Semalam boleh dibilang aku tidak terlalu bisa tidur, pikiranku melayang entah memikirkan apa...rasanya terlalu banyak yang aku pikirkan. Menjelang jam 1 pagi aku menerima SMS terakhir dari kekasihku yang mengatakan bahwa dia merasa aku berbeda. Dalam percakapan malam itu aku memang lebih banyak diam...aku tahu kalau aku berbeda, tapi aku tidak ingin membicarakanya. Sebetulnya aku juga tau kalau kekasihku pasti merasa ada yang berbeda dengan diriku, tapi aku juga bersikap tertutup dan tidak mau membagi dengan dirinya.
Aku tahu dia sangat memperhatikan diriku...lebih dari sekedar memperhatikan tetapi cintanya sangat mendalam dan tulus, tapi entah kenapa malam kemarin aku sama sekali tidak ingin bicara. Apapun perkataan yang keluar dari mulutku rasanya seperti sebilah pedang. Semalam salah satu perkataanku membuat kekasihku terluka dan dia merasa bahwa aku menyesal telah menjalin hubungan dengan dirinya. Ketika dia kemukakan hal itu kepada aku, aku semakin diam, aku tidak bermaksud melukai hatinya, aku justru merasa tidak layak menjalin True Commitement ini dengannya, dia terlalu baik, sementara aku terlalu 'bemasalah'. Meskipun aku tau bahwa ketika kami berdua berkomitment dalam menjalin hubungan ini, dia sudah berani mengambil resiko untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan aku, tapi perasaan tidak layak ini tidak dapat aku singkirkan.
Sebenarnya ada masalah apa semalam? Aku juga jadi betanya2 dengan kondisi ini. Apa yah? Semalam kekasihku pergi dengan adik-adiknya untuk makan di salah satu tempat makan yang saat burgernya sangat terkenal saat ini...dia sampaikan hal itu kepadaku...marah karena itu? rasanya bukan...karena buat kami keterbukaan sangat penting. Dia dan aku telah memberikan kebebasan pada diri kami masing-masing untuk memiliki waktu bersama teman-teman main kami sendiri-sendiri. Aku rasa bukan hal yang buruk membangun relasi dengan orang lain, ada kalanya kita butuh waktu untuk bersosialiasi dengan teman-teman kita tanpa pasangan kita. Yang terpenting pasangan kita tahu...kemana dan dengan siapa pasangan kita pergi.
Jadi sebenarnya marah karena apa? Marah? Mungkin tidak bisa dikatakan demikian tapi lebih bahwa aku merasa kesal. Kekesalanku atas kondisi hubungan kami saat ini. Hubungan kami sebenarnya sudah diketahui umum tapi kami tidak bisa mengekspresikan diri kami dan rasa sayang kami apa adanya di depan umum, kami juga bukan orang gila yang tidak mengerti tata krama, sehingga tidak tahu bagaimana kami harus menempatkan diri. Kekesalanku semakin memuncak, ketika malam itu kekasihku berkata bahwa diusia kami yang saat ini sudah menepaki kepala 3, kami harus berpacaran seperti anak kemarin sore, yang setiap gerak gerik kami sangat diperhatikan. Aku tersentak dengan perkataan dia, aku pikir dia menyesali hubungan aku...lalu keluarlah kata-kata dari mulutku yang ternyata berbalik malah melukai dia. Dia justru berpikir sebaliknya bahwa aku yang menyesal telah menjalin hubungan dengan dirinya. Aku jadi semakin diam dan tidak bisa berkata apa-apa. Malam itu akhirnya kami mengakhiri pembicaraan kami dengan sejuta kekesalan yang ada di hati kami masing-masing.
Kekasihku, tidak ada yang dapat kukatakan kepadamu selain maafkanlah sikapku.
Tuesday, December 05, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment