Semalam kami mengikuti kejuaraan Youth antar gereja yang kemudian diakhiri dengan Misa kudus. Pengumuman pemenang dari rangkaian perlombaan yang ada diumumkan di dalam misa pada rangkaian pengumuman. Luapan kegembiraan setiap peserta yang berhasil memenangkan setiap perlombaan terdengar sangat keras memecah keheningan ruang gereja, hingga sepertinya kita sudah tidak berada dalam rangkaian liturgis lagi dan setiap orang sepertinya sudah lupa dimana mereka berada dan dalam kegiatan seperti apa yang saat itu sedang dilakukan.
Mungkin cukup wajar apabila semua orang lupa akan segalanya, karena terlalu bergembira dan berbahagia, namun pikiran itu tidak dapat mempengaruhi diriku yang melihat tingkah pola pasanganku dengan teman-temannya yang juga terbawa suasana. Aku tidak menegurnya saat itu namun hati kecilku merasa sebal dan kecewa, atas tingkah pola yang dilakukannya.
Sepulang dari acara itu, akupun berkata bahwa ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadanya. Dia terdiam saat mendengar perkataanku dan aku juga butuh waktu untuk menenangkan diri dan mulai menyampaikan kekecewaanku atas tingkah pola dia yang tidak aku sukai. Dia diam, dan kemudian mencoba menyampaikan argumennya, aku tidak banyak berbicara. Kami kemudian terdiam dan aku katakan padanya, sesuai dengan kesepakatan diantara kita bahwa kita harus saling terbuka “Speak your Mind!” dan hal itulah yang yang aku lakukan.
Kamipun kemudian berpisah, dia masih menghabiskan malam itu dengan teman-temannya, sementara aku pulang ke rumah. Aku merasa lega karena aku sudah menyampaikan kekecewaanku kepadanya, walaupun aku merasa tidak cukup yakin kalau dia memperhatikan kekecewaanku, ditambah lagi dia masih berkumpul dengan teman-temannya malam itu, rasanya sangat tidak mungkin dia sempat memikirkan perkataanku.
Saat aku memiliki pikiran itu, tiba-tiba dia mengirimkan SMS kepadaku yang intinya adalah dia minta maaf karena dia lost control dan menyebabkan aku mengalami kekecewaan. Dia berharap bahwa itu tidak mempengaruhi perasaan aku, dia merasa kecewa terhadap dirinya sendiri dan dia berterima kasih atas kejujuranku dan mau membaginya dengan dirinya. Aku tidak menjawab SMS-nya karena perasaan kesalku belum sepenuhnya hilang, kubiarkan smsnya sampai dia mengirimkan SMS lagi karena menanyakan SMS nya dan mengapa belum aku jawab. Aku katakan nanti aku akan menjawabnya.
Sepulang dari berkumpul dengan teman-temannya dia menghubungi aku lewat telepon, suasana hatiku sudah tenang, aku sudah tidak kesal ataupun sebal lagi. Kamipun mulai berkomunikasi, walaupun kami tidak saling melihat namun kami berusaha untuk meluruskan masalah yang ada sebelum kami beristirahat, dan kamipun berhasil mengatasi masalah tersebut. Aku dan dia memahami betapa berartinya keterbukaan di dalam membangun sebuah relasi.
Sunday, November 19, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment