Saturday, November 18, 2006

Ulang Tahun Kekasihku

Jumat, 10 November 2006 adalah hari ulang tahun kekasihku, sekaligus hari yang sangat berharga untuk kami, sebab ini adalah moment penting pertama yang boleh kami rayakan bersama.

Aku sangat memahami bagaimana dia menantikan hari besarnya ini, sebab beberapa hari yang lalu dia mengungkapkannya kepadaku bahwa hari Jumat rasanya masih lama sekali hanya untuk mencicipi masakan yang aku buat sendiri.

Dia sudah membuat aku terharu semenjak seminggu yang lalu saat dia katakan bahwa dia tidak mengharapkan kado apapun dari aku, yang dia inginkan adalah dapat makan masakan aku bukan hasil karya orang lain. Jadi kado yang dia minta adalah masakan aku yang harus dibuatkan untuk dia di hari istimewanya. Hal ini sebenarnya membuat aku bingung mengingat memasak merupakan salah satu hobiku tapi aku juga bukan seorang koki yang handal, karena masakanku pada umumnya berasal dari resep turun temurun yang aku peroleh sebagai warisan dari nenek dan ibuku. Aku memang bisa membuat beberapa menu istimewa yang baik nenek maupun Ibuku tidak bisa membuatnya, tapi tetap saja hal ini membuat aku bingung saat menentukan menu apa yang paling tepat untuk disajikan.

Adik-adik kami di gereja, memberikan perhatian besar akan hari besar kekasihku ini, maklumlah kekasihku ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan mereka, aku melihat dirinya memiliki KASIH yang besar terhadap adik-adik kami ini dari bentuk-bentuk perhatian dan waktu yang dibaginya dengan adik-adik ini.

Adik-adik kami ini kemudian menghubungi aku dan menawarkan untuk membuat moment itu menjadi sebuah kenangan yang tidak terlupakan. Mereka melontarkan ide untuk membuatkan kami candle light dinner di alam terbuka di lantai 3 sebuah gedung di komplek rumah tinggal kami. Aku menyambut ide mereka itu secara antusias, karena kebetulan aku sendiri sedang mencari cara agar kami berdua dapat merasakan masakanku dalam suasana yang berbeda.

Adik-adik kami mulai menyampaikan konsep yang mereka buat, kemudian aku memberikan sedikit arahan perubahan-perubahan ataupun tambahan sesuai dengan keinginanku. Hingga H minus 3 semua persiapan sudah cukup matang tinggal mereka mempersiapkan semuanya pada hari Kamis dan hari Jumat aku harus bermain sandiwara seolah-olah aku tidak dapat berbagi moment ini dengannya. Aku tau dia pasti kecewa, tapi itulah konsep yang aku dan adik-adik kami persiapkan, adik-adik akan mengajak dia ke meeting point untuk candle light dinner itu and surprise…. surprise I'm waiting for him there.

Hari itu akupun mempersiapkan menu makan malam yang akan disajikan, tapi perasaaan hatiku galau, akupun mengirimkan SMS kepada salah satu adik-adik kami, kukatakan bahwa aku merasa tidak tenang. Adikku bilang jangan terbawa emosi.

Detik-detik persiapan akhir aku sudah bersiap di tempat itu, sempat terlontar dari mulutku bahwa aku khawatir dia tidak datang, detik-detik terakhir itu membuat suasana hatiku semakin tidak menentu, apalagi ditambah dengan adanya kendala-kendala kecil yang kita hadapi.

Akhirnya dia datang, dan kamipun mulai menjalankan ‘aksi’ yang sebelumnya sudah kami persiapkan. Ketika dia datang, aku malahan yang merasa memperoleh surprise darinya, karena aku sudah bersiap untuk kemungkinan yang terburuk namun dia datang dengan kejutan istimewa.

Candle light dinner pun segera dimulai, hingga kejutan-kejutan lainnya datang satu persatu menghampirinya. Pada saat kutanyakan, “Do you like it?” Dia menjawab, “ I don’t like it, but I love it.” Aku sangat terharu dibuatnya….pada saat kami berbagi moment itu, dia mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah tau bahwa aku mempersiapkan sesuatu untuknya, namun setting acara, menu dan segala sesuatunya tetap menjadi surprise untuk dirinya. Katanya ini merupakan ulang tahun terindah yang pernah dia miliki selama ini. Aku sangat senang dengan ungkapan kebahagiaannya, karena aku bisa menjadi bagian didalam kebahagiannya.

0 comments: