Tuesday, December 05, 2006

Hopes and Prayers

Awal dari hubunganku dengan kekasihku, kami berdua sepakat untuk membuat sebuah Commitment antara kami berdua, dimana kami harus saling berbagi, jujur, terbuka dan setia.
Selama ini aku sudah merasakan telah dapat menerapkan commitment yang telah kami sepakati dalam hubungan kami. Beberapa kali kami pernah tersandung berbagai permasalahan yang sempat membuat kami tertutup, tapi pada akhirnya kami berhasil untuk menutup segala sandungan yang kami hadapi dengan segala keterbukaan kami........hingga tadi malam.

Kemarin pagi hingga sore hari kami masih telpon-telponan dan smsan, betapa kami saling merindukan satu sama lain. Suatu moment yang sangat membahagiakanku. Malam itu kekasihku hendak pergi latihan koor, sedangkan aku harus membicarakan sesuatu hal dengan salah satu adikku. Saat itu aku berpikir, aku rela untuk sekedar melihat wajah kekasihku, walaupun cuma dalam hitungan menitpun. Sekedar untuk melepaskan rasa rinduku. Aku sempat memperhatikan dari kejauhan saat kekasihku masih latihan koor, aku sangat senang...... aku sangat menyayangi dia. Saat itu adikku mengajakku untuk ke satu tempat makan di daerah Casablanca. Kalau saat itu aku mempunyai janji dengan kekasihku untuk menghabiskan waktu bersama, mungkin aku tidak akan ikut dengan adik-adikku untuk makan. Tetapi aku sadar, aku tidak akan bisa bertemu lama dengannya, makanya aku langsung menerima ajakan adik-adikku. Setelah latihan koor selesai, aku menyempatkan diri berbicara dengannya. Aku sadar hal yang aku bicarakan dengannya sebenarnya tidak terlalu harus dibicarakan saat itu, tapi aku hanya ingin dekat dengannya, menghirup wangi tubuhnya dan melepaskan sedikit kangenku. Setelah itu kekasihku harus pulang, dan aku masuk kedalam gereja untuk berdoa di Gua Maria. Disana aku berdoa dan berjanji untuk memberikan segala daya dan usahaku untuk kekasihku, untuk kelanggengan hubunganku tanpa batas waktu, untuk segala permasalahan yang kami hadapi.

Setelah aku dan adik-adikku pulang, aku langsung menelpon kekasihku. Saat pertama, aku tidak merasakan apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaranya. Ketika kami sampai pada pembicaraan mengenai hubungan kami, aku langsung bisa merasakan suatu perubahan yang terjadi pada dirinya, walaupun saat itu dia tidak mengakuinya, tapi aku merasakannya. Hingga kami menutup telpon kami, aku masih kesal dengan kejadian saat itu.

Pagi harinya, aku berharap dia mengirimkan sms...seperti yang biasanya dia lakukan, menanyakan kabarku, menanyakan sarapanku, tapi saat itu aku tidak melihat satu smspun. Lalu aku telp kekasihku pagi ini mengenai perubahan sikap dia, dan dia mengakuinya. Jujur, aku sempat kesal kenapa hal itu harus dibiarkan berlarut-larut dan dibiarkan menggantung. Aku mengingatkan kembali bahwa pada saat kami mengikatkan diri pada commitment kami, kami sepakat untuk tidak membiarkan suatu masalah berlarut-larut, dan harus diselesaikan saat itu juga. Lalu dia mulai membicarakan masalah yang dia hadapi. Aku sempat kecewa dengan posting kekasihku ketika kubaca pagi ini.

Kekasihku, aku tidak menyesali dan tidak akan pernah sekalipun terlintas dibenakku untuk menyesali hubungan yang kita jalani selama ini. Aku selalu menerima segala cobaan yang ada dengan hati terbuka, selama kau selalu berada disampingku untuk membantu aku dalam menghadapi semuanya. Aku selalu berpegang teguh pada True Commitment yang sudah kita janjikan bersama. Kamu ingat kan? Aku sudah beberapa kali mengatakan bahwa, semua permasalahan dan segala sandungan yang kita hadapi saat ini, yaitu sebagai pendewasaan kita sebagai pasangan. Bagaimana kita diuji untuk saling terbuka dalam komunikasi, bagaimana usaha kita berdua untuk menghadapi segala badai yang menggoyangkan perahu kita, bagaimana kita tetap berpegang teguh atas segala ikatan kesetiaan yang pernah kita doakan bersama, dan bagaimana kita ditantang untuk dapat survive dan bangkit dari segala cobaan.

Saat ini aku hanya ingin kita mengucapkan kembali True Commitment kita, untuk mengingatkan kita betapa berharganya suatu hubungan yang disatukan dalam satu ikatan bersama. Untuk mengingatkan betapa pentingnya suatu keterbukaan dan komunikasi dalam suatu hubungan yang dilandaskan dalam satu ikatan bersama. Saat ini kita berdua berada dalam satu perahu ditengah badai yang melanda. Aku yakin selama kita tetap berjalan dan menghadapinya bersama, tidak akan ada yang dapat membalikan perahu kita. Itu yang selalu aku bawa dalam tiap doaku.

Kekasihku, aku juga minta maaf kalau aku menyinggungmu semalam, kalau aku membuat perasaanmu galau.

For you are the one God sent from above. The angel I needed For whom I do love.

0 comments: