa dia benar dan aku salah, begitu juga sebaliknya. Buat dia masalah ini merupakan badai yang harus kami hadapi bersama, oleh karenanya ketika aku down dia merasa harus menarik aku agar tidak jatuh terperosok semakin dalam. Ada sebuah perumpamaan yang dia sampaikan padaku, yaitu kami berdua berada di tengah lautan dengan sebatang kayu gelondongan untuk kami berpegang, kemudian badai menghampiri kami dan aku terlepas dari kayu itu, dia mau menolong aku untuk kembali berpegang pada kayu gelodongan itu tapi untuk itu tidak cukup dengan usahanya saja, aku juga harus memiliki keinginan untuk kembali. Kayu gelodongan itu dia gambarkan sebagai true commitment yang melandasi hubungan kami, sementara badai merupakan fears atau storm problems yang mesti kami hadapi dan keinginan untuk kembali adalah faith atas hubungan yang kami miliki.

Dear my love no matter how hard the storm that come and try to distract our relationship, I have the same opinion with you and you are precisely right that when we're facing the storm, we always have fears that we have to fight with the faith based on our True Commitment.
I love you just the way you are and I’m very pleased of you, thanks for the faith that you have for me; especially you desire to rest all of your life with me and to love me with your ways.

0 comments: