Ketika waktu untuk bertemu diantara aku dan kekasihku terasa tak pernah cukup, tidak jarang aku melontarkan kata "Marry me!" kepada kekasihku yang biasanya disambutnya dengan senyuman. Mungkin kata-kataku ini kedengaran sangat agresif, karena kekasihku belum meminang aku tapi aku mengajukan diri untuk minta dinikahi.
Walaupun sebenarnya rencana pernikahan sudah sempat kami dengungkan satu sama lain, tapi semuanya masih sebatas keinginan untuk menjalani kehidupan kami bersama dalam ikatan pernikahan. Masih banyak yang mesti kami jembatani dan yang terpenting adalah keluarga. Tanpa restu dari keluarga kami tidak akan maju selangkahpun hubungan kami akan berjalan di tempat.
Untuk kami yang berasal dari daratan asia, pernikahan antara dua individu merupakan pernikahan pula antar dua keluarga, jadi kalau kita menyukai seorang pria/wanita maka kita harus bisa menerima seluruh anggota keluarganya berserta tata cara atau adat istiadat yang dianut oleh keluarga kedua belah pihak. Begitu pula dengan yang terjadi dalam hubunganku dengan kekasihku.
Hari ini entah kenapa aku memberanikan diri untuk mengatakan kepada kekasihku prihal rencana pernikahan kami. Dimana sebelumnya kekasihku memutuskan untuk membicarakan rencana pernikahan ini lebih lanjut apabila sudah ada pertemuan antara keluarga dia dan keluarga aku. Namun aku merasa bahwa perencanaan pernikahan seharusnya tetap dapat berjalan selama kami menunggu waktu pertemuan antar kedua keluarga. Sehingga semua persiapan dapat dilakukan tanpa terburu-buru. Rasanya sayang melewatkan waktu begitu saja tanpa melakukan apa-apa. Tapi aku merasa hingga pembicaraan kami berakhir kami belum menemukan kata sepakat.
Malam ini aku tak sengaja menonton sebuah sinetron natal, tidak penting apa isi ceritanya tetapi yang terpenting adalah garis merah dari cerita itu, perihal penerimaan, kepasrahan dan kepercayaan. Dan bahwa setiap tarikan nafas yang boleh kita jalani dalam hidup kita ini sangatlah berarti, jadi kita mesti bisa memanfaatkan waktu yang ada itu secara bijak. Tak urung aku menangis menyaksikan sinetron itu, mengingat beberapa tahun yang lalu aku pernah mengalami perasaan dimana hidupku tidak akan lama lagi, entah kenapa perasaan itu hinggap didiriku...aku punya ketakutan besar bahwa aku belum sempat membahagiakan orang-orang yang aku kasihi. Aku cuma bisa berkata pada diriku sendiri bahwa waktuku tidaklah banyak. Seolah mama juga merasakan hal itu, sering dia mengingatkan diriku atas kebiasaan hidupku yang kurang baik, terlambat makan, mandi malam dan tidur dini hari. Sempat mama berkata bahwa aku kurang sayang diriku sendiri, katanya "percuma mencari pendidikan dan karir setinggi langit kalau sebelum semuanya bisa aku nikmati dan syukuri, aku sudah harus berpulang ke Rumah Bapa".
Hari ini ketika aku pulang terlambat, mama berkali-kali menghubungi diriku lewat HP karena khawatir....dia khawatir aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik. Aku tau kekhawatiran yang hinggap di hati mama, terlebih dengan berita duka yang boleh dia dengar yang dihadapi oleh keluarga teman kecilku di kota tempat aku dibesarkan. Anak mereka adalah perempuan dan dia adalah teman mainku semasa SD dan SMP. Semenjak aku meninggalkan kota tempat aku dibesarkan, kami jarang berhubungan satu sama lain, ditambah lagi kemudian dia juga melanjutkan sekolahnya ke kota lain. Beberapa tahun yang lalu dia menikah dan saat ini telah di karuniai 2 orang anak, yang pertama belum genap 2 tahun dan yang kedua baru berusia 7 bulan ketika dia dinyatakan mengidap lukemia dan sudah tidak dapat tertolong lagi hingga akhirnya meninggal dunia pertengahan minggu yang lalu.
Aku tau mama takut kehilangan diriku....sebesar ketakutan aku tidak sempat membahagiakan orang-orang yang aku kasihi. Ditambah lagi kehadiran kekasihku dalam hidupku akhir-akhir ini, aku merasa sangat sangat takut kehilangan.....Kehilangan dirinya bukan karena aku meragukan cinta dan commitmentnya terhadap diriku tapi aku takut kalau diriku tidak punya cukup waktu untuk kubagi dengannya...entah kenapa perasaan itu hinggap lagi dalam diriku dan aku tidak bisa menyampaikan hal ini kepada kekasihku. Buat aku mengenal diri kekasihku memberikan harapan besar bagi diriku untuk dapat merajut masa depan dengannya, membagi hidup kami, saling menguatkan dan mendukung satu sama lain.
Kalau Chairil Anwar pernah menulis " Aku mau hidup 1000 tahun lagi!"
Ingin kuteriakkan kalimat yang sama bahwa aku mau hidup "1000 tahun lagi" sampai Tuhan memisahkan aku dengan dirinya.
Thursday, December 14, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment