Hari ini hubunganku dengan kekasihku genap berusia satu bulan. Usia satu bulan biasanya merupakan usia penting untuk baby yang baru saja dilahirkan, sebuah awal dan harapan hal-hal baik akan menyertai anak tersebut dikemudian hari. Demikian juga dengan hubungan aku dengan kekasihku.....kami memiliki harapan besar bahwa hubungan kami akan berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi, sebuah persatuan kasih dalam ikatan suci pernikahan di altar gereja, yang merupakan awal dan landasan keluarga beriman, segitiga Kasih antara Tuhan, Suami dan Istri.
Hubungan kami jikalau dihitung dengan jumlah bulan ataupun hari yang boleh kami lewati bersama, rasanya memang terbilang masih sangat muda. Orang mungkin bisa menilai belum juga seumur jagung, pastilah saat ini masih sedang menikmati bagian-bagian indah dari hubungan tersebut. Belum menemukan permasalahan yang berarti dan belum ada bahan-bahan pertengkaran. Kami tidak terlalu mau mempedulikan kata-kata atupun pandangan orang lain atas hubungan kami, kami tahu bahwa usia hubungan kami baru satu bulan, tapi kami sudah melewati banyak hal yang kami bagi bersama dan rasanya hubungan ini sudah kami jalanin dalam rentan waktu yang cukup lama. Aku merasa begitu mengenal dirinya, demikian pula dengan apa yang dia rasakan padaku. Sehingga kami berdua berani untuk memberikan komitment penuh pada hubungan yang kami jalani ini. Ada kemantapan di hati kami berdua yang tidak dapat kami jabarkan atau tuangkan dalam kata-kata, cukup kami berdua yang merasakan di dalam hati kami masing-masing.
Kami tidak memiliki rencana untuk memperingati satu bulan ini, tapi mungkin Tuhan memiliki rencana lain, karena jauh sebelum aku menetapkan hati untuk menjalani hubungan dengan kekasihku ini, kami sekeluarga telah sepakat untuk memperingati satu tahun meninggalnya oma kami terkasih pada tanggal 25 November 2006. Dan hari ini begitu bertepatan antara peringatan satu tahun oma dengan perjalanan kasih kami yang sudah kami jalani selama satu bulan. Yang membuat aku sangat terkesan adalah kekasihku mau terlibat secara mendalam dalam persiapan acara peringatan satu tahun meninggalnya oma ini. Aku jadi memiliki banyak waktu untuk berbagi dengannya. Dia katakan bagilah bebanmu kepadaku, aku akan membantu meringankan bebanmu. Dan hal itu bukan hanya perkataan semata, tapi disertainya dengan tindakan. Beberapa hari sebelum hari H, aku menyampaikan segala hal yang belum selesai kami persiapkan dan mulai dari situ dia memikirkan cara terbaik untuk membantu aku.
Tahun pertamanya sendiri seharusnya jatuh pada hari Senin, 20 November 2006. Pada hari itu kami masih melakukan tradisi keluarga kami memanjatkan doa-doa kepada Ema dengan tata cara keluarga yang sudah kami warisi secara turun termurun.
Hari senin 20/11/2006 itu aku datang ke kantor dengan membawa laptop kakakku agar pada waktu istirahat makan siang aku dapat memperbaiki teks Misa yang harus kami persiapkan untuk Misa hari sabtunya. Dan siang itu aku sudah berhasil memperbaiki sebagian besar dari teks Misa itu.
Ada berbagai perasaan yang sangat mengganggu aku pada hari itu, bukan karena pekerjaanku yang masih sangat banyak, tapi karena aku terkenang dengan memori yang aku miliki bersama dengan Ema. Hari itu akhirnya aku kirimkan SMS pada kekasihku, kukatakan padanya bahwa aku ingin bertemu dengannya. Sekembalinya dari kantor aku mampir di kantornya, kami hanya terlibat dalam pembicaraan ringan saja. Hingga akhirnya aku membuka file teks Misa, peringatan 100 Hari Ema.
Aku katakan pada kekasihku ini prihal Inspiring Story yang pernah dibacanya di Blog pribadiku, aku bilang mungkin tidak cukup berarti bagi orang lain, tapi sangat berarti buat aku. Aku kemudian mengatakan bahwa pada teks misa peringatan 100 Hari Ema itu sangat jelas kami menuliskan sesuatu yang membuat cerita itu jadi lebih bermakna. Aku kemudian membacakan tulisan yang pernah aku dan sepupuku susun disana, tanpa sadar mataku mulai berkaca-kaca dan suaraku mulai parau… kekasihku menangkap perubahan sikapku dan dia kemudian memutar kursi tempat aku duduk dan menemukan diriku sedang menangis. Direngkuhnya tubuhku dan dibiarkannya aku menangis di pundaknya dalam pelukannya. Aku merasa aman dengannya sebagian bebanku terangkat setelah aku menangis dalam pelukannya.
Jikalau dalam doa-doa yang aku panjatkan kepada Tuhan, sebelum aku bertemu dengannya aku seringkali melantunkan litani doa dari Prayer for Lifetime Partner. Pada dirinyalah kutemukan 'seseorang' yang kudoakan untuk menjadi 'sahabat dan penolong' dalam hidupku.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment